Tersangka Korupsi Sering Keluar Negeri, Kasusnya Jalan di Tempat

Keseriusan kejaksaan untuk menuntaskan kasus korupsi agaknya patut dipertanyakan. Buktinya, kasus korupsi kredit fiktif BNI 46 Medan jalan di tempat

Editor: Array A Argus
Tribun Medan/Mustaqim
Sejumlah orang dari Pemantau Kinerja Aparatur Negara Indonesia mendatangi Kejati Sumut, Kamis (22/2/2018) menuntut usut tuntas dugaan korupsi yang dilakukan Sarmadan Hasibuan saat menjabat sebagai Sekda Sidimpuan. 

MEDAN,TRIBUN-Keseriusan kejaksaan untuk menuntaskan kasus korupsi agaknya patut dipertanyakan.

Buktinya, kasus korupsi kredit fiktif BNI 46 Medan senilai Rp 129 miliar yang melibatkan Direktur PT Bahari Dwi Kencana Lestari (BDKL), Boy Hermansyah tak kunjung diselesaikan.

Malah, Boy yang sudah menyandang status tersangka sejak 2011 silam dan sempat diburon Interpol itu masih bebas berkeliaran, tanpa diadili layaknya empat tersangka lainnya.

"Kasus ini sudah hampir expired. Jangan pula mau di SP-3 kan diam-diam," kata Safaruddin, Ketua Jaringan Advokasi Rakyat Indonesia (JARI), Kamis (12/7).

Baca: Kejar Boy Hermansyah, Kejatisu Koordinasi dengan Pengacara

Ia menduga, lambannya penanganan kasus ini lantaran indikasi 'main mata' antara jaksa dengan Boy Hermansyah.

Sejak menyerahkan uang Rp 2 miliar pada jaksa dengan alasan jaminan, Boy terkesan 'kebal hukum'.

"Tersangka (Boy) ini sepengetahuan kami diduga sering keluar negeri. Kalau kasusnya lama seperti ini, apa mau di SP-3 kan diam-diam," ungkap Safaruddin.

Karena lambannya pengentasan kasus ini, Safaruddin bersama rekan-rekannya di JARI melayangkan gugatan praperadilan terhadap Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejati Sumut) ke Pengadilan Negeri (PN) Medan.

Baca: Kepling Sering Ditanyai Polisi Tentang Boy Hermansyah

Dalam sidang prapid, Safaruddin bersama tim menyerahkan sejumlah bukti pada majelis hakim PN Medan.

Adapun bukti yang diserahkan berupa salinan fotokopi BAP penyitaan dokumen pemberian kredit BNI 46 Medan, surat penyitaan uang senilai Rp 61,2 miliar, surat bangunan seluas 199.998 m2 di Aceh serta salinan putusan Pengadilan Tinggi Medan Nomor 29/Pid.Sus.K/2013/PT.MDN.

"Kami menduga, tersangka Boy ini sudah punya rumah di Kuala Lumpur. Kami berharap kasus ini tidak dihentikan, dan tetap disidangkan," katanya.

Asintel Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara, Iddianto saat menanyai Suryana Res (tengah), tersangka korupsi kasus alkes di RSUD Djoelham Binjai, Kamis (29/12/2017) malam
Asintel Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara, Iddianto saat menanyai Suryana Res (tengah), tersangka korupsi kasus alkes di RSUD Djoelham Binjai, Kamis (29/12/2017) malam (TRIBUN MEDAN/Royandi Hutasoit)

Dalam kasus ini, empat tersangka lainnya seperti Radiyasto (Pimpinan Sentra Kredit Menengah BNI Cabang Pemuda Medan), Dahrul Azli (Pimpinan Kelompok Pemasaran Bisnis BNI Cabang Pemuda Medan), Mohammad Samsul Hadi (Pimpinan Rekanan dan Kantor Jasa Penilaian Publik) serta Titin Indriani (Relationship BNI SKM Medan) sudah divonis hakim. Bahkan, beberapa diantaranya sudah bebas.

Terkait perkara Boy Hermansyah, Kasipenkum Kejati Sumut, Sumanggar Siagian terkesan 'buang badan' pada Kejaksaan Agung (Kejagung).

Katanya, pihak Kejati Sumut masih menunggu petunjuk dari Kejagung. Ia mengatakan, meski kasus ini berlarut-larut, namun prosesnya tetap berjalan.

Hanya saja, Sumanggar tak menjelaskan petunjuk seperti apa yang mereka tunggu dari pimpinan di Kejagung.

Baca: Kasus Boy Hermansyah Mengendap di Kejaksaan

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved