Siswa-siswa Beri Bantuan Bayi Mungil Iftiyah yang Diserang Virus Rubella
“Kita berinisiatif membantu saudara kita yang sedang ditimpa musibah. Hal ini digagas atas pemberitaan secara viral di media beberapa hari belakangan.
Penulis: Muhammad Tazli | Editor: Muhammad Tazli
“Tak berselang lama setelah kedatangan Iftiyah di rumah, kami mulai mencurigai matanya. Akhirnya kami pun mengantarkan Ia kembali ke RSUD dr Pirngadi. Setelah diperiksa, dokter menyatakan katarak kongenital,” ujar Ratih menceritakan kisah buah hatinya itu, sepeti dikutip Baguskali.com.
Iftiyah pun menjalani operasi, penglihatannya masih bisa diselamatkan melalui operasi dan tanam lensa. Tak sampai di sini, sebelum operasi pengangkatan katarak dilakukan, Iftiyah diharuskan melakukan serangkaian pemeriksaan medis antara lain cek darah, jantung dan rontgen paru-paru. Dari hasil pemeriksaan ketiganya, dokter menemukan ada kelainan.
Baca: Dosen UINSU Menderita Penyakit Langka, Butuh Biaya Pengobatan Rp 500 juta
“Hasil rontgen paru-paru menunjukan saat itu, Iftiyah terkena bronco pneumoni namun dokter spesialis anak yang lain menyatakan diagnosa itu salah. Dokter spesialis jantung saat itu juga mulai mencurigai ada virus toxo dan rubella yang menyerang Iftiyah dari sejak dalam kandungan. Alhasil, operasi pun sempat ditunda selama seminggu dan baru dilaksanakan pada 21 Oktober 2016,” katanya.
Cobaan hidup Iftiyah belum berhenti sampai disitu, ia harus kembali menjalani serangkaian tindakan medis karena suhu tubuhnya yang kerap mengalami demam tinggi. Ia bahkan sempat dirawat inap selama tiga hari akibat adanya infeksi pada darahnya.
“Saya tidak begitu mengerti istilah kedokterannya, tapi begitulah yang disampaikan dokter pada kami saat itu,” ujarnya.
Baca Juga: Bayi Mati Kelaparan Setelah Lima Hari Ayah-Ibunya Overdosis Narkoba
Singkat cerita, dokterpun menyarankan agar Iftiyah dirujuk ke rumah sakit RSUP H Adam Malik untuk diperiksa lebih lanjut terkait indikasi adanya virus toxo dan rubella yang menyerang beberapa organ dalam tubuhnya.
“Hari pertama kedatangan kami ke rumah sakit itu, dilakukanlah pengambilan sampel darah untuk memastikan benarkah rangkuman dari semua peristiwa ini adalah karena rubella dan toxo atau lainnya. Menanti hasil cek laboratorium, pemeriksaan lain di hari berikutnya membuat kami bertambah syok hasil pemeriksaan dari ruang echo, menunjukan ada kelainan pada jantungnya,” kata Ratih sedih.
“Ada lubang kecil di luar jantungnya. Kebanyakan orang menyebutnya jantung bocor. Hari berikutnya pemeriksaan THT dan lagi lagi ada masalah pada telinganya. Kata dokter saat itu, Ia belum bisa memastikan di bagian saraf mana yang terganggu. Jika masih ada sisa pendengaran, akan mengunakan alat. Jika tidak ada lagi sisa pendengaran harus operasi melalui pemasangan implant,” kisahnya.
Selasa (27/12/2016) hasil lab pemeriksaan virus TORCH pun keluar, Iftiyah dinyatakan positif terinfeksi virus rubella dari sejak dalam kandungan. “Dokter yang membaca hasil lab kemudian menjelaskan bahwa virus yang ada dalam darahnya, kini sudah menjadi antibodi. Semuanya sudah aman. Hanya tinggal membenahi apa yang sudah dirusak oleh si rubella saja,” katanya.
Namun, Ratih dan suaminya pun masih terkendala dengan alat bantu dengar, karena BPJS hanya menanggung Rp1.000.000 untuk alat tersebut. Sementara harga alat bantu dengar tersebut bisa mencapai sekitar Rp10 juta untuk satu unit, dan sepasang mencapai Rp20 juta lebih.
“Saat ini masih cari alat bantu dengarnya dulu, biar bisa terapi sembari persiapan untuk operasi jantungnya,” kata Ratih.
Rubella Menyebabkan Bayi Lahir Cacat
Sementara itu, dr Adlin Adnan, Sp THT mengatakan, Rubella atau Campak Jerman ini termasuk jenis penyakit dari kelompok Toksoplasma, Rubella, Sitomegalovirus atau CMV dan Herpes simpleks (TORCH). Virus rubella fatal bagi pertumbuhan dan kehidupan janin.
“Janin akan terancam terkena kelainan jantung, kehilangan pendengaran atau tuli ketika dilahirkan, retardasi mental, kelainan pada bentuk dan fungsi mata, katarak, hidrosifalus, gangguan pada sejumlah organ seperti jantung, paru-paru dan limpa, bayi lahir dengan berat badan rendah, hepatitis, radang selaput otak, dan lainnya,” katanya.
Gejalanya, lanjutnya kebanyakan ibu hamil tidak merasakan gejala apa pun, hanya demam ringan, pusing, pilek, mata merah dan nyeri pada persendian. Sampai saat ini, belum ada cara mengobatinya, namun penyakit ini bisa diantisipasi melalui vakain MMR. Untuk itu, tindakan preventif harus digalakkan khususnya oleh pemerintah.