Baca Selengkapnya di Tribun Medan

Ibu Pingsan Tolak Penggusuran

"Tolong-tolong Pak Polisi jangan tangkap anakku. Jangan bawa kami. Kami sekadar mempertahankan rumah," teriaknya, sembari terdengar perintah"

Tribun Medan / Jefri
Tidak senang rumahnya digusur, wanita berambut panjang ini melawan petugas 

"Kalian hanya berani sama masyarakat kecil. Jangan bawa kami, mohon biarkan kami bersama," teriak Atika sembari meneteskan air mata.

Baca: PT KAI Libatkan TNI, Polisi dan Satpol PP untuk Gusur 21 Rumah

Melihat keadaan Yeyen yang sudah tergeletak, beberapa warga berteriak. Warga berupaya menolong Yeyen dengan cara membongkar tumpukan besi. Kasat Sabhara Polrestabes Medan Kompol Siswandi juga langsung menginstruksikan kepada personel Sabhara untuk membongkar tumpukan besi.

"Bongkar besinya, ayo bongkar, tim kesehatan panggil. Cepat panggil tim medis ke sini," ujarnya sembari mengangkat besi. Setelah berhasil membongkar tumpukan besi, petugas langsung mengangkat Yeyen ke kawasan depan Yanglim Plaza. Suara tangispun bergema di lokasi.

Usai mendapatkan perawatan medis, Yeyen menceritakan, sejak berusia 10 tahun sudah tinggal di pinggir rel kereta api.

"Saya sudah puluhan tahun menetap di sini. Hampir 50 tahun. Orangtua saya dulu pindah dari Jalan Wahidin ke sini," katanya.

Puluhan tahun lalu, lanjutnya, kawasan pinggir rel, belum ramai. "Kami, garap sendiri tapi ada izin PTKAI. Jadi bayar tahunan. Tapi lama-lama uang sewa per meter sudah Rp 300 ribu. Kami juga bayar PBB," ujarnya.

Ia menjelaskan, setelah menikah, tetap membangun rumah di atas tanah PT KAI. Namun, tetap mengajukan permohonan sewa. Karena itu, dia berat keluar dari Jalan Timah, Medan.

Baca: Ibunya Pingsan, Perempuan Muda Ini Adang Polisi saat Penggusuran

"Saya menikah dan berkeluarga di sini. Terakhir kami bayar sewa pada 2005. Harga sewa tanah pada 2005 berkidar Rp 300-an. Tapi, sejak 2005 hingga penggusuran, PTKAI tidak menerima uang sewa," katanya.

Ia merasa sedih, melihat rumahnya hancur. Karena itu, ia berencana tidur di musala bersama tujuh anaknya.

"Tinggal di musala dulu, dek. Suami saya sudah empat tahun meninggal. Apalagi anak-anak masih kecil, kami tidak punya rumah juga," ujarnya.

Ia mengungkapkan, ketujuh anaknya perempuan semua. Saban hari, anak-anaknya membantunya jualan minuman dan makanan ringan.

"Kalau setiap pagi, pukul 08.00 WIB, saya jadi kuli angkut. Saya bantu orang-orang yang berjualan di pajak. Adapun ketujuh anaknya adalah Erlina Bangun, Mariam Bangun, Atika Reformasi Bangun, Mega Bangun, Weni Bangun, Aura Safrina Bangun, dan Putri Seven Bangun," katanya.

Empat dari tujuh anaknya sedang sekolah. Karena itu, ia kecewa terhadap pemerintah, lantaran uang tali asih hanya Rp 1,5 juta.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved