Unjuk Rasa
Menuai Pro dan Kontra usai Wakil Wali Kota Sebut Arab Spring
Dimaknai sehubungan dgn hari ini 4 Nov saat sebagian ummat Islam akan berunjuk rasa, koq statement ini terkesan tdk menyejukkan.
TRIBUN-MEDAN.com - Wakil Wali Kota Medan Akhyar Nasution melontarkan pernyataan yang dinilai memperkeruh suasana dalam akun media sosialnya terkait aksi unjuk rasa menuntut Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).
Kader PDI Perjuangan tersebut mengatakan kalau "Arab Spring" hanya sebagai mimpi dengan melakukan kudeta atas pemerintahan yang sah saat ini.
"Mimpinya "arab spring". Hasrat politik! (beberapa group WA yg aku menjadi anggota groupnya)," tulis Akhyar Nasution dalam wall (dinding) akun Facebooknya, hari ini Jumat (4/11/2016).
Baca: Imbau Jokowi Berhati-hati, Fahri Hamzah Sebut Dua Cara untuk Menggulingkan Presiden
Sementara itu aksi yang dilakukan oleh berbagai elemen masyarakat dan ormas Islam di berbagai daerah untuk menuntut Ahok diproses hukum karena dinilai melakukan penistaan agama.
Ahok dianggap melecehkan Alquran terkait pidatonya di Pulau Seribu tekait surat Al Maidah (ayat) 51.
Postingan ini membuat netizen dominan melontarkan kecaman terhadap Akhyar yang dinilai lebih baik mengurus kota Medan dari pada melontarkan cibiran soal demo 4 November yang saat ini lagi berlangsung di berbagai daerah di Indonesia.
Hingga berita ini diturunkan postingan Akhyar mendapat 129 like dan 55 komentar dan 7 kali dibagikan.
Baca: Kasus Ahok Pintu Masuk Melengserkan Jokowi
Politisi Partai Demokrat Tengku Dirkhansyah Abu Subhan Ali yang pernah duduk sebagai anggota DPRD Sumatera Utara menganggap apa yang disampaikan Akhyar tidak cocok bagi seorang Wakil Walikota Medan.
"Gagal paham sy kemana arah pak Wawa ini. Dimaknai sehubungan dgn hari ini 4 Nov saat sebagian ummat Islam akan berunjuk rasa, koq statement ini terkesan tdk menyejukkan. Apalagi ini dtg dr seorang Wakil Walikota Medan. Insha Allah status Bpk bkn terkait rencana demo hari ini ya Pak," tulis Tengku Dirkhansyah AS Ali.
Sementara itu TNI melihat kesamaan gejala demo 4 November dengan Arab Spring.
Arab Spring merupakan aksi revolusi yang pernah dilakukan di negara Timur Tengah untuk menggulingkan pemerintahan yang sah.
Wuryanto menuturkan hal tersebut menyikapi situasi politik yang makin memanas belakangan ini, termasuk rencana unjuk rasa anti-Basuki Tjahaja Purnama.
"Melihat sejarah perkembangan Arab Spring, mulai dari Mesir, Libya, dan Suriah, semua yang terjadi saat itu hampir tidak ada bedanya dengan (Indonesia) hari ini," ujarnya di Jakarta, Selasa (1/11) kemarin.
Arab Spring dimulai dari penggulingan Presiden Tunisia, Zine El Abidine Ben Ali.
Secara berturut-turut, pemimpin negara Arab lainnya juga jatuh dari kekuasaan, yaitu Presiden Mesir Hosni Mubarak dan penggantinya Mohammed Morsi, Presiden Libya Muammar Khadafi, dan Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh.
Sementara itu, sebelumnya Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo menyebut ada sosok yang ingin mengambil kesempatan pada unjuk rasa 4 November nanti.
Orang tersebut, kata Tjahjo, berambisi menjadi presiden Indonesia.
"Kalau ada oknum yang ingin membangun sebuah negara dan ideologi baru atau menjadi presiden, tunggu mekanisme lima tahunan yang telah dibangun," tuturnya.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/demonstrasi-yang-dilakukan-massa-umat-islam-menuntut-ahok-diproses-hukum_20161104_154649.jpg)