Ngopi Sore

Sumpah, Kami akan Terus Mengingat Munir

Momentum-momentum sejarah yang diperingati setiap tahun, termasuk Sumpah Pemuda, makin jatuh kepada rutinitas seremonial

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
MUNIR Said Thalib 

Goenawan Mohamad menulis esai tentang Munir (sampai dua kali) di Tempo. Tapi esai-esai ini juga tak menerangjelaskan apa-apa kecuali menambah-nambah kadar kesedihan dan pemakluman (yang dipaksakan) terhadap satu perkara: betapa di negeri orang-orang yang dianggap berbahaya memang harus selalu sangat berhati-hati lantaran setiap saat bisa dibungkam.

Harapan tinggal pada kerja Tim Pencari Fakta (TPF) Munir. Konon mereka telah bekerja dan konon pula hasilnya sudah diserahkan pada Presiden Indonesia keenam, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Presiden ketujuh, Joko Widodo (Jokowi), atas desakan banyak pihak yang mengingatkan pada janji kampanyenya, membuka kembali kasus ini. Hasil kerja TPF Munir, yang ternyata disimpan oleh SBY (atau pihak yang dipercaya SBY?), disebut-sebut sudah diserahkan (pada tim yang dibentuk Jokowi) meski dalam bentuk fotokopian --lantaran aslinya dikatakan hilang.

MUNIR2

Bagaimana berkas teramat penting ini bisa hilang otak saya tak sanggup mencerna dan karena itu sebaiknya tidak saya bahas. Barangkali SBY (atau pihak yang dipercaya SBY?) betul-betul alpa, lupa meletakkan dan menyimpannya di mana, atau mungkin saja memang menganggapnya tidak lebih penting dari contekan kunci gitar lagu Kangen Band.

Sekali lagi saya tidak tahu dan tak berani menebak-nebak. Oleh sebab itu, saya, dengan kapasitas sebagai pemuda yang sudah tidak lagi terlalu muda, cuma ingin mengubah kata 'saya' dengan 'kami'. Bahwa kami akan terus mengingat Munir. Apakah boleh?

twitter: @aguskhaidir

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved