Ngopi Sore
Sumpah, Kami akan Terus Mengingat Munir
Momentum-momentum sejarah yang diperingati setiap tahun, termasuk Sumpah Pemuda, makin jatuh kepada rutinitas seremonial
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
Harapan tinggal pada kerja Tim Pencari Fakta (TPF) Munir. Konon mereka telah bekerja dan konon pula hasilnya sudah diserahkan pada Presiden Indonesia keenam, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Presiden ketujuh, Joko Widodo (Jokowi), atas desakan banyak pihak yang mengingatkan pada janji kampanyenya, membuka kembali kasus ini. Hasil kerja TPF Munir, yang ternyata disimpan oleh SBY (atau pihak yang dipercaya SBY?), disebut-sebut sudah diserahkan (pada tim yang dibentuk Jokowi) meski dalam bentuk fotokopian --lantaran aslinya dikatakan hilang.
Bagaimana berkas teramat penting ini bisa hilang otak saya tak sanggup mencerna dan karena itu sebaiknya tidak saya bahas. Barangkali SBY (atau pihak yang dipercaya SBY?) betul-betul alpa, lupa meletakkan dan menyimpannya di mana, atau mungkin saja memang menganggapnya tidak lebih penting dari contekan kunci gitar lagu Kangen Band.
Sekali lagi saya tidak tahu dan tak berani menebak-nebak. Oleh sebab itu, saya, dengan kapasitas sebagai pemuda yang sudah tidak lagi terlalu muda, cuma ingin mengubah kata 'saya' dengan 'kami'. Bahwa kami akan terus mengingat Munir. Apakah boleh?
twitter: @aguskhaidir
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/munir_20161028_180428.jpg)
