Ngopi Sore
Jessica dan Kematian di Olivier Cafe
Apakah Jessica benar pembunuh Mirna? Dia didakwa bersalah. Pun apabila diputuskan sebaliknya, kekaburan tetap menyergap.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
Belum tentu. Sebab tanpa informasi dari satu di antara Jessica, Hani, atau Vera Rusli, mustahil bagi Arief untuk tahu lokasi pertemuan mereka. Siapa yang memberitahukan? Bisa Jessica. Bisa juga Hani dan Vera Rusli. Tapi mungkin saja tidak mustahil. Mungkin bukan Jessica, Hani, atau Vera yang memberitahu Arief. Bisa saja, bisa secara kebetulan atau memang disengaja, Arief membuka telepon selular Wayan Mirna, dan saat mengetahui adanya pertemuan tersebut, muncul niatnya untuk menghabisi.
Tapi, lagi-lagi, dugaan sekadar berakhir sebagai dugaan. Motif Arief Soemarko membunuh Wayan Mirna tidak pernah bisa dibuktikan secara konkret. Olivier Cafe dikelilingi CCTV. Mal Grand Indonesia juga disesaki CCTV. Dan dari sekian banyak CCTV, tak satu pun yang merekam keberadaan Arief Soemarko pada hari di mana saksi mengaku melihat lelaki mirip dia datang ke Olivier Cafe.
CCTV ini semestinya bisa menjerat Jessica. Apabila dia yang memasukkan dan mencampurkan larutan sianida ke gelas berisi Vietnamese Iced Coffee, maka tentunya aksi itu akan terekam. Ternyata tidak juga. Memang ada Jessica di rekaman tersebut. Akan tetapi, momentum ini tidak ada.
Jessica terekam di beberapa adegan, namun tidak tampak adanya gerakan yang sangat- sangat sahih yang menunjukkan dia memasukkan sianida ke dalam minuman yang dipesankannya untuk Mirna. Hanya gerakan yang kelihatan seolah-olah sedang mengambil sesuatu dan menuangkan sesuatu. Pun gelagat menggaruk-garuk yang diduga sebagai reaksi yang ditimbulkan oleh bekas larutan sianida yang menetes. Tidak seorang ahli pun berani memberikan kepastian.
Jadi siapa pembunuh Wayan Mirna? Ataukah jangan-jangan dia tidak dibunuh? Apakah mungkin Mirna meninggal oleh sebab-sebab alami? Penyakit, misalnya? Kemungkinan- kemungkinan ini juga sudah dikupas dan dicacah-cacah, termasuk diperiksa oleh kalangan ahli, dan hasilnya, sebagaimana motif Jessica dan Arief Soemarko, tidak ditemukan fakta kebenaran yang meyakinkan.
Pertanyaannya, mengapa Jessica tetap dihukum? Saya tidak tahu persis. Barangkali karena dari sekian motif, hanya motif Jessica yang dinilai paling memungkinkan untuk dijadikan alasan membunuh Wayan Mirna. Kecenderungan yang --setidak-tidaknya-- bisa dicermati dari paparan majelis hakim dalam berkas putusan sepanjang 377 halaman yang dibacakan selama lebih dari empat jam itu.
Putusan sudah dijatuhkan. Jessica Kumala Wongso harus mendekam di tahanan selama 20 tahun. Tapi misteri belum pecah. Apakah Jessica benar-benar pembunuh Wayan Mirna?
Di sidang pembacaan vonis, Jessica, seperti sering diperlihatkannya pada sidang-sidang sebelumnya, bersikap sangat tenang. Ekspresi wajahnya dingin sekali. Gambaran sikap orang yang sungguh-sungguh yakin dirinya tidak salah atau psikopat? Sayang, Agatha Christie dan Truman Capote juga sudah lama mati.
twitter: @aguskhaidir
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/jess2_20161027_160539.jpg)