Memikat Fasad Rumah Lewat Batu Alam
Pesona batu alam tak ada habisnya, ia mampu memberi kesan alami sekaligus
Penulis: Ayu Prasandi |
Laporan Wartawan Tribun Medan/Ayu Prasandi
TRIBUNMEDAN.com.MEDAN- Pesona batu alam tak ada habisnya, ia mampu memberi
kesan alami sekaligus mempercantik tampilan rumah. Tak heran, jika banyak orang
mengaplikasi material ini. Salah satunya di fasad rumah.
Salah satu cara yang dilakukan oleh Rika untuk mendapatkan fasad yang cantik dan menarik, yaitu dengan memainkan finishing-nya. “Dari sekian banyak finishing yang ada, batu alam adalah material yang dianggap memiliki kemampuan untuk mengubah tampilan fasad rumah menjadi lebih alami. Kehadirannya juga dianggap dapat menetralisir kesan kaku bangunan. Beragam orang memiliki pendapat berbeda mengapa menggunakan finishing batu alam. Ada yang suka karena warna, motif, atau teksturnya.,” ujarnya kepada tribun, Sabtu(1/12/2012).
Ia mengatakan, hal pertama yang harus diperhatikan adalah jangan sembarangan pilih batu alam. Harus mengenal karakteristiknya agar sesuai dengan konsepnya. Setidaknya ada lima jenis material batu alam yang sering dipergunakan untuk dijadikan fasad, yaitu batu candi, paras, lempeng kali, andesit, dan marmer. Ini dia karakteristiknya.
Batu candi mudah menyerap air karena berpori besar, berwarna gelap, dan memiliki tekstur kasar. Batu paras mudah menyerap air karena berpori besar, berwarna terang (kuning, hijau, cokelat, dan putih), dan bertekstur halus. Batu lempeng kali memiliki pori kecil, berwarna gelap, dan keras. Batu Andesit memiliki pori kecil, berwarna gelap, dan keras. Batu marmer memiliki pori kecil, warna terang (abu-abu, krem), keras, dan paling mahal.
“Semakin besar pori semakin rentan batu berlumut. Anda wajib meng-coating batu untuk meminimalisir masalah yang timbul. Selain itu, semakin muda warnanya akan semakin mudah terlihat jika kotor,” tutur ibu dua orang anak ini.
Ia mengatakan, sah-sah saja meletakkan batu alam di manapun. Tetapi perlu diingat, jangan sampai kahadiran batu alam merusak tampilan wajah rumah. “Kalo saya, sih, menyarankan batu alam jadi aksen. Bukan jadi elemen utama yang mendominasi semua fasad,” terangnya.
Sedangkan untuk perletakannya, Rika lebih menekankan sifatnya mengelompok dalam satu bidang dan tidak menyebar. “Kalo sudah di area tengah, ya area tengah saja. Misal, di sepanjang dinding dari mulai teras, balkon, hingga plafon atap di atas balkon, menggunakan batu. Sisanya, cukup menggunakan dinding finishing cat saja,” ungkapnya.
Memasang batu alam tak jauh berbeda dengan memasang keramik. Sebelum dipasang, rendamlah batu alam di dalam air. Lalu, tempelkan plesteran semen ke dinding dan tempelkan batu alam ke plesteran tersebut. Plesteran yang digunakan harus menggunakan semen khusus atau semen instan agar batu alam lebih kuat menempel. Semakin jelek kualitas plesteran dipastikan batu alam akan mudah lepas dari dinding.
Jangan lupa untuk mengetuk-ngetuk batu dengan palu atau pegangan sekop agar menempel sempurna. Lakukan hingga semua bidang terpasang. Setelah pemasangan, sikat permukaan hingga bersih dari cipratan plesteran dan keringkan. Lalu, lapisi dengan cairan coating. Untuk tambah memperkuat keindahan batu alam, lindungi permukaannya dengan anti jamur dan lumut. (Cr3/tribun-medan.com)