Ngopi Sore

Full Day School Pak Menteri

Rata-rata penyuara protes mengedepankan persoalan yang diyakini muncul tatkala anak harus mengikuti kegiatan belajar yang dikemas dengan sistem ini.

Full Day School Pak Menteri
TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI
SEKOLAH RUSAK - Siswa SMP bermain bola di depan ruangan sekolah yang terbengkalai di SMP Yayasan HKI, Kecamatan Sidamanik, Kabupaten Simalungun, pekan lalu. Sejumlah ruangan di sekolah ini kelas berat dan terbengkalai. 

BERSELANG kurang lebih dua pekan setelah dipilih Presiden Joko Widodo menggantikan Anies Baswedan di posisi Menteri Pendidikan, Muhajir Effendy membuat gebrakan yang langsung menghebohkan.

Apakah lantaran gebrakan itu demikian aduhainya sehingga beroleh histeria dibarengi puja dan puji? Apakah lantaran gebrakan itu sungguh cerdas sungguh jenius sungguh menakjubkan sehingga mengundang decak kagum?

Sayangnya tidak. Pak Menteri kita mewacanakan perubahan sistem pendidikan. Tepatnya, sistem belajar mengajar. Beliau ingin sekolah-sekolah di Indonesia, mulai tingkat SD sampai SMA, menerapkan sistem full day school atau belajar (di sekolah) sehari penuh.

Wacana Menteri Muhajir segera disambut riuh. Protes, tentu saja. Di media sosial, keriuhan menjadi-jadi. Banyak yang menuliskan ketidaksepakatannya dengan kalimat-kalimat yang serba bernada tajam dan keras, bahkan kasar dan emosional --saking emosinya sehingga kalimat- kalimat itu melenceng dari substansi.

Sampai di sini mencuat pertanyaan. Apakah wacana Pak Menteri kita ini memang kacau dan ngawur? Saya kira tidak. Saya kira dia benar, tapi hanya separuh. Artinya, dalam kebenaran pemikirannya terselip kekeliruan. Dan kekeliruan ini, fatal.

Rata-rata penyuara protes mengedepankan persoalan-persoalan yang diyakini muncul tatkala anak harus mengikuti kegiatan belajar yang dikemas dengan sistem full day school.

Berada di urutan pertama adalah hubungan orang tua dan anak yang dikhawatirkan jadi renggang. Disusul keterpisahan anak dari lingkungan rumah dan pergaulan, serta tingkat kejenuhan yang sangat tinggi. Beberapa yang lain menyebut ketiadaan waktu untuk bermain (tercerabut dari masa kanak-kanak) dan makin minimnya waktu untuk mempelajari agama.

Semua persoalan yang diidentifikasi ini memang termungkinkan untuk terjadi. Akan tetapi, mesti jujur pula diakui, bahwa tanpa sistem full day school pun, persoalan-persoalan tersebut tetap bisa muncul.

Hubungan orang tua dan anak, misalnya, bisa saja renggang walau anak bersekolah di sekolah yang menjalankan sistem belajar-mengajar reguler. Sebaliknya banyak hubungan orangtua dan anak yang bersekolah sehari penuh yang justru semakin rapat dan akrab. Kerenggangan atau ketidakrenggangan, saya kira, lebih banyak ditentukan oleh sikap dan perilaku orangtua terhadap anak dan anak terhadap orang tua.

Persoalan-persoalan yang lain juga serupa. Tak sedikit anak yang menjelma mahluk asosial, introvert, kurang atau bahkan tidak gaul padahal yang bersangkutan bersekolah di "sekolah biasa". Masuk jam 07.30 pulang pukul 14.00. Tak sedikit yang jenuh meski hanya enam jam berada di sekolah.

Halaman
123
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved