Ngopi Sore
Untuk Apa Datang ke Hambalang, Pak Jokowi?
Peristiwa ini jelas istimewa. Bukan semata-mata lantaran status keduanya, tetapi juga berbagai kemungkinan latar belakang pertemuan itu sendiri.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
PRESIDEN Joko Widodo mendadak datang ke kawasan Bukit Hambalang, Bogor, kediaman Prabowo Subiyanto. Tidak ada heboh-heboh sebelumnya. Sekitar pukul 12.30 WIB, rombongan kecil presiden tiba di gerbang megah rumah Prabowo, dan penjaga gerbang tersebut, yang berseragam layaknya tentara dari negeri antah barantah, segera menutupnya. Tidak seorangpun diizinkan melewatinya.
Peristiwa ini jelas istimewa. Bukan semata-mata lantaran status keduanya, tetapi juga berbagai kemungkinan latar belakang pertemuan itu sendiri. Atas kepentingan apa Jokowi datang ke Hambalang?
Satu yang pasti, bukanlah kepentingan yang main-main. Jokowi, sebagai presiden, tentu saja tak akan datang ke rumah seorang mantan jenderal yang terpaksa mengakhiri karier dengan cara kurang aduhai, pimpinan partai politik oposisi, dan lawan politik yang dikalahkan, jika sekadar untuk perkara remeh-temeh semacam main kuda-kudaan pakai topi koboi, makan nasi goreng, atau nonton marching band.
Pasti ada kepentingan besar. Kepentingan yang apabila tidak segera dicari jalan penyelesaiannya akan sampai membikin negara ini jungkir-balik lalu hancur jadi debu. Apakah itu? Apakah terkaitpaut rencana aksi besar-besaran 4 November 2016 yang bertujuan menghempang jalan Basuki Tjahaja Purnama atawa Ahok menuju kursi Gubernur Jakarta?
Maaf, saya memang berpendapat demikian. Saya sependapat bahwa tindakan Ahok yang mengutip Al Maidah 51 dan berpendapat atasnya, bukanlah tindakan bijak. Terlepas apakah yang bersangkutan nonmuslim atau tidak, seyogianya ayat-ayat suci memang sangat tidak etis dibebastafsirkan tanpa kompetensi (bukan oleh ahli tafsir) dan diumbar-umbar untuk hal-hal yang menyangkut kepentingan politik praktis seperti ini. Dan terlepas dari telaah linguistik kalimat Ahok (secara utuh) yang melahirkan dua kesimpulan berbeda: Ahok menistakan Al Maidah dan Ahok tidak menistakan Al Maidah, semestinya, dia lebih bisa menahan diri.
Akan tetapi, saya juga kurang sependapat dengan pergerakan massif anti Ahok yang digeber kencang di berbagai daerah di Indonesia. Bagi saya, sikap tiada maaf bagi Ahok --meski yang bersangkutan sudah berulangkali mengakui kesalahan dan berjanji tidak mengulang perbuatan tersebut-- adalah sekadar perwujudan dari ambisi lain, yakni ambisi untuk menyingkirkan Ahok dari jalur persaingan. Bahwa Ahok tidak boleh jadi gubernur lagi.
Terserah mau Anies Baswedan atau Agus Harimurti, asal jangan Ahok. Dan sampai sejauh ini, satu-satunya jalan yang paling masuk akal untuk memukul jatuh Ahok secara telak hanyalah kasus keterpelesetannya terkait Al Maidah 51.
Sejumlah ormas menyerukan aksi unjuk rasa besar-besaran di tanggal 4 November. Konon disebut-sebut, ratusan ribu orang akan turun serentak di Jakarta dan kota-kota besar lain di Indonesia. Di media sosial, banyak seruan dipampangkan. Beberapa di antaranya membikin bulu kuduk berdiri. Ada yang menempatkan aksi ini sebagai jihad, sehingga sekiranya kematian menjemput saat mengikutinya, maka surga yang akan jadi ganjaran. Mereka, katanya, mencium wangi surga di Jakarta.
Pertanyaan tadi belum terjawab. Apakah Jokowi datang ke Hambalang menemui Prabowo lantaran rencana unjuk rasa 4 November? Semacam upaya untuk meredam lantaran selama ini, suara Prabowo, "cenderung didengar" oleh penggedor-penggedor utama unjuk rasa seperti FPI pimpinan Rizieq Shihab?
Saya agak ragu. Jika tidak hati-hati, aksi ini memang memungkinkan, potensial meluas menjadi kekacauan yang lebih luas. Akan tetapi saya percaya pemerintah sudah melakukan langkah antisipasi. Pemerintah tidak akan membiarkan negeri ini hubar-habir cuma gara-gara polemik yang meletus gara-gara keterpelesetan omong seorang Ahok.
Jika tidak, lalu apa? Jokowi, seperti biasa, menampilkan kemasan yang ringan. Penuh tawa. Bercerita kesana-kemari perihal kuda putih, topi koboi, nasi goreng dan tertawa bareng-bareng. Selain itu, katanya, ada juga bahasan politik dan situasi dalam negeri. Tentang unjuk rasa 4 November?
Jokowi menggeleng. Ada dibicarakan, tapi tidak spesifik, katanya. Prabowo menambahkan: "saya selalu berharap suasana sejuk. Pak Presiden juga menyampaikan demonstrasi itu konstitusional tetapi sejuk. Kita jaga jangan ada unsur-unsur yang mau memecah belah bangsa. Kita adalah negara yang majemuk."
Sekali lagi, sebagai presiden, saya kira Jokowi tak akan menghabiskan waktunya yang sungguh- sungguh berharga untuk perkara remeh-temeh. Pasti ada bahasan tingkat tinggi. Maka jika bukan unjuk rasa 4 November, lalu apa?
Satu-satunya perkara yang mampu menyaingi, bahkan melebihi, tingkat kegawatan ancaman perpecahan dan instablititas negara lantaran pemilihan Gubernur Jakarta adalah wacana pemerintah melanjutkan penyelidikan kasus kematian aktivis Munir Said Thalib.
Berdasarkan rekomendasi Tim Pencari Fakta (TPF) Kasus Munir, terdapat poin yang sangat penting, yakni rekomendasi kepada presiden untuk memerintahkan Kapolri agar melakukan penyelidikan yang lebih mendalam terhadap kemungkinan peran sejumlah nama dalam permufakatan jahat melakukan pembunuhan berencana terhadap Munir.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/jokprabss_20161031_185750.jpg)