Banjir dan Longsor di Sumut

Rumah Hanyut, dan Harus Terjang Banjir Selama  2 Jam Untuk Bawa Bayinya yang Sekarat  ke RS

Pilu Mistera selamatkan bayi dari banjir di Tapteng, saat balik ke rumah sudah hancur dan butuh popok.

Tayang:
Penulis: Anisa Rahmadani | Editor: Tria Rizki

Setelah mengantarkan anaknya, ia dan suami pun kembali ke rumah  untuk mengambil perlengkapan bayi.  

"Bawa ajalah dulu Sitiago (nama anaknya) di belakang (rumah mamak)  itulah rumahnya yang  masih utuh rumahnya. Kami bawa ke situ kami kira itu tempat aman jadi kami titiipkanlah disitu anak kami.  kami  ambil pakaian sedikit setelah itu kesitulah kami," jelasnya, saat ditemui Tribun Medan, Minggu (7/12/2025).

Setelah beberapa jam menunggu, ternyata air hujan semakin deras banjir semakin tinggi datang bersaamaan dengan kayu. Disitulah kepanikan pun semakin terjadi.

"Makin lama  airnya, makin tinggi kayu semua  ke bawah (ke desa kami). Jadi  kami ramailah ke rumah mamak kami, ada mungkin 4 keluarga (dirumah mamak)  itu ada anak kecil banyak. Kami gak percaya diri, gak aman kami depan kami sawah air sudah seperut," jelasnya. 

Sementara sang suami beserta abang iparnya sedang membantu warga untuk menyelamatkan diri. Namun, dilihatnya dari kejauhan kami pun tidak aman, mereka kembali ke tempat kami.

"Nyebranglah suamiku itu sama abang iparku melawan banjir dan kayu itu ke tempat rumah mamakku. Dan larilah kami ke hutan.   Sementara anakku kutengok udah panas kali, pucat kali. Udah kalut lah hati ini," ceritanya. 

Selama perjalanan ke hutan, katanya sang bayi digendong suaminya tanpa payung, baju basah dan bibir sang bayi sudah hitam. 

"Bayiku itu digendong, gak ada payung, baju sudah basah, bibir sudah hitam. dah ga bagus lagi pikiran ini. Kami tidak lama di hutan, karena takut longsor. Setelah agak reda hujan, tapi masih banjir, suami dan abang ipar ngajak kami turun untuk balik lagi ke sana,"jelasnya 

Saat itu, dipikirannya haya satu menyelamatkan anaknya terlebih dahulu. Namun, ketika mau kembali ternyata rumahnya pun sudah hilang dibawa air sungai.

"Kami lihat enggak ada lagi rumah kami, yang ada kayu dan air banjir semua, rumah di desa kami di lingkungan 3 dan 4 sudah rata dengan air semua.  Tapi itulah pikiran kami enggak lagu ke rumah, tapi bagaimana nyelamatin anak kami," jelasnya.

Karena rumah hanyut, ia bersama warga di sana yang masih kelihatan pun akhrnya mengungsi di Masjid 

"Untungnya masjid itu tinggi. Walaupun bawahnya banjir. Tapi atasnya enggak disitulah kami bertahan setelah dari hutan. Karena rumah kami hanyut, banjir masih terjadi. Kayu-kayu dan air banjir semua," jelasnya.
 
Setelah mengungsi satu hari, iapun menggati pakaian  dan pampers anaknya terlebih dahulu. Namun, saat hendak mengASIhi, Asinya tidak keluar.

"Sudah pucat kali anakku,  untung masih sempat bawa 4 potong baju bayi dan 3 pampers. Bibirnya pun sudah hitam kali.  Kami tidak bisa keluar karena sudah malam, sudah lemaslah anakku, karena asi saya pun sempat enggak keluar," jelasnya.

Esok harinya, ia pun mendengar ada  posko pengungsian yang jaraknya 3 km dari rumahnya. Akhirnya ia bersama sang suami pun ke sana untuk membawa berobat sang anak.

"Jalanlah kami pagi harinya walaupun banjir, sampai ditempat pengungsian dikasihla obat sama dokter disana, tapi enggak juga sembuh anak saya masih lemas. Gak ada  efeklah," ucapnya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved