Banjir dan Longsor di Sumut
Rumah Hanyut, dan Harus Terjang Banjir Selama 2 Jam Untuk Bawa Bayinya yang Sekarat ke RS
Pilu Mistera selamatkan bayi dari banjir di Tapteng, saat balik ke rumah sudah hancur dan butuh popok.
Penulis: Anisa Rahmadani | Editor: Tria Rizki
Akhirnya di Siang harinya ia bersama suami memmutuskan menerjang banjir dari desanya ke Pandan untuk bawa anaknya ke rumah sakit selama 2 jam.
"kami larikan lah ke rumah sakit dari sinilah kami jalan sampai ke Pandan jalan kaki masih banjir. Aku udah mau nyerah tapi biar selamat anakku ini kami terjang banjir selama dua jam. Melewati kayu-kayu besar, bapaknya gendong anakku ini," ujarnya.
Setibanya di Pandan, ke rumah sakitlah dia, namun ia sempat khawatir tidak bisa berobat karena tidak ada identitas.
"Sampai di rumah sakit dengan pakaian kami lumpur banjir semua saya bilanglah kami korban banjir di Hutanabolon, akhirnya ditanganilah anakku ini. Tapi kata rumah sakit gak usah dirawat bayinya. Cuman dikasih obat. Kareja katanya enggak parah anakku ini. Makanya bisa selamat sampai hari ini. Kalau kami bertahan di sana mungkin anakku udah apalah itu,"ucapnya sambil menahan tangis.
Namun setelah berobat, yang dipikirkannya adalah pampers anaknya. Sebab, pampers yang ia bawa kemarin sudah habis.
"Kalau baju adalah 6 pasang msih sempat kami ambil. Karena anak kecil lebih penting. Pampers masih ada sisa anakku kami simpan di box itu tp cuman dua hr itu bertahan. Selesai dari rumah sakit kami lihatlah ada orang bawa pampers dari Gor itu.
" Kami mau belu pun enggak ada warung yang buka hari kedua setelah banjir. Selain itu ada penjarahan dimana-mana. Akhirnya ke gor lah kami minta pampers. Itu juga dijatah 4 pampers satu bayi," jelasnya.
Dikatakannya, selama 4 hari anaknya sudah tidak pakai pampers. Di hari pertama banjir. Namun setelah dari Gor Pandan. Hingga hari ini, anaknya tidak pakai pamepers.
"Adalah waktu baru-baru itu 4 hari ga pake pampers cuci kering pakaian itulah di air banjir. Setelah daru Gor 4 pampers cuman bisa dua hari. Setelah itu sampai hari ini anak kami gak pake pampers," jelasnya.
Untuk itu, yang dibutuhkannya saat ini adalah makanan, baju dan pampers bayi.
"Sawah kita hilang, rumah hanyut. Saat ini butuh makanan dan pemperslah. Pengennya area ini dirapikan. Kekmana menjangkau ini. Jalan diperbaiki aliran sungai diperbaiki biar air sungainya enggak ke sini lagi," jelasnya.
Sementara itu Babinsa Kecamatan Tukka, Koptu Holmes Padang mengatakan, di Kelurahan Hutanabolon sebanyak 20 orang meninggal dunia.
Sekitar 9 diantaranya sudah ditemukan dan 11 orang lagi masih hilang.
"Kalau korban jiwa di Kelurahan hutan nabolon
korban jiwa 20 orang. Kemudian yang sudah ditemukan 9 orang,"kata Koptu Holmes Padang, di lokasi, Sabtu (6/12/2025).
Kelurahan Hutanabolon kurang lebih dihuni 874 kepala keluarga, dengan jumlah warga sekitar 2.927 orang.
Akibat bencana ini, warga mulai meninggalkan kampung mereka entah kemana.Namun sebagian ada yang mengungsi di posko darurat.
Untuk total rumah, Koptu Holmes mengatakan sebanyak 301 rumah rusak berat seperti hilang, tinggal atap atau tinggal lantai 2 saja.Kemudian yang rusak sedang sebanyak 54, dan rusak ringan 66 rumah.
(Cr5/tribun-medan.com)
| Puasa Tinggalkan Kampung Halaman, Curhat Warga Korban Banjir Garoga: Gak Perlu Kami Baju Lebaran |
|
|---|
| AKHIRNYA Kementerian Lingkungan Hidup Gugat 6 Perusahaan di Sumut Rp 4,8 Triliun |
|
|---|
| Data BNBA Korban Bencana Sumut Rampung, Gubsu Bobby: Tinggal Tunggu Realisasi Anggaran |
|
|---|
| DAFTAR 6 Perusahaan di Sumut Digugat Kementerian LH Imbas Banjir Sumatera, Dua di PN Medan |
|
|---|
| Bupati Tapteng Masinton Normalisasi Sungai dan Sawah di Tukka, Akui Bona Lumban Paling Parah |
|
|---|