Ngopi Sore
Pembantaian Rohingya dan Diktator Bernama Aung San Suu Kyi
Curiga yang dilandasi ketakutan politik. Ketakutan berkurangnya pengaruh di kalangan mayoritas dan karena itu memang mesti berpihak.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
PADA suatu masa saya suka mengenakan kaus yang pada bagian dadanya terpampang gambar wajah Aung San Suu Kyi. Saya tak akan mengenakannya lagi sekarang. Dan sekiranya ada, saya memilih menggantinya dengan wajah pedagang Mi Aceh di dekat rumah saya. Bagi saya, laki- laki berwajah tak tampan dan berangasan itu jauh lebih pantas diganjar nobel perdamaian yang pada tahun 1991 diberikan pada Suu Kyi.
Saya tak pernah tahu namanya --dan entah mengapa memang tidak pernah merasa cukup punya waktu luang untuk mencari tahu. Tiap kali berinteraksi dengan dia saya memanggilnya dengan tuturan 'abang' saja. Beberapa orang lain saya dengar menyapanya dengan sapaan yang umum untuk lelaki Aceh, 'Agam'.
Tiga empat tahun lalu, lelaki ini nyaris rutin memberikan makanan pada orang-orang asing yang dikumpulkan di dua hotel kelas melati tak jauh dari kedainya. Orang-orang yang lari dari negerinya, Myanmar. Orang-orang dari Suku Rohingya, etnis minoritas yang kerap diburu, disingkirkan, dan atas nama undang-undang tak lagi diakui sebagai warga negara.
Ada saja yang diberikannya pada orang-orang malang ini. Jika tidak Mi Aceh, ya, Nasi Goreng, atau sekadar mi instan rebus --dengan atau tanpa telur.
Dia tak mematok harga. Berapa yang diberikan diterima. Pun sekiranya orang-orang asing tersebut ngeles, beralasan belum punya uang dan bermohon diberikan keringanan mengutang, dia tersenyum saja. Aku tahu mereka selalu kekurangan duit, kata lelaki itu. Jatah dari PBB sedikit.
Agam memang tidak tahu persis berapa sesungguhnya "jatah PBB" (persisnya International Organization for Migration) yang diterima oleh para pelarian dari Myanmar ini. Dia juga tidak pernah mengorek informasi kapan tanggal pasti jatah tersebut dicairkan setiap bulannya. Toh, dia tersenyum-senyum saja tiap kali para pelarian itu datang dan datang lagi untuk berutang.
Kalau tidak dibayar-bayar bagaimana, Bang, tanya saya satu kali. Dia tertawa, lalu menjawab cepat. "Gak apa-apa. Aku akan dapat lebih banyak, Bang, dari Allah."
Kalimat yang meluncur sangat ringan dan tanpa tendensi apapun dan itu sebabnya, setidaknya bagi saya, jadi sungguh mengharukan. Betapa tulus. Betapa damai. Sangat bertolak belakang dengan kalimat-kalimat politis yang makin lama makin bernada "cari selamat diri" yang melesat dari mulut Aung San Suu Kyi, tokoh besar yang oleh dunia barat pernah ditabalkan sebagai malaikat yang lahir dari rahim demokrasi.

AUNG San Suu Kyi
Nyonya Suu Kyi menggantikan ayahnya, Aung San, memimpin perlawanan terhadap junta militer. Menegakkan demokrasi melawan tirani. Suu Kyi memimpin gerakan oposisi untuk hak-hak asasi di Myanmar, lalu dipenjarakan namun tetap melawan lewat pemikiran-pemikiran dan karenanya diganjar nobel perdamaian.
Dalam Freedom from Fear, buku yang ditulisnya untuk menghormati Aung San, Nyonya Suu Kyi melontar kalimat menohok pada Michael Vaillancourt Aris, suaminya (ketika kalimat ini dilontarkan masih berstatus calon suami) yang berkebangsaan Inggris: "jika bangsaku memerlukan aku, kau harus menolongku untuk menjalankan kewajibanku bagi mereka."
Namun pada akhirnya kita pun tahu betapa kalimat ini tidak berlaku universal. Ini bukan kalimat kemanusiaan. Cuma kalimat politik. Nyonya Suu Kyi, kita tahu, telah sampai di puncak kekuasaan dan apa yang menjadi akhir bagi banyak politisi ternyata juga menjadi akhir baginya. Dan kalimat hebat lain dalam Freedom from Fear, "Bukan kekuasaan yang merusak watak, melainkan ketakutan", jatuh jadi omong kosong.
Nyonya Suu Kyi sekarang dibekap ketakutan itu. Yakni ketakutan kehilangan dukungan mayoritas yang potensial membuat kekuasaan politiknya terancam.

WARGA satu desa di Rakhine berlarian saat api melalap perkampungan mereka.

PUING-puing bangunan tempat tinggal di salah satu desa di Rakhine yang ditinggal penduduknya.
Enam pekan terakhir, seperti dikabarkan media-media internasional, militer Myanmar kembali memberikan tekanan kepada Rohingya. Human Rights Watch merilis laporan terbaru, sebanyak 430 bangunan dibumihanguskan di tiga desa di Rakhine. Tidak kurang 1.200 orang kehilangan tempat tinggal. Puluhan tewas. Belasan perempuan, beberapa di antaranya di bawah umur, konon, mengalami perkosaan.
Total selama enam pekan, lebih 100 orang tewas dan 150 ribu orang hidup di penampungan- penampungan di bawah ancaman penyakit dan kelaparan. Tidak ada bantuan pemerintah sedangkan bantuan dari pihak-pihak luar (negara dan lembaga) tidak diizinkan masuk.
Mass Destruction, tulis The Telegraph dalam berita utama mereka. Dan Time, menyindir Suu Kyi sebagai penerima nobel yang pikirannya tersandera kecurigaan. Iya, curiga yang dilandasi ketakutan politik tadi. Ketakutan berkurangnya pengaruh di kalangan mayoritas dan karena itu memang mesti berpihak.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/rohing6_20161122_134246.jpg)
