Ngopi Sore

Banjir di Jakarta Antara Takdir dan Pilkada

Dalam politik, kegilaan paling gila sekalipun bisa dianggap wajar belaka. Jangankan banjir. Politik bahkan dapat dengan enteng menertawakan kematian.

Banjir di Jakarta Antara Takdir dan Pilkada
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
BANJIR - Warga berjalan melewati banjir yang menggenangi kawasan Tanjung Duren, Jakarta, Selasa (21/2/2017). Banjir setinggi kurang lebih 75 cm itu disebabkan oleh curah hujan yang tinggi di wilayah DKI Jakarta. 

Namun serangan ini segera berbalik jadi senjata yang menghantam mereka ketika hujan lebat disertai petir yang turun di Jakarta sepanjang Senin malam, 20 Februari 2017, sampai Selasa pagi, membuat sebagian besar wilajah Jakarta terendam dan melumpuhkan aktivitas warga.

JALAN TOL BANJIR - Sejumlah kendaraan melaju melewati banjir yang merendam sisi Jalan Tol Bintaro-Serpong, Pondok Aren, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (21/2/2017). Hujan dengan intensitas tinggi membuat banjir menggenangi Jalan Tol Bintaro-Serpong setinggi 40 cm.
JALAN TOL BANJIR - Sejumlah kendaraan melaju melewati banjir yang merendam sisi Jalan Tol Bintaro-Serpong, Pondok Aren, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (21/2/2017). Hujan dengan intensitas tinggi membuat banjir menggenangi Jalan Tol Bintaro-Serpong setinggi 40 cm. (TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN)
CIPINANG MELAYU BANJIR - Warga berjalan menembus banjir di Kelurahan Cipinang Melayu, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur, kemarin. Banjir kerap terjadi di kawasan ini karena meluapnya Kali Sunter yang melintasi Cipinang Melayu, ditambah, curah hujan yang tinggi sepanjang hari kemarin.
CIPINANG MELAYU BANJIR - Warga berjalan menembus banjir di Kelurahan Cipinang Melayu, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur, kemarin. Banjir kerap terjadi di kawasan ini karena meluapnya Kali Sunter yang melintasi Cipinang Melayu, ditambah, curah hujan yang tinggi sepanjang hari kemarin. (KOMPAS.COM/GARRY ANDREW LOTULUNG)

Maka mudah ditebak. Para anti Ahok, terlepas apakah mereka pendukung calon Gubernur Anies Baswedan atau tidak, menyerang dengan gencar. Terutama sekali di media sosial. Klaim-klaim yang pongah tadi direkam dan diterbitkan ulang, lalu disandingkan dengan foto-foto banjir sebagai semacam pembanding yang sifatnya satire.

Dan di kolom komentar, banyak yang menunjukkan suka cita. Baik suka cita dalam bentuk tersamar maupun yang sebenar-benarnya wantah.

Sudah barang tentu ini ironi. Sungguh tak elok. Bahkan jika koridornya bukan politik dapat disebut sebagai paradoks yang menyedihkan. Bagaimana mungkin bencana disambut suka cita? Akan tetapi persoalannya ini politik, dan dalam politik, memang tidak pernah ada ironi. Tak pernah ada paradoks.

Dalam politik, kegilaan yang paling gila sekalipun bisa dianggap wajar belaka. Jangankan banjir. Politik bahkan dapat dengan enteng menertawakan kematian dan memutarbalikkan kebahagiaan jadi kesedihan.

Lantas, di tengah segenap kengerian Jakarta yang masih pula ditambah dengan silang-sengkarut pilkada dan segala macam kepentingan yang mengiringinya dan membuat mereka terbelah oleh garis yang kini makin tegas dan terang-benderang, apakah yang harus dilakukan warga Jakarta?

Barangkali mengadu kepada Tuhan, seperti dilakukan WS Rendra dalam puisi yang ditulisnya empat puluh tahun lalu, Doa di Jakarta.

Ya, Tuhan yang Maha Hakim,
harapan kosong, optimisme hampa.
Hanya akal sehat dan daya hidup
menjadi peganganku yang nyata.

(t agus khaidir)

Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved