Ngopi Sore
Full Day School Pak Menteri
Rata-rata penyuara protes mengedepankan persoalan yang diyakini muncul tatkala anak harus mengikuti kegiatan belajar yang dikemas dengan sistem ini.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
Lalu pertanyaannya, mengapa wacana Pak Menteri kita hanya separuh benar? Karena beliau cuma melempar wacana besar tanpa memaparkan teknis-teknisnya. Sekolah satu hari penuh atawa full day school akan diterapkan untuk memperbaiki mutu pendidikan nasional, kata beliau.
Tidak disebut kapan mulai diterapkan dan apakah penerapannya merata untuk seluruh sekolah di Indonesia, termasuk sekolah-sekolah yang dikelola pemerintah (sekolah negeri) yang berada di daerah-daerah yang bahkan sulit ditemukan jika tidak teliti betul mencarinya di peta Indonesia.
Sebab jika menyeluruh dan diterapkan segera, ini terang blunder yang konyol. Bukan memperbaiki tapi malah menghancurkan sehancur-hancurnya. Kenapa? Sistem itu tidak siap dijalankan karena secara umum kualitas sekolah, kualitas (dan juga kuantitas) guru, belum memadai.
Sistem sekolah sehari penuh membutuhkan guru-guru kompeten dalam jumlah banyak. Kenyataannya, masih tidak sedikit sekolah yang guru-gurunya merangkap mengajar di dua bahkan tiga kelas sekaligus. Mengajar seluruh mata pelajaran, mulai dari matematika, ilmu alam, bahasa Indonesia, sampai kesenian dan olahraga. Guru super? Tidak, mereka melakukannya lebih karena situasi. Lebih karena keterpaksaan.
Apakah semua sekolah di Indonesia sudah memiliki fasilitas olahraga yang lengkap? Tentu saja tidak. Jumlah sekolah yang memiliki kolam renang di dalam lingkungan sekolah bisa dihitung dengan jari. Laboratorium-laboratorium pun kebanyakan masih sangat standar. Seringkali tidak lengkap. Jangankan itu, masih banyak sekali sekolah (bahkan di kota-kota besar) yang bangunan-bangunannya sangat buruk.
Bagaimana pula dengan asupan makanan untuk siswa? Sangat sedikit sekolah yang menyediakan makanan untuk siswa-siswa mereka. Makanan-makanan ini pengadaaannya juga tidak gratis karena masuk dalam komponen uang sekolah yang dibayarkan setiap bulannya. Jadi artinya mesti ada kesepakatan timbal-balik antara pihak sekolah dengan orang tua. Apakah yang seperti ini siap diterapkan? Apakah seluruh orang tua bersedia?
Sekolah yang menjalankan sistem belajar sehari penuh pada dasarnya bukan barang baru di Indonesia. Terutama di kota-kota besar. Anak-anak yang bersekolah di sana tidak sedikit. Dan tidak ada masalah karena para orang tua yang menyekolahkan anak-anaknya di sana, sejak awal sudah memahami dan menyepakati diberlakukannya sistem ini.
Tapi persoalannya memang jadi sungguh-sungguh berbeda tatkala sistem ini hendak "dimassalkan", terlebih-lebih dengan cara yang cenderung dipaksakan.
twitter: @aguskhaidir
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/pul-dae_20160809_140553.jpg)