Ngopi Sore

Ikan PKI Ditangkap di Jogja

Simbol-simbol komunis, simbol-simbol PKI, atau yang mirip, atau yang dianggap mirip, dimusnahkan.

Ikan PKI Ditangkap di Jogja
FACEBOOK

SETENGAH abad lebih setelah huru-hara di bulan September 1965, yang kemudian menyeret- nyeret Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai biang kerok (termasuk menjadi tertuduh utama atas kematian enam jenderal dan satu perwira menengah), ketakutan terhadap partai politik ini ternyata tidak berkurang.

Bahkan boleh dibilang semakin besar. Hari-hari belakangan ini, banyak hal bisa dikaitpautkan dengan PKI, dan jika sudah demikian, reaksi yang muncul adalah kemarahan. Iya, kemarahan yang berangkat dari ketakutan. Bahwa PKI belum sepenuhnya mati. Bahwa PKI tengah menyiapkan diri untuk bangkit. Bahwa kader-kader PKI generasi baru, diam-diam telah menyusup ke berbagai sendi kehidupan dan bidang kerja, formal maupun nonformal, tak terkecuali di pemerintahan.

Maka tatkala Saut Situmorang, pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dalam satu acara cakap-cakap di satu stasiun televisi swasta menyebut kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai koruptor, di antara gelombang kemarahan yang saling susul-menyusul, mengemuka tudingan bahwa penudingan oleh Saut merupakan agenda membangkitkan komunis (dalam hal ini mesti dibaca sebagai 'PKI') di Indonesia.

Kesalahan terbesar Saut Situmorang adalah ia menyebut kader HMI begitu saja. Tidak menyertakan kata "penyelamat", kata "kompromi", yakni: oknum. Jika ia tidak teledor begini, tentu lesatan amuk tak sedahsyat sekarang.

Sayangnya dia teledor. Dia terlalu asyik mengoceh sehingga lupa pada "tata krama" berbicara di depan umum. Maka Saut Situmorang pun mendapat serangan balik. Kekayaannya direcoki. Rekam jejaknya saat menjadi anggota Badan Intelejen Negara (BIN) dikorek. Juga sepak terjang lainnya. Dan entah bagaimana, ada pula yang menghubung-hubungkan pernyataan ini dengan PKI. Seperti halnya Saut, setengah abad lalu, DN Aidit juga pernah memburuk-burukkan HMI. Aidit bahkan meminta pada Soekarno untuk membubarkannya.

Saut sudah minta maaf secara terbuka. Namun protes jalan terus. Kemarahan tak reda oleh sepotong maaf. Massa HMI generasi lama terus berbicara pada media, mengemukakan pendapat, sedangkan generasi terkini turun ke jalan, berunjukrasa. Suara mereka sama: Saut Situmorang mesti meletakkan jabatannya di KPK.

Untuk kasus ini saya akan berhenti sampai di sini. Sebab makin ke sini tendensi yang lebih kuat adalah politik. Bahwa apakah Saut Situmorang memang PKI atau antek PKI atau sekadar simpatisan yang menjadi bagian dari agenda kebangkitan, tak lagi menjadi terlalu penting.

Kemarahan yang diapungkan tidak berangkat dari ketakutan yang sebenar-benarnya. Melainkan cuma ketakutan "politis". Ketakutan yang bisa diatur sedemikian rupa, tergantung pada kepentingan.

Atau jangan-jangan, semua ketakutan ini politis belaka sifatnya? Mungkin benar, mungkin juga tidak. Tapi tidak dapat dipungkiri, ketakutan, entah benar-benar atau ngibul, sama-sama berangkat dari politik. Tepatnya politik propaganda orde baru yang menyebarkannya lewat sekolah-sekolah.

Propaganda yang mesti diakui sangat sukses. Selama 32 tahun sejarah tentang dan menyangkut PKI dan komunisme, dan (juga) sosialisme, di Indonesia hanya bisa dipandang dari satu sisi, yakni sisi pemerintah. Bahwa PKI itu jahat sepenuhnya dan seluruh anggotanya maupun simpatisannya adalah bajingan-bajingan tengik kampungan yang layak dipenggal kepalanya dan dikebiri kelaminnya.

Halaman
123
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved