Ngopi Sore

Ahok, Risma, dan Kambing

Apakah Risma sekarang menepikan perasaan dan memakai kacamata realistis sehingga sampai pada keputusan untuk meninggalkan Surabaya

Ahok, Risma, dan Kambing
WARTA KOTA/ALEX SUBAN
TRI Rismaharini 

KALAU saya tidak salah ingat, wakil rakyat itu bernama Masinton Pasaribu. Beberapa hari lalu, dia mengemukakan pendapat yang lucu perihal pemilihan umum di Jakarta. Bilangnya, sekalipun partainya, PDI Perjuangan, mencalonkan seekor kambing, mereka akan tetap menang. "Lawannya, kan, cuma Ahok," katanya.

Ahok yang dimaksud Masinton, tentu saja, Basuki Tjahaja Purnama. Gubernur Jakarta yang akhirnya melanjutkan upayanya untuk kembali duduk di kursi yang sama melalui jalur partai, setelah berbulan-bulan terus jadi berita karena berwacana ingin bertarung lewat jalur perseorangan. Para pendukungnya sudah mengumpulkan KTP yang --konon menurut mereka-- jumlahnya tidak sedikit.

Bahwa kemudian ternyata Ahok memilih bersama-sama partai juga, tiada lain dan tiada bukan adalah perwujudan pragmatisme belaka. Satu hal yang agaknya memang sedang menjangkiti panggung-panggung politik di belahan dunia manapun pada hari-hari belakangan ini. Ahok yang awalnya "sok-sokan" hendak menorehkan "sejarah baru", akhirnya terpaksa kembali kepada "kelaziman".

Padahal, Ahok sudah terlanjur mencitrakan dirinya sebagai "sosok ideal". Sosok dari dunia fantasi: pemimpin yang datang betul-betul dari rakyat --yang tidak jadi pejabatpun tak apa-apa asalkan tetap berada (berada di tengah-tengah) rakyat. Tapi begitulah, makin ke sini Ahok agaknya makin menyadari betapa dia mesti realistis. Bahwa jika memang tetap ingin jadi gubernur, maka jalan yang paling ideal sampai sejauh ini masih tetap jalan partai.

Jadi lupakan soal fantasi pemimpin ideal. Mari melihat pemilihan umum di Jakarta seperti pemilihan-pemilihan umum lainnya. Yakni ajang tarung politik yang riuh oleh adu ideologi, adu visi, adu misi, adu siasat, dan adu duit.

Tapi pertanyaannya, benarkah Ahok bisa dikalahkan hanya oleh seekor kambing? Saya kira Masinton sekadar bergurau. Tepatnya, gurau hiperbolik yang sarkastis, namun sesungguhnya ragu-ragu.

Memang, kadangkala politik menghadirkan anomali yang kelewatan. Talkeetna, kota berpenduduk 1000 orang di Alaska, pernah dipimpin oleh seekor kucing. Stubb, kucing ini, bahkan bertahan di kursi wali kota selama 15 tahun.

Juga ada seekor anjing bernama Duke yang memenangkan pemilihan Wali Kota Cormorant, kota kecil di Becker County, Minnesota, Amerika Serikat. Dalam pemilihan umum yang digelar pada Agustus 2014, Duke mengalahkan dua kandidat lain, masing-masing seorang politisi dan seorang pemilik toko kelontong.

Apakah anomali seperti ini bisa terjadi di Jakarta? Saya kira tidak. Stubb dan Duke bisa menang, mengalahkan manusia, karena keduanya adalah simbol kemuakan warga Talkeetna dan Cormorant terhadap kemunafikan para politisi. Di Talkeetna, Stubb awalnya dimunculkan sebagai semacam olok-olok. Separuh lebih warga Talkeetna berkampanye untuk Stubb karena merasa calon-calon wali kota lain tidak lebih dari sekadar tukang kibul.

Jika diperbandingkan, barangkali, Ahok juga "ngibul". Setidaknya mengibuli "kawan-kawannya" yang sudah berlelah-lelah mengumpulkan KTP dari mal ke mal dari pasar ke pasar dari gang ke gang, lalu dia enteng saja menerima ajakan Golkar, Nasdem, dan Hanura. Akan tetapi, perlu digarisbawahi pula bahwa Jakarta bukan Talkeetna, bukan Cormorant. Jakarta kota yang besar dan padat dan sangat plural. Dan Ahok, di luar aksi pengibulannya yang ciamik tadi, setidak- tidaknya sampai hari ini, sudah menunjukkan bahwa dia bisa bisa bekerja.

Halaman
12
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved