Ngopi Sore
Full Day School Pak Menteri
Rata-rata penyuara protes mengedepankan persoalan yang diyakini muncul tatkala anak harus mengikuti kegiatan belajar yang dikemas dengan sistem ini.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
BERSELANG kurang lebih dua pekan setelah dipilih Presiden Joko Widodo menggantikan Anies Baswedan di posisi Menteri Pendidikan, Muhajir Effendy membuat gebrakan yang langsung menghebohkan.
Apakah lantaran gebrakan itu demikian aduhainya sehingga beroleh histeria dibarengi puja dan puji? Apakah lantaran gebrakan itu sungguh cerdas sungguh jenius sungguh menakjubkan sehingga mengundang decak kagum?
Sayangnya tidak. Pak Menteri kita mewacanakan perubahan sistem pendidikan. Tepatnya, sistem belajar mengajar. Beliau ingin sekolah-sekolah di Indonesia, mulai tingkat SD sampai SMA, menerapkan sistem full day school atau belajar (di sekolah) sehari penuh.
Wacana Menteri Muhajir segera disambut riuh. Protes, tentu saja. Di media sosial, keriuhan menjadi-jadi. Banyak yang menuliskan ketidaksepakatannya dengan kalimat-kalimat yang serba bernada tajam dan keras, bahkan kasar dan emosional --saking emosinya sehingga kalimat- kalimat itu melenceng dari substansi.
Sampai di sini mencuat pertanyaan. Apakah wacana Pak Menteri kita ini memang kacau dan ngawur? Saya kira tidak. Saya kira dia benar, tapi hanya separuh. Artinya, dalam kebenaran pemikirannya terselip kekeliruan. Dan kekeliruan ini, fatal.
Rata-rata penyuara protes mengedepankan persoalan-persoalan yang diyakini muncul tatkala anak harus mengikuti kegiatan belajar yang dikemas dengan sistem full day school.
Berada di urutan pertama adalah hubungan orang tua dan anak yang dikhawatirkan jadi renggang. Disusul keterpisahan anak dari lingkungan rumah dan pergaulan, serta tingkat kejenuhan yang sangat tinggi. Beberapa yang lain menyebut ketiadaan waktu untuk bermain (tercerabut dari masa kanak-kanak) dan makin minimnya waktu untuk mempelajari agama.
Semua persoalan yang diidentifikasi ini memang termungkinkan untuk terjadi. Akan tetapi, mesti jujur pula diakui, bahwa tanpa sistem full day school pun, persoalan-persoalan tersebut tetap bisa muncul.
Hubungan orang tua dan anak, misalnya, bisa saja renggang walau anak bersekolah di sekolah yang menjalankan sistem belajar-mengajar reguler. Sebaliknya banyak hubungan orangtua dan anak yang bersekolah sehari penuh yang justru semakin rapat dan akrab. Kerenggangan atau ketidakrenggangan, saya kira, lebih banyak ditentukan oleh sikap dan perilaku orangtua terhadap anak dan anak terhadap orang tua.
Persoalan-persoalan yang lain juga serupa. Tak sedikit anak yang menjelma mahluk asosial, introvert, kurang atau bahkan tidak gaul padahal yang bersangkutan bersekolah di "sekolah biasa". Masuk jam 07.30 pulang pukul 14.00. Tak sedikit yang jenuh meski hanya enam jam berada di sekolah.
Nah, atas ini tentu pula ada yang bertanya: jika enam jam saja jenuh konon pula sembilan jam? Perlu digarisbawahi bahwa sembilan jam di sekolah ini tidak melulu belajar. Tidak melulu duduk dalam kelas melipat tangan mendengarkan guru-guru berbicara. Ada sejumlah aktivitas di luar kelas. Ada olahraga (sepakbola, fusal, bulutangkis, basket, voli, renang, beladiri), ada berkesenian (musik, sastra, teater, tari-tarian), pramuka, dan lain-lain. Ada jadwal makan siang bersama, ada salat berjamaah, ada pengajian, dan ada pelajaran khusus agama.
Pascamengikuti aktivitas yang seabrek-abrek ini, tepat pukul 16.00 (ada juga yang berakhir pukul 16.30 dan pukul 17.00), siswa pulang ke rumah. Lantas, 'sampai di rumah harus mengerjakan pekerjaan rumah lagi, kan?', tulis para pelontar protes lagi. Jawabannya, sepanjang yang saya tahu, tidak. Sekolah dengan sistem belajar sehari penuh yang benar-benar mengaplikasikan sistem ini dengan betul (sebab ada juga yang menjalankan secara tanggung, setengah-setengah), sama sekali tak mengenal pekerjaan rumah. Seluruh proses yang berkaitpaut dengan akademik dikerjakan dan diselesaikan di sekolah.
Baik, jika demikian, kenapa ada anak yang mengalami kejenuhan akut hingga kemudian jatuh sakit dan terganggu psikologisnya? Yang seperti ini saya kira tergantung penuh pada orang tua. Yakni bagaimana mereka memandang pendidikan itu sendiri. Apakah sekadar mengacu pada hasil akhir dalam bentuk nominal dan ranking, atau pada proses pembentukan dan pematangan cara berpikir, nalar, intuisi, simpati, empati, dan perasaan.
Apabila mengacu pada nominal dan ranking, maka mereka akan memaksa anak untuk selalu jadi yang terbaik di kelasnya. Menjadi nomor satu di rapor. Menjadi penghafal-penghafal nomor wahid yang secara mencengangkan mampu mengulang tiap deret teks dalam buku tapi sama sekali tidak tahu cara menerjemahkan dan melaksanakannya dalam keseharian. Dan untuk itu, sepulang dari sekolah yang sudah satu harian itu, mereka akan mengirim si anak mengikuti les ini dan les itu. Bahkan di hari-hari libur di mana seharusnya anak bisa beristirahat dan melakukan interaksi sosial di lingkungan rumah dan pergaulan.
Jika tidak, saya kira tidak masalah. Sepulang dari sekolah anak-anak tetap bisa bergaul. Tetap bisa bermain-main yang mereka suka. Tetap bisa menonton tayangan-tayangan yang menghibur di televisi (jika ada?). Tetap bisa iseng-iseng di media sosial atau bersenang-senang memainkan game online. Pendeknya, lepas dari beban akademik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/pul-dae_20160809_140553.jpg)