Ngopi Sore
Ahok, Al Maidah, dan Perkara Bohong-membohongi
Dari sudut pandang kalimat, dalam hal ini strukturnya, Ahok melakukan kekeliruan.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
GUBERNUR Jakarta Basuki Tjahaja Purnama kembali bikin geger. Berbicara di depan warga Kepulauan Seribu, Ahok, sapaannya, menyampaikan kalimat-kalimat yang membuat dia dituding melecehkan Islam.
"Bapak ibu tidak bisa pilih saya, dibohongi pakai Al Maidah 51, macam-macam gitu, lho."
"Itu hak bapak ibu. Jadi kalau perasaan bapak ibu merasa gak bisa milih, nih, karena saya takut masuk neraka, dibodohi gitu, ya. Gak apa-apa, karena itu, kan, panggilan pribadi bapak ibu. Program ini jalan saja. Jadi, ya, bapak ibu gak usah merasa gak enak. Dalam nuraninya gak bisa pilih Ahok."
Rekaman video pertemuan Ahok dan warga Kepulauan Seribu ini kemudian tersebar di media sosial. Dan Ahok pun segera jadi sasaran perisakan secara nasional. Terjadi pro dan kontra. Banyak yang menyebut Ahok melecehkan Islam. Banyak juga yang bilang tidak. Ada yang sekadar debat kusir. Ada yang menukik lebih jauh ke dalam struktur kalimatnya. Rangkaian kata demi kata. Dan lima kata yang disoroti adalah 'dibohongi', 'pakai', 'Al Maidah', 'neraka', dan 'dibodohi'.
Apakah Ahok benar melakukan pelecehan, saya, setidaknya sampai sejauh ini, tidak berani memastikan. Pelecehan hanya berbatas dinding tipis dengan penistaan dan saya merasa tidak punya kapasitas (menyangkut ilmu dan kepantasan) untuk menuding seseorang melakukannya. Tapi dari sudut pandang kalimat, dalam hal ini strukturnya, saya bisa menyebutkan dengan yakin bahwa Ahok melakukan kekeliruan.
Mari kita periksa kalimat pertama. "Bapak ibu tidak bisa pilih saya, dibohongi pakai Al Maidah 51, macam-macam gitu, lho."
Al Maidah 51 yang dimaksud Ahok tentunya Surah Al Maidah ayat 51. "Hai orang-orang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai wali (mu). sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim."
Perdebatan seputar Al Maidah ayat 51 selama ini terjadi di seputaran asbabun nuzul: sebab- sebab atau latar belakang atau sejarah turunnya ayat. Juga apakah wali sama dengan pemimpin dan pemimpin yang dimaksud adalah pemimpin agama atau pemimpin negara, atau pemimpin dalam peperangan atau pemimpin perekonomian, atau pemimpin dalam rumah tangga?
Banyak versi pendapat sebagaimana tidak satu pula asbabun nuzul yang mengemuka, dan saya memang tidak akan membahasnya di sini. Saya hanya ingin menyoroti kalimat 'dibohongi pakai Al Maidah 51' yang oleh sebagian pihak dianggap sebagai pelecehan, karena atas kalimat ini Ahok dipandang telah menuding Al Maidah ayat 51 sebagai kebohongan.
Dari struktur kalimatnya, saya ingin bilang bahwa Ahok tidak hendak menyebut begitu. Ada kata 'pakai' di sana. Dengan demikian, terdapat situasi di mana ada 'pihak' yang 'menggunakan' dan ada 'sesuatu' yang 'digunakan', sebagai 'alat'. Surah Al Maidah ayat 51 di sini adalah alat. Yakni alat yang dikedepankan oleh pihak-pihak tertentu sebagai semacam tolok ukur untuk menilai, menimbang-nimbang, dan kemudian memutuskan tidak memilih Ahok dalam Pemilu Kepala Daerah Jakarta.
Maka dari sini bisa disimpulkan bahwa Al Maidah ayat 51 bukan kebohongan. Al Maidah ayat 51 adalah kebenaran yang digunakan untuk membohongi warga (agar tidak memilih Ahok).
Tapi benarkah demikian? Sama sekali tidak. Di sinilah justru letak kekeliruan terbesar Ahok. Sekali lagi, sama sekali tidak ada upaya bohong-membohongi, karena 'alatnya' adalah hal yang benar dan disampaikan juga secara benar. Peruntukannya benar --terlepas dari perdebatan perihal asbabun nuzul dan pemaknaan wali dan pemimpin.
Kalimat pertama berkaitpaut erat dengan rangkaian kalimat kedua. Ada enam kalimat namun keriuhan pembahasan pada umumnya berhenti pada dua rangkaian awal. "Itu hak bapak ibu. Jadi kalau perasaan bapak ibu merasa gak bisa milih, nih, karena saya takut masuk neraka, dibodohi gitu, ya". Tiga rangkaian berikutnya, yang merupakan konteks persoalan, yakni topik pertemuan Ahok dan warga, tidak dibahas.
Dua kata dari dua rangkaian awal kalimat kedua yang paling mendapat sorotan adalah 'neraka' dan 'dibodohi'. Neraka, jelas, adalah tafsir yang paling umum, yakni konsekuensi dari pelanggaran terhadap Al Maidah ayat 51. Pelanggaran terhadap Al Maidah ayat 51 berarti menentang Al Quran dan menentang Al Quran adalah bentuk sahih dari penentangan kepada Allah. Dan siapapun yang menentang Allah akan dijerumuskan ke neraka.
Apakah penempatan-penempatan kata 'neraka' (satu di antara kata yang paling kerap ditegaskan untuk "mengukur iman" selain 'dosa') merupakan upaya pembodohan? Jika hubungannya adalah kata 'dibohongi' pada kalimat pertama, maka jawabannya tidak. Tapi apabila konteks dan sudut pandangnya berbeda, dan kata 'dibohongi' diganti menjadi 'ditakut-takuti', kata 'neraka' memang menjadi pembodohan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/ahokkks_20161008_174152.jpg)