Pasar Properti Khawatirkan Kebijakan Soal BBM
Meski beberapa waktu lalu pasar properti sempat dipusingkan aturan BI terkait uang muka 30 persen, di Medan efek tersebut tidak begitu berpengaruh.
"Masalah DP rumah 30 persen dan kenaikan PBB di Medan saya pikir tidak begitu berpengaruh di penjualan. Justru masalah BBM ini yang kami tunggu. Konsumen akibatnya ragu membeli produk material bangunan karena merasa investasinya bisa salah. Jika beli sekarang tiba tiba harga barang turun mereka bisa rugi. Sebagai pengusaha alat alat bangunan BBM saya pikir harus dipertegas kalau mau naik ya naik kalau turun ya turun, jangan membuat kami menunggu," ujar Andy Haslim selaku Operation Manager Home Smart Medan, Minggu (6/5).
Hal itu membuat beberapa produsen produk bahan bangunan mulai mengambil antisipasi menaikkan harga untuk menjaga gejolak pasar.
Pihaknya mencatat beberapa produk cat dan kramik sudah mengalami kenaikan harga 5 10 persen. Padahal jika ada kepastian dari pemerintah terkait BBM, fluktuasi kenaikan harga bisa lebih rinci dilakukan produsen di mana ketika misal BBM urung naik tidak mungkin cat dan keramik harganya mulai merangkak naik.
Hal senada diungkapkan Agus Rahmadsyah, Unit Manager Manulife Medan. Ia mengatakan, sikap ambigu pemerintah terhadap BBM tidak hanya berdampak pada sektor properti tetapi di seluruh sektor ekonomi.
Katanya, dengan adanya kepastian pemerintah soal harga BBM pasar menjadi sehat. Artinya, pengusaha bisa menetapkan harga sesuai mekanisme pasar bukan karena ketakutan hitung hitungan menang atau rugi ketika BBM naik atau turun.(irf)