Ngopi Sore

Apa Sebab Anies Baswedan Dicopot

Dari istana, Anies disebut diganti karena dinilai kurang cepat dalam melakukan gebrakan di bidang pendidikan. Penjelasan yang sama sekali tidak terang

Apa Sebab Anies Baswedan Dicopot
KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO
ANIES Baswedan pada hari terakhir menjabat menteri di ruang kerjanya di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Rabu (27/7/2016). Posisi Anies Baswedan akan diisi mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, Prof. Muhadjir Effendy. 

DI luar reaksi positif atas kembalinya Sri Mulyani Indrawati dan cibiran terhadap keberadaan Wiranto dan tidak tersentuhnya Puan Maharani, dari sekian menteri yang tergusur, dua nama memunculkan perbincangan yang riuh. Ignasius Jonan sebagai Menteri Perhubungan dan Anies Baswedan dari kursi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Perbincangan atas Jonan seru lantaran ada pro dan kontra. Pihak kontra mengedepankan sejumlah alasan yang mungkin menjadi sebab pendepakannnya. Mulai dari keengganannya menandatangani izin proyek kereta api cepat, sampai yang paling banyak disebut, insiden jalan tol pada masa libur Lebaran lalu. Oleh para kontranya, langkah-langkah antisipasi Jonan yang gagal dan kilahnya kemudian yang membikin geram banyak orang, dipersangkakan membuat angka merah pada rapornya bertambah banyak.

Pendeknya, citra Jonan secara umum tidak "cemerlang-cemerlang banget". Dia memang mendapat empati, akan tetapi banyak juga yang tersenyum, tertawa, bertepuk tangan, bahkan tertawa sembari bertepuk tangan, menyikapi kabar pendepakannya dari Kabinet Kerja.

Dengan kata lain, Jonan tidak memiliki cukup modal untuk menciptakan drama sebagai orang yang tersakiti dan terzalimi, sebagaimana Susilo Bambang Yudhoyono melakukannya tatkala dikucilkan dan disingkirkan --lalu memutuskan mundur-- dari Kabinet Gotong Royong pimpinan Presiden Megawati Soekarnoputri --dalam buku "Dari Soekarno Sampai SBY, Intrik & Lobi Politik Para Penguasa", Prof Tjipta Lesmana menganalisa bahwa api konflik keduanya pertama kali justru dipercikkan oleh SBY, yang lantas dipelihara dengan baik sebagai siasat politik dan disiapkan untuk diletupkan di waktu yang tepat: Pemilu Presiden 2004.

Modal seperti inilah yang sekarang dimiliki Anies Baswedan. Terlepas dari serius dan ilmiah atau ngawur dan sekadar pamer goblok, banyak orang memaparkan alasan-alasan pendepakan para menteri. Ini sebab Jonan didepak. Ini sebab Yuddy Chrisnandi, Ferry Mursidan Baldan, Saleh Husein, dan Marwan Jaffar diketepikan. Ini sebab Sudirman Said dan Rizal Ramli disingkirkan. Tapi Anies Baswedan? Apa alasan yang membuat dia pantas untuk tidak lagi berada di jajaran para pembantu Presiden Joko Widodo?

Sejauh ini belum terang. Bahkan dari sejumlah perkiraan yang mengemuka, belum satu pun yang betul-betul meyakinkan untuk sekadar dapat dijadikan sebagai perkiraan alasan. Burhanuddin Muhtadi, satu di antara seorang pengamat politik yang kata-katanya masih boleh didengar, juga tidak berani berspekulasi. Dalam wawancara televisi, Burhanuddin, memilih bermain aman. Dia bilang, atas pendepakan Anies Baswedan, "Pak Jokowi seyogianya memberikan penjelasan (yang lebih terperinci) kepada rakyat".

Pertanyaannya, penjelasan terperinci yang bagaimana? Atau lebih tepatnya, menjelaskan dengan terperinci bagian yang mana dari sejumlah spekulasi yang berkembang?

Dari Istana Negara, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, mengatakan Anies diganti karena dinilai kurang cepat dalam melakukan gebrakan di bidang pendidikan. Penjelasan yang sama sekali tidak terang, memang. Gebrakan seperti apa yang dimaksud? Kurang cepat seperti apa? Sebaliknya, yang disebut cepat itu seperti apa?

Anies yang saat berada di luar pemerintahan dapat memprakarsai gerakan dahsyat bernama Indonesia Mengajar, melakukan sejumlah terobosan ketika ditunjuk menjadi menteri. Paling berpengaruh tentunya menyangkut Ujian Nasional (UN). Di era Anies, UN tidak lagi menjadi penentu kelulusan siswa. Setelah tahun-tahun yang "tegang", Anies mengembalikan sistem ke era lama, di mana tolok ukur kelulusan siswa adalah prestasi akademik dan perilakunya selama bersekolah.

Selain itu, Anies mewajibkan siswa (pelajar SD-SMA) membaca buku selama 15 menit sebelum memulai pelajaran pertama di sekolah. Langkah yang saya kira sangat strategis untuk menumbuhkembangkan kembali budaya membaca yang hari-hari belakangan ini kian tergerus oleh budaya visual.

Halaman
12
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved