Kisah Dika Pemburu Kelabang: Di Mana Ada Kelabang Di Situ Ada Ular Hijau
Mereka mencari binatang berbisa itu di hutan atau di tegalan sekitar dusun. Tidak jarang pula ke tempat-tempat yang jauh di luar daerah.
Kapan saja bisa dilakukan.
Cuma pada malam hari tidak kelihatan sehingga jarang yang berburu pada saat itu.
Sehari-hari Dika memperoleh belasan kelabang kalau mencari di hutan sekitar rumah.
"Kalau cuma dapat lima atau sepuluh ya disimpan dulu. Setelah dua atau tiga kali berburu baru dijual," paparnya kepada Tribunjateng.com.
Beberapa kali Dika berburu ke luar daerahnya, bahkan sampai ke Ngawi, Jawa Timur.
Sekali berburu ke luar kota, dia bisa memperoleh 30 hingga 50 ekor kelabang.
Ngawi merupakan daerah yang paling jauh yang dituju Dika saat berburu.
Tidak jarang saat ke luar daerah, Dika ditemani sang ayah.
Kalau sendirian, tidak ada teman mengobrol atau bercakap sehingga terasa membosankan.
Berburu kelabang atau menjadi pemburu kelabang (Scolopendra sp) menjadi pekerjaan banyak warga Dusun Teguhan RT 1, Desa Tempelrejo, Kecamatan Mondokan, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.
Apakah harga binatang yang juga disebut lipan ini mahal sehingga banyak yang menekuninya?
"Harga kelabang paling mahal kelabang kisaran Rp 2.200 untuk kelabang besar. Harga yang kecil rata-rata Rp 1.100," jelas Dika kepada Tribunjateng.com, Selasa (22/1/2018).
Dika menjual per satuan kepada pengepul kelabang.
Pengepul memang membelinya per ekor, bukan per ons atau sentimeter.
Menurut Dika, ada fenomena unik yang biasa dia temukan sewaktu berburu lipan.
"Kalau banyak kelabang di suatu tempat, biasanya ada ular hijau. Entah apakah mereka berteman atau bagaimana," jelas Dika tertawa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/dika_pemburu_kelabang.jpg)