Polisi Ungkap Peran 4 Satpam Unimed yang Menghajar Joni dan Stefan Hingga Tewas, 7 Orang Lagi Buron

Ke empat tersangka, pelaku penganiayaan hingga berujung kematian ini berprofesi sebagai Sekuriti Universitas Negeri Medan (Unimed).

Polisi Ungkap Peran 4 Satpam Unimed yang Menghajar Joni dan Stefan Hingga Tewas, 7 Orang Lagi Buron
Tribun Medan
4 satpam UNIMED, pelaku pengeroyokan Joni dan Stefan di Polrestabes Medan, Sabtu (23/2/2019) 

Pasca kejadian pengeroyokan terhadap kedua terduga pencuri ini, petugas Reskrim Polsek Percutseituan yang mendapat informasi, langsung menuju ke lokasi.

Kemudian keduanya pun dibawa ke RS Haji, namun nahas, akibat luka parah di sekujur tubuhnya kedua pelaku dikabarkan meninggal dunia.

Karena sudah meninggal jasad keduanya pun dievakuasi polisi ke RS Bhayangkara Medan untuk kepentingan otopsi.

Kapolsek Percutseituan Kompol Faidil Zikri membenarkan adanya kedua pelaku pencuri dua unit helm usai dianiaya massa dan akhirnya meninggal di RS Haji.

Kedua Korban Datang Untuk Berenang

Ketika disambangi ke rumah duka di Jalan Perjuangan Kecamatan Medan Perjuangan, keluarga Stefan Sihombing (21) tampak bersedih atas peristiwa keji tersebut.

Ayah Steven, Poltak Sihombing (62), meneteskan air mata dan tubuhnya bergetar mengingat peristiwa yang merenggut nyawa anaknya tersebut.

Ia bercerita bahwa batinnya bergejolak dan kesal atas tindakan arogansi massa yang menuding anaknya sebagai pelaku pencurian.

Pria berambut putih ini masih terpukul atas peristiwa yang merenggut nyawa anaknya. Beberapa kali dia pun menggerakan tongkatnya karena rasa kalutnya.

"Kecewa aku, kecewa. Kalau bisa kembali, Allah," ucapnya seraya menyeka air matanya di rumah duka, Kamis (21/2/2019).

Ayah Stefan Sihombing, Poltak Sihombing saat ditemui di rumah duka, Kamis (21/2/2019).
Ayah Stefan Sihombing, Poltak Sihombing saat ditemui di rumah duka, Kamis (21/2/2019). (Tribun Medan)

Ia pun mencoba tegar dengan menghisap sebatang rokok, namun air matanya kembali menetes saat dia mencoba menceritakan tentang anaknya.

"Anak ku bukan maling, saat itu ia pergi sama tamannya. Kayak bukan manusia mereka buat anakku itu sama temannya," ujar lirih.

Ia mengutarakan bahwa anaknya pergi ke Kampus Unimed bukan untuk mencuri, melainkan untuk berenang dan bertemu temannya.

"Mereka kan mau berenang dan ketemuan sama kawan wanitanya," ucapnya. Diketahui bahwa Kampus Unimed memiliki kolam renang yang terbuka untuk umum

Pria yang mengaku mantan polisi ini bercerita bahwa kejadian yang menimpa anaknya tersebut berawal dari ketika keduanya hendak keluar dari Unimed tidak membawa STNK sepeda motornya.

Karena hal itu sesuai aturan yang berlaku di Unimed, mereka harus ditahan jika tidak membawa STNK. Sebelum bisa menunjukkan STNK, maka tidak diperbolehkan pergi.

"Jadi info yang kami terima, saat itu istri Joni Fernando menelpon istrinya yang tengah hamil besar untuk mengantarkan STNK beserta BPKB," ujarnya.

Saat menunggu STNK diantarkan istri Joni Fernando, keduanya pun diteriaki sebagai maling helm, dan langsung digebuki Satpam dan juga mahasiswa yang ada di kampus.

"Sementara saat kejadian mereka tidak membawa helm tiba-tiba ada helm. Ini kan pengalihan atau mengkambing hitamkan anak saya," jelas Poltak.

Usai kejadian, sambung mantan polisi yang terakhir menyandang pangkat Aiptu, mereka sudah membuat laporan ke Polsek Percutseituan, Rabu (20/2/2019) sekitar pukul 02.00 WIB.

Namun saat membuat laporan mereka seperti tidak dianggap polisi.

"Masa kami disuruh buat laporan besok. Kan tidak benar sementara anak saya sudah tiada. Setelah sempat ribut akhirnya selesailah buat laporan malam itu juga," ujarnya.

Karena merasa seperti dipersulit, pria ini mengutarakan bahwa kinerja polisi sekarang jelek jika dibandingkan saat di masih bertugas dulu.

"Aku pensiunan polisi, saya bertugas 2015 terakhir bertugas. Saya juga sempat jadi guru di SPN Sampali. Saya terakhir pangkat Aiptu. Saya juga dulu bertugas di Polres Labuhanbatu," ujarnya.

"Jika ada kasus pembunuhan cepat kami tangani. Janganlah seperti ini," sambungnya. 

Friska Silaban Temukan Suaminya Sekarat

Friska Silaban, istri Joni Silalahi yang tewas di keroyok Satpam di Unimed, Selasa (19/2/2019) lalu
Friska Silaban, istri Joni Silalahi yang tewas di keroyok Satpam di Unimed, Selasa (19/2/2019) lalu (Tribun Medan)

Friska Sari Silaban (26) istri dari pria yang tewas dikeroyok Satpam Unimed, Joni Fernando Silalahi (30) sangat terpukul.

Wanita  berkulit putih ini, tak pernah membayangkan bakal melahirkan anak kedua tanpa didampingi lagi oleh suami tercinta.

Ia juga tidak bisa membayangkan bagaimana hidup sendiri dalam keadaan hamil 5 bulan, dan harus mengasuh anak yang masih berusia 1 tahun 3 bulan.

Keadaan pelik ini terjadi, lantaran suami yang dicintai telah meninggal dunia, karena tuduhan suatu perbuatan yang tidak pernah dilakukan dan tidak bisa dibuktikan sama sekali.

Friska yang telah menjalani biduk rumah tangga selama 3 tahun dengan Joni, sekarang harus hidup sendiri untuk mencari nafkah bagi anaknya dan calon anaknya yang masih ada di dalam kandungan.

Joni merupakan korban penganiayaan yang dilakukan secara beramai-ramai, oleh oknum Satpam di Unimed hingga berujung kematian.

Mirisnya, Joni dan Stefan mengantarkan nyawanya di Unimed, karena dituduh mencuri sepeda motor dan helm.

Kejadian keji itu, dialami Joni saat berkunjung sore hari ke Kampus Universitas Negeri Medan (Unimed) bersama rekannya Stefan Samuel Hamonangan Sihombing (21) untuk main-main, pada Selasa (19/2/2019) lalu.

Joni dan Stefan tewas diamuk massa di kawasan kampus Universitas Negeri Medan (Unimed). Keduanya dipukuli setelah dituduh mencuri.

Mereka dituduh mencuri helm dan sepeda motor saat akan keluar areal kampus. Keduanya langsung dikerumuni massa.

Joni dan Stefan tak bisa mengelak. Keduanya dipukuli massa. Kejadian itu lalu dilaporkan ke pihak kepolisian Polsek Percut Sei Tuan, kemudian turun ke lokasi kejadian.

Petugas melarikan Joni dan Stefan ke Rumah Sakit Haji.

Friska Silaban, istri Joni Silalahi yang tewas di keroyok Satpam di Unimed, Selasa (19/2/2019) lalu
Friska Silaban, istri Joni Silalahi yang tewas di keroyok Satpam di Unimed, Selasa (19/2/2019) lalu (Tribun Medan)

Ditemui di rumah mertuanya, istri Joni, Friska Purnama Sari Silaban (26) hanya bisa tertunduk lesu saat kembali diingatkan tentang suami tercinta yang telah tiada.

Tatapan mata Friska lebih banyak kosong, sesekali ia melihat buah hatinya yang masih berusia setahun, serta beberapa kesempatan ia membuka smartphone yang digenggam.

"Waktu itu saya lihat di pos satpam kondisi suami saya sudah berlumuran darah keluar dari kepala, hidung dan mulut," kata Friska, Jumat (22/2/2019).

"Saya ngamuk, ini kenapa siapa yang bisa menjelaskan, tapi para satpamnya malah kabur," lanjut Friska.

Karena tidak ada yang bisa menjelaskan kenapa suami dan teman suaminya dihajar hingga babak belur dan belakangan mati, Friska pun kembali mencecar para satpam.

"Pas aku tanya siapa yang curi helm, mereka (satpam) malah sibuk cari helm untuk membuktikan helm itu curian," ujarnya.

"Tapi mereka nggak bisa buktikan kalau suamiku mencuri helm. Mereka juga nggak bisa buktikan suamiku curi sepeda motor, karena tidak ada sepeda motor yang hilang," sambungnya.

Friska menuturkan bahwa tak lama setelahnya, ada seorang pria berperawakan tinggi, tegap, badannya berisi menggunakan pakai biasa mengaku seorang polisi.

"Saya polisi," kata pria itu, ditirukan Friska.

"Jadi kalau kau polisi, kau biarkan mereka main hakim sendiri," jawab Friska.

"Sempat aku mau ditonjok, tapi karena ada yang halangi tidak jadi. Tapi saya kasih saja nah kalau berani," ujar Friska.

Saat itu, Friska melihat kondisi suaminya di dalam pos satpam sudah tidak berdaya. Joni sudah dalam posisi diam saja dengan wajah berlumuran darah.

"Jujur saya sangat kecewa kali, sangat kali, melihat perlakuan main hakim sendiri terhadap suami saya. Satpam kan seharusnya mengamankan bukan ikut mengeroyok sampai tewas," ujar Friska.

(mak/tribun-medan.com)

Penulis: M.Andimaz Kahfi
Editor: Royandi Hutasoit
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved