Ngopi Sore

Ahok, Risma, dan Kambing

Apakah Risma sekarang menepikan perasaan dan memakai kacamata realistis sehingga sampai pada keputusan untuk meninggalkan Surabaya

Ahok, Risma, dan Kambing
WARTA KOTA/ALEX SUBAN
TRI Rismaharini 

Persisnya, bisa bekerja dengan perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan kontrol, yang sungguh tidak mungkin bisa dilakukan oleh seekor kucing atau seekor anjing. Sehingga tentu pula, agak sulit membayang pekerjaan yang sama dapat dilakukan seekor kambing.

Dan kenyataannya, memang, dari sejumlah kandidat yang sudah muncul ke permukaan, tidak ada seekor kambing, kucing, anjing, dan sejenisnya di sana. Yang ada Sandiaga Uno. Seorang konglomerat yang dicalonkan Gerindra.

Belakangan muncul lagi nama Tri Rismaharini, Wali Kota Surabaya yang sudah berkali-kali mengatakan tidak ingin pergi ke Jakarta dan tidak menginginkan jabatan gubernur. Risma adalah jagoan PDI Perjuangan.

Pertanyaannya, apakah sebagaimana Ahok, Risma juga berubah pendirian? Apakah dia sekarang menepikan perasaan dan memakai kacamata realistis sehingga sampai pada keputusan untuk meninggalkan Surabaya, meninggalkan warga Surabaya, demi cita-cita lebih besar sebagaimana dulu kerap digaungkan Joko Widodo?

Alasan bisa apa saja. Tapi di lain sisi, mencuatnya nama Risma menunjukkan keragu-raguan PDI Perjuangan. Masinton Pasaribu berusaha mengesankan kegagahan dan keoptimistisan PDI Perjuangan dengan menyebut Ahok bisa dikalahkan oleh sekadar seekor kambing, namun di saat bersamaan, mereka habis-habisan berupaya memajukan Risma ke gelanggang. Sebab apa boleh buat. Selain Ridwan Kamil (yang jauh-jauh hari sudah menolak dan tetap solid pada pendiriannya), memang cuma Risma yang paling potensial menyaingi --dan bahkan merobohkan-- popularitas dan elektabilitas Ahok.

Iya, hanya Risma. Bukan Profesor Yusril Ihza Mahendra. Bukan Sandiaga Uno. Meskipun profesor kita belanja tiap hari ke pasar mengenakan celana pendek dan kaus bergambar Mickey Mouse, meskipun konglomerat kita meninggalkan mobil-mobil mewahnya di garasi dan memilih naik metromini, atau meskipun mereka berdua menyamar jadi pemulung dan tukang becak seperti yang pernah dilakukan Wiranto jelang Pemilu Presiden 2014, tetap belum cukup untuk membuat popularitas dan elektabilitas terdongkrak mendekati Ahok.

Hanya Risma dan memang hanya Risma. Bukan Adhyaksa Dault. Bukan pula Haji Lulung. Apalagi cuma seekor kambing.

twitter: @aguskhaidir

Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved