Ngopi Sore
Freddy Budiman yang Disambut Takbir
Terhadap manusia yang sudah meninggal dunia, tolok ukur itu biasanya adalah rekam jejaknya semasa hidup.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
Dalam masa pemenjaraannya yang terakhir, Freddy masih sempat beberapa kali mencuatkan kabar heboh. Satu, dia (lagi-lagi) kedapatan mengatur impor narkotika. Dua, dia kedapatan berkencan dengan perempuan-perempuan cantik yang diselundupkan silih berganti ke dalam tahanan, yang tentu saja bisa lancar dilakukan lantaran kepiawaiannya menyuap petugas. Tiga, dia memukul wartawan yang hendak mewawancarainya terkait penolakan atas permohonan Peninjauan Kembali (PK) yang dia ajukan.
Lantas, bagaimana ceritanya Freddy Budiman yang bajingan kuadrat ini bisa disambut takbir layaknya syuhada? Oh iya, saya lupa bilang bahwa kira-kira setengah tahun sebelum menghadapi regu tembak, Freddy masuk Islam. Dan dalam waktu yang singkat ini, perubahan padanya pun terbilang radikal.
Rambutnya yang berjambul mirip burung kakak tua dan bersemir pirang, dibabat habis, dan senantiasa ditutup dengan kopiah haji. Janggutnya yang sedari dulu memang panjang, dibiarkan. Hanya saja ikatannya dilepas, dibiarkan tergerai, dan semirnya dihilangkan. Dari coklat jadi hitam kembali. Dan di dahinya terbentuk dua titik hitam. Satu bentuk yang oleh orang-orang di Indonesia, terlanjur diyakini sebagai pertanda rajin mendirikan salat. Rajin sujud.
Sekali lagi, sebagaimana halnya dosa, dan pahala tentunya, manusia tidak memiliki hak untuk mengukur pertobatan manusia lainnya. Barangkali saja Freddy Budiman memang tulus bertobat. Barangkali saja, di dekat-dekat matinya, dia memang betul-betul mendapat hidayah. Kita manusia sama sekali tidak tahu. Cuma Tuhan yang tahu.
Akan tetapi, meneriakkan takbir pada seorang Freddy Budiman, saya kira, adalah persoalan lain. Kita wajib berbaik sangka, memang. Namun berbaik sangka juga ada tolok ukurnya. Terhadap manusia yang sudah meninggal dunia, tolok ukur itu biasanya adalah rekam jejaknya semasa hidup. Apakah yang bersangkutan penebar kebaikan, atau sebaliknya, sumber keburukan. Dan dalam kasus ini, Freddy Budiman tidak dapat dipersamakan dengan Kang Sarpin yang sekadar bermasalah dengan alat kelaminnya.
Freddy Budiman mungkin telah bertobat dan pertobatannya barangkali juga merupakan pertobatan yang sebenar-benarnya pertobatan. Tapi meneriakkan takbir atasnya akan menyakitkan hati banyak orang. Yakni keluarga dari mereka yang telah menjadi korban- korbannya semasa hidup, saat belum bertobat.
Di lain sisi, kerancuan ini bisa memunculkan kekaburan sejarah. Google telah mencatat dalam temboloknya tentang teriakan dan pekik takbir untuk Freddy Budiman, sebagaimana juga menyimpan catatan-catatan lain mengenai keburukannya.
Masih untung kalau sekiranya nanti ada orang seperti Aku dalam cerita Kuntowijoyo, yang bisa menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya. Lha, kalau tidak? Bisa-bisa, anak-anak cucu kita kelak menyakini bahwa Freddy Budiman adalah syuhada, dan mereka akan bertanya dengan nada sungguh-sungguh, mengapa yang bersangkutan tidak dikubur di makam pahlawan.
twitter: @aguskhaidir
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/freddddy_20160730_182203.jpg)