Kunjungan Raja Arab Saudi

Ke Indonesia, Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Mau Apa?

Baik pemberitaan maupun keriuhan netizen itu menyinggung banyak topik, memakai beragam "nada" pula—ada yang biasa-biasa saja, obyektif, analitik,

Tayang:
Ke Indonesia, Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Mau Apa? - raja-salman-tiba-di-bandara-halim-perdanakusuma-tribun_20170301_143439.jpg
KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO
Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud saat tiba di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Rabu (1/3/2017). Presiden Joko Widodo menyambut kedatangan Raja Salman dan rombongan.
Ke Indonesia, Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Mau Apa? - raja-arab-saudi-salman-bin-abdulaziz-salman-tribun_20170301_142537.jpg
KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMO
Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud saat tiba di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Rabu (1/3/2017). Presiden Joko Widodo menyambut kedatangan Raja Salman dan rombongan.
Ke Indonesia, Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Mau Apa? - raja-salman_20170301_131638.jpg
Kompas TV
Raja Salman tiba di Bandara Halim Perdanakusuma, Rabu (1/3/2017)
Ke Indonesia, Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Mau Apa? - presiden-joko-widodo-dan-raja-salman_20170227_223146.jpg
Ist
Presiden Joko Widodo dan Raja Salman

Soal "kedekatan" yang ini, Arab Saudi dengan penduduk sekitar 31 juta orang adalah "tuan rumah" bagi sekitar 2 juta jemaah haji per tahun. Dari jumlah "tamu" Baitullah tersebut, Indonesia pada 2017 mendapat kuota 211.000, setelah sempat mendapat kuota 168.000.

Baca: Semua Bisnis KG Group Sudah Bertransformasi, Lilik Oetama: Inovasi sebagai Kunci untuk Bertahan

Cuma kisaran 10 persen total jemaah kelihatannya, tetapi ingat, ini dari sedunia. Jangan lupa juga, nomor urut antrean warga Indonesia untuk berhaji sudah sampai jatah belasan tahun ke depan.

Merujuk data sensus penduduk terakhir yang digelar Badan Pusat Statistik pada 2010, penduduk Muslim Indonesia tercatat mencapai 207,17 juta jiwa, dari total 237,64 juta penduduk.

3. Kepentingan bisnis

Ini juga topik yang seru disebut-sebut, terutama di media sosial dan lapak berita ekonomi. Maklum, Arab Saudi termasuk yang lumayan "kena banget" dampak anjloknya harga minyak mentah.

Buat pengingat, harga minyak dunia masih bertengger di atas 100 dollar AS per barrel pada Juni 2014, sebelum terjun bebas dan rebound-nya tertahan tak lebih dari kisaran 50 dollar AS per barrel hingga saat ini.

Padahal, minyak adalah sumber penghasilan utama Arab Saudi. Masalahnya, cadangan minyak negara itu juga bukan yang terbesar di dunia, "hanya" di kisaran seperlima cadangan global.

Pendapatan dari para peziarah jadi sumber utama kedua. Namun, sebanyak-banyaknya minat Muslim sedunia mau berhaji atau umrah, lahan Masjidil Haram punya keterbatasan daya tampung, sekalipun sudah diperluas dan bertingkat-tingkat bangunan yang mengitari Kakbah.

Sudah begitu, warga negara Arab Saudi selama ini menikmati banyak fasilitas gratis dari negara—mengandalkan pendapatan minyak. Pendapatan per kapita warga Arab Saudi pun sekarang terus turun, sejalan dengan kejatuhan harga emas hitam itu, meski masih lebih tinggi dari orang sini.

Lebih kurang dari situasi ekonomi yang terjepit tersebut, jualan pengalaman jadi pusat ladang minyak dunia jadi salah satu peluang "perpanjangan napas" keuangan Arab Saudi. Inilah yang lantas kerap disebut di pemberitaan dan media sosial, terkait rencana investasi Arab Saudi.

Lewat perusahaan negaranya, Arab Saudi disebut akan menggarap peremajaan dan pengembangan kilang minyak di Indonesia. Namun, rencana penawaran perdana saham (IPO) Aramco—perusahaan minyak tersebut—masih lebih mengemuka.

Selebihnya, semua masih kemungkinan, mengingat keuangan negara itu pun sedang kocar-kacir, bahkan sekadar untuk membayar gaji para pegawainya.

Seperti dikutip dari Bloomberg, Arab Saudi memperkirakan anggaran negaranya akan defisit 7,7 persen pada 2017, bernilai sekitar 198 miliar riyal. Sebelumnya, pada 2016, negara ini membukukan defisit anggaran sebesar 11,5 persen, senilai 297 miliar riyal.

Sumber: Kompas.com
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved