Ngopi Sore

Freddy Budiman yang Disambut Takbir

Terhadap manusia yang sudah meninggal dunia, tolok ukur itu biasanya adalah rekam jejaknya semasa hidup.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
AFP PHOTO/JUNI KRISWANTO
SUASANA pemakaman Freddy Budiman di Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (30/7). Freddy Budiman menjalani hukuman mati di Nusakambangan. 

SAYA pernah terkekeh-kekeh saat membaca cerita pendek yang ditulis Kuntowijoyo dan Ahmad Tohari. Kedua-duanya cerita sederhana (dan sebenarnya tidak dimaksudkan untuk melucu). Satu dari doktor sosiologi lulusan Amerika, satunya lagi dari seorang penulis bakat alam yang memutuskan untuk "menyepi" di kampung setelah beberapa lama keluyuran di Jakarta sebagai wartawan.

Cerita pertama perihal seorang laki-laki yang dikubur di makam pahlawan di desa. Makam yang saban 17 Agustus tiap tahun, diziarahi oleh para perangkat desa dan anak-anak sekolahan.

Judul cerita itu, "Jangan Dikubur Sebagai Pahlawan". Tokoh utama cerita, 'Aku', adalah lurah, yang selama bertahun-tahun menyimpan kebenaran dari kesalahkaprahan yang telah merasuki seisi desa. Dan setelah sekian lama menahan diri, Aku akhirnya buka suara. Di depan sidang desa jelang 17 Agustus, dia memaparkan bahwa Sangadi, orang yang dikubur di makam pahlawan, sesungguhnya tidak layak diziarahi. Bahkan lebih jauh, sangat tidak pantas untuk dikubur sebagai pahlawan.

Kenapa? Karena Sangadi memang bukan pahlawan. Semasa hidupnya, dia menjadi begal, gemar bermain perempuan, berjudi, berjualan candu, dan menjadi kaki tangan Belanda. Lalu bagaimana dia bisa dikubur di makam pahlawan?
Karena di penghujung hidupnya, dia bertobat. Dari pengkhianat, kaki tangan Belanda, dia membelot ke pasukan pejuang. Kulitnya yang atos, tahan bacok, membuatnya selalu berada di barisan depan saat bentrok terjadi.

Tapi apakah dia benar bertobat? Ternyata tidak. Pembelotannya dikarenakan Belanda mencabut kewenangannya untuk mengedarkan candu. Sebelumnya, dia juga dihukum lantaran selalu keliru memberikan informasi tentang pasukan pejuang. Bukan lantaran sengaja memberikan informasi yang salah. Melainkan memang betul-betul disebabkan kesilapan. Sangadi kelewat sering mabuk. Bahkan saat bekerja pun dia mabuk.

Sangadi, kata Aku, menemui ajal di tangan tentara Belanda saat hendak membobol dan meledakkan gudang persenjataan Belanda, yang sekaligus merupakan tempat penyimpanan candu. Bagi Aku sendiri, Sangadi tidak berjarak terlalu jauh. Selain pernah mendapatkan uang saat disunat, antara ayah Aku dengan Sangadi menjalin hubungan pertemanan. Teman dalam pengertian yang aneh, sebenarnya. Semacam hubungan yang saling menguntungkan, tapi tidak benar-benar rapat. Ayah Aku yang bekerja sebagai mantri, yang menanggungjawabi peredaran garam dan candu, mempekerjakan Sangadi untuk menjaga barang-barang itu dari begal-begal lain. Sebagai upah, ayah Aku rutin memasok candu untuk Sangadi.

Dan Aku, mengakhiri ceritanya dengan kalimat menohok: "saya kira kebaikan Sangadi sudah saya bayar dengan kediaman saya selama bertahun-tahun".

Cerita kedua berjudul "Kang Sarpin Minta Dikebiri". Perihal seorang bergajul juga. Tukang mabuk, berjudi, dan main perempuan. Sama seperti Sangadi, bergajul bernama Sarpin ini juga bertobat. Dia malu main perempuan karena akan jadi seorang kakek.

Persoalannya, keinginannya tidak bisa dikompromikannya dengan alat kelaminnya, yang menurut dia tidak bisa dikendalikan tiap kali dia melihat perempuan cantik. Maka satu-satunya jalan adalah mengebiri alat kelaminnya sendiri. Dan dia meminta pada 'Aku', narator cerita, untuk ditemani ke tukang kebiri yang biasa bekerja untuk para pejudi sabung ayam.
Aku menolak dan menasehati Kang Sarpin, yang lalu pergi dengan tersungut-sungut. Malang mengikutinya, karena di jalan sepeda yang dikendarainya oleng dan dia disambar mobil yang melaju cepat dari arah belakang.

Pada hari penguburannya, modin bertanya apakah Kang Sarpin orang baik. Dan tidak seorang pun di antara para pelayat yang buka suara, kecuali Aku. Menurut Aku, "bagiku, orang yang di akhir hidupnya berkeinginan jadi orang baik adalah orang baik. Entah bagi orang lain. Entah bagi Tuhan".

Meski tidak bisa dikatakan linier, cerita pendek Kuntowijoyo dan Ahmad Tohari ini tiba-tiba berkelebat dan mampir lagi ke dalam ingatan tatkala saya membaca satu berita tentang Freddy Budiman. Judulnya sungguh aduhai: "Jenazah Freddy Budiman Disambut Teriakan Takbir".

Sampai di sini akan muncul pertanyaan. Di mana letak persoalannya? Bukankah wajar-wajar saja jenazah seseorang disambut teriakan takbir?

Tentu, tidak ada masalah, jika yang disambut bukan jenazah Ferry Budiman. Takbir dalam Islam berada pada kedudukan yang tinggi. Takbir berarti mengagungkan Allah dan meyakini bahwa tidak ada sesuatu pun yang lebih agung daripada-Nya. Dalam hal penyambutan jenazah, takbir dikumandangkan untuk para syuhada: orang-orang yang gugur di medan perang melawan musuh-musuh Islam, atau orang-orang yang telah mempersaksikan Islam dengan segenap kebenaran dirinya, dan dengan demikian dijamin tempatnya di surga.

Lalu siapa Ferry Budiman? Kenapa penyambutan dengan takbir atasnya menjadi masalah? Apakah dia seorang pendosa?

Ah, perkara dosa manusia tidak punya kuasa atasnya. Manusia tidak boleh bersikap tidak tahu diri mereka-reka dosa manusia yang lain sebab itu sepenuhnya prerogatif Tuhan. Namun sebelum mati, sebelum jantungnya ditembus peluru para eksekutor, pengadilan mengirim Freddy Budiman ke Nusakambangan atas tuduhan mengedarkan narkotika. Sebelumnya, atas kasus yang sama, dia juga mendekam dalam bui pada tahun 1997, 2009, dan 2011. Tahun 2012, dari balik jeruji besi, Freddy mengatur impor 1,4 juta butir ekstasi yang dibawa oleh kawanannya dari China.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved