Ngopi Sore
Ikan PKI Ditangkap di Jogja
Simbol-simbol komunis, simbol-simbol PKI, atau yang mirip, atau yang dianggap mirip, dimusnahkan.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
SETENGAH abad lebih setelah huru-hara di bulan September 1965, yang kemudian menyeret- nyeret Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai biang kerok (termasuk menjadi tertuduh utama atas kematian enam jenderal dan satu perwira menengah), ketakutan terhadap partai politik ini ternyata tidak berkurang.
Bahkan boleh dibilang semakin besar. Hari-hari belakangan ini, banyak hal bisa dikaitpautkan dengan PKI, dan jika sudah demikian, reaksi yang muncul adalah kemarahan. Iya, kemarahan yang berangkat dari ketakutan. Bahwa PKI belum sepenuhnya mati. Bahwa PKI tengah menyiapkan diri untuk bangkit. Bahwa kader-kader PKI generasi baru, diam-diam telah menyusup ke berbagai sendi kehidupan dan bidang kerja, formal maupun nonformal, tak terkecuali di pemerintahan.
Maka tatkala Saut Situmorang, pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dalam satu acara cakap-cakap di satu stasiun televisi swasta menyebut kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai koruptor, di antara gelombang kemarahan yang saling susul-menyusul, mengemuka tudingan bahwa penudingan oleh Saut merupakan agenda membangkitkan komunis (dalam hal ini mesti dibaca sebagai 'PKI') di Indonesia.
Kesalahan terbesar Saut Situmorang adalah ia menyebut kader HMI begitu saja. Tidak menyertakan kata "penyelamat", kata "kompromi", yakni: oknum. Jika ia tidak teledor begini, tentu lesatan amuk tak sedahsyat sekarang.
Sayangnya dia teledor. Dia terlalu asyik mengoceh sehingga lupa pada "tata krama" berbicara di depan umum. Maka Saut Situmorang pun mendapat serangan balik. Kekayaannya direcoki. Rekam jejaknya saat menjadi anggota Badan Intelejen Negara (BIN) dikorek. Juga sepak terjang lainnya. Dan entah bagaimana, ada pula yang menghubung-hubungkan pernyataan ini dengan PKI. Seperti halnya Saut, setengah abad lalu, DN Aidit juga pernah memburuk-burukkan HMI. Aidit bahkan meminta pada Soekarno untuk membubarkannya.
Saut sudah minta maaf secara terbuka. Namun protes jalan terus. Kemarahan tak reda oleh sepotong maaf. Massa HMI generasi lama terus berbicara pada media, mengemukakan pendapat, sedangkan generasi terkini turun ke jalan, berunjukrasa. Suara mereka sama: Saut Situmorang mesti meletakkan jabatannya di KPK.
Untuk kasus ini saya akan berhenti sampai di sini. Sebab makin ke sini tendensi yang lebih kuat adalah politik. Bahwa apakah Saut Situmorang memang PKI atau antek PKI atau sekadar simpatisan yang menjadi bagian dari agenda kebangkitan, tak lagi menjadi terlalu penting.
Kemarahan yang diapungkan tidak berangkat dari ketakutan yang sebenar-benarnya. Melainkan cuma ketakutan "politis". Ketakutan yang bisa diatur sedemikian rupa, tergantung pada kepentingan.
Atau jangan-jangan, semua ketakutan ini politis belaka sifatnya? Mungkin benar, mungkin juga tidak. Tapi tidak dapat dipungkiri, ketakutan, entah benar-benar atau ngibul, sama-sama berangkat dari politik. Tepatnya politik propaganda orde baru yang menyebarkannya lewat sekolah-sekolah.
Propaganda yang mesti diakui sangat sukses. Selama 32 tahun sejarah tentang dan menyangkut PKI dan komunisme, dan (juga) sosialisme, di Indonesia hanya bisa dipandang dari satu sisi, yakni sisi pemerintah. Bahwa PKI itu jahat sepenuhnya dan seluruh anggotanya maupun simpatisannya adalah bajingan-bajingan tengik kampungan yang layak dipenggal kepalanya dan dikebiri kelaminnya.
Pascakejatuhan Soeharto dari kursi kekuasaan, pelan-pelan, sejarah lain terkuak. Sejarah dari sisi PKI dan sejarah dari sisi pihak yang menempatkan diri di kubu netral. Referensi semakin banyak dan bisa diperoleh dengan lebih mudah, meski tetap beresiko, karena ternyata ketakutan akibat propaganda orde baru tadi tak lekang sepenuhnya.
Seorang kawan saya pernah dicegat oleh sekelompok laki-laki berwajah dan berpenampilan unyu-unyu, barangkali mahasiswa baru. Mereka membawa berbagai poster dan spanduk, mungkin hendak atau selepas berunjukrasa. Kawan saya mengenakan kaus berlambang palu arit dan kelompok unyu-unyu tadi menyebutnya sebagai PKI dan memintanya melepaskan kaus itu.
Kawan saya menolak, dan balik bertanya, seraya menunjuk tulisan besar di bawah logo palu arit yang kecil: CCCP. Kalian tahu tulisan ini? Beberapa orang dari kelompok unyu-unyu menggelengkan kepala, beberapa yang lain saling memandang dengan air muka bingung, dan semakin kelihatan tolol saat dijelaskan bahwa CCCP adalah singkatan nama Uni Soviet (dalam Bahasa Rusia), yang jika dialihbahasakan ke Inggris, akan berbunyi Union of Soviet Socialist Republics.
Lalu kenapa kawan saya ini mengenakannya? Mau cari-cari perkara? Sama sekali tidak. Dia pengoleksi pernak-pernik sepakbola, dan kaus warna merah menyala yang dikenakannya adalah kaus santai Tim Nasional Uni Soviet di Piala Eropa 1988. Ia membelinya lewat e-bay seharga 9,99 pounsterling (sekitar Rp 190 ribu).
Yang seperti kelompok unyu-unyu ini banyak sekali. Baik yang unyu-unyu beneran maupun yang unyu-unyu dalam pikiran. Maksudnya, secara fisik dewasa tapi pikirannya masih bocah, sehingga mudah sekali terprovokasi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/ikan-pki_20160509_183316.jpg)