Ngopi Sore

Pembantaian Rohingya dan Diktator Bernama Aung San Suu Kyi

Curiga yang dilandasi ketakutan politik. Ketakutan berkurangnya pengaruh di kalangan mayoritas dan karena itu memang mesti berpihak.

Tayang:
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
TIME
PENGUNGSI dari Suku Rohingya, Myanmar, tertidur saat berada di kamp pengungsian di Langsa, Aceh, beberapa waktu lalu. 

Tentara pemerintah bergerak karena adanya rongrongan dari kelompok teroris dan apa yang diberitakan media-media asing, termasuk pemerkosaan, adalah tidak benar, kata Suu Kyi. Dan Tony Cartalucci dalam ulasannya yang dimuat Center for Research on Globalization, menyebut Nyonya Suu Kyi sebagai Myanmar's New Democratic Dictators. Sebutan yang pernah ditulis Lindsay Murdoch dalam kolomnya di The Sydney Morning Herald, tujuh bulan lalu, menyikapi pemilu di negeri itu.

Dukungan mutlak mayoritas, kata Murdoch, membuat Suu Kyi sampai pada titik arogan dan merasa tak perlu menyinggung-nyinggung, apalagi mempercakapkan Rohingya, warga minoritas, muslim, dan segenap penderitaan yang mereka alami akibat tekanan sosial, militer, dan politik. Suu Kyi hanya mementingkan suara untuk dirinya dan partainya. Bagi dia, ini memang semata-mata tentang politik, tentang kekuasaan. Peduli setan dengan kemanusiaan dan segenap tetek bengek hak azasi.

rohing5
SEJUMLAH pengunjukrasa memampangkan poster berisi protes kepada Aung San Suu Kyi yang dinilai tidak menunjukkan kepedulian terhadap nasib etnis Rohingya.

Maka begitulah. Rohingya dan pembantaian terhadap mereka memang semakin nyata membuka sisi-sisi lain Aung San Suu Kyi. Sisi gelap dan ambigu yang sebagian telah dipapar Peter Popham dalam The Lady and the Peacock: The Life of Aung San Suu Kyi.

"Banyak yang mengagumi kisah dan keberaniannya, namun sekarang sudah semakin banyak pula yang tahu bahwa dia bukan perempuan tanpa cela, tanpa prasangka dan batasan-batasan," kata Peter.

Dan saya, memang telah memilih untuk tak lagi memakai kaus bergambar wajah Aung San Suu Kyi. Jika punya kuasa, saya ingin mencabut nobel perdamaian dari dia dan memberinya pada lelaki penjual Mi Aceh itu.

twitter: @aguskhaidir

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved