Breaking News:

Ngopi Sore

Mengistarahatkan Kata, Mengistirahatkan Wiji Thukul ?

Thukul besar di jalan, di antara para demonstran. Di tiap aksi unjuk rasa yang digelar buruh-buruh pabrik di Solo, dia selalu berada di garis depan.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
http://www.dw.com
DOKUMEN foto keluarga saat Wiji Thukul membacakan puisi di sanggar yang didirikannya sebagai wadah kreativitas anak-anak buruh pabrik. 

Jika benar tentunya ini miris sekali. Sebab kata-kata seorang penyair, terlebih-lebih penyair rakyat, tidak akan pernah mati. Kata-katanya akan tetap hidup dan menggema dan merasuk. Akan tetap abadi sepanjang peradaban.

Atau jangan-jangan Yosep Anggi Noen, sang sutradara, punya maksud lain? Kita tahu, pascapelarian ini Wiji Thukul kembali ke Solo, lalu ke Jakarta, kembali berjuang bersama kawan-kawannya para aktivis, lalu menghilang lagi, sampai sekarang. Entah hilang lantaran kembali lari dan menyepi, atau dihilangkan, tidak pernah jelas.

wiji thukul3
FACEBOOK

Sementara itu, sebagian kawan-kawan seperjuangannya sekarang telah berada di jalan lain. Jalan kekuasaan dan berkelindan di dalamnya. Mereka menjadi politisi baru dan pejabat-pejabat baru dan hidup enak dan sering saling pura-pura bersilang pendapat demi partai tempat bernaung.

Apakah ini yang dimaksud Josep? Apakah dia menginginkan Wiji Thukul beristirahat saja supaya kebesarannya tetap terjaga dan tak ikut jadi sontoloyo? (t agus khaidir)

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved