Kisah Dika Pemburu Kelabang: Di Mana Ada Kelabang Di Situ Ada Ular Hijau
Mereka mencari binatang berbisa itu di hutan atau di tegalan sekitar dusun. Tidak jarang pula ke tempat-tempat yang jauh di luar daerah.
Sebenarnya pengepul juga menerima ular jika ada pemburu yang mendapatkan ular saat mencari kelabang.
Namun, kalau menemui ular Dika memilih tidak menangkapnya.
"Jika ada ular, saya mending lari. Digigit kelabang paling bengkak, digigit atau dibelit ular bisa mati," ujarnya terkekeh.
Dia jarang mencari kelabang sendirian, apalagi di luar daerah.
Dika lebih suka mencari kelabang dengan temannya, dua hingga tiga orang.
Tak jarang pula bersama sang ayah.
"Saya pasti bawa teman. Takutnya kalau sendiri pas ada kejadian yang tidak diinginkan, tak ada yang menolong," jelasnya.
Tak banyak pula teman yang dia ajak.
Pasalnya, semakin banyak teman saingannya mencari kelabang semakin banyak.
Hasil perburuan pun menjadi sedikit.
Tidak inginkah bekerja selain mencari kelabang?
"Ya, jelas ingin. Tidak blusukan ke ladang atau alas seperti sekarang. Tapi saya lebih berat keluarga saya karena pernah merantau," terang dia.
Pencarian kelabang selain di Sragen pernah dilakukannya di Boyolali, Karanganyar, Klaten, dan Grobogan.
Sesekali pula dia sampai ke Ngawi di Jawa Timur yang berbatasan langsung dengan Sragen.
Ngawi adalah daerah pencarian favoritnya.
"Kalau mau dapat banyak, mencari di alas-alas Ngawi. Banyak kelabang di sana," paparnya.
Setelah selesai mencari kelabang, Tribunjateng.com bertemu ayah Dika, Karmanto, di rumahnya.
Karmanto sedari sekolah dasar bahkan sudah mencari kelabang.
"Jadi sejak SD, saya diajak bapak saya berburu kelabang. Kemudian setelah menikah dan punya anak, saya juga anak saya Dika mencari kelabang. Saat itu dia sudah SMP," terang Karmanto.
Apakah hasil pekerjaan berburu kelabang ini cukup menghidupi keluarga?
"Cukup nggak cukup. Manusia itu selalu kurang," papar Karmanto.
Di saat musim kemarau, Karmanto juga menjadi kuli bangunan.
Kelabang memang jarang ditemui pada musim kemarau.
Tribunjateng.com kemudian menemui Suwito (50), tetangga Karmanto dan Dika.
Warga Teguhan ini sudah sejak dua tahun lalu menjadi pengepul kelabang dari masyarakat setempat.
Menurut Suwito, kelabang yang telah terkumpul dari warga setiap 3-4 hari sekali disetorkan lagi ke pengepul besar.
Pengepul itu berada di Grobogan.
"Sekali menyetorkan ke bos saya biasanya belasan ribu. Minim 3.500 kelabang," ujar Suwito.
Apa sih manfaat atau digunakan untuk apa kelabang-kelabang tersebut?
Suwito mengaku juga tidak tahu persis manfaat lipan.
Mengutip bosnya, dia menyampaikan kelabang ini akan diolah menjadi campuran obat di China dan Korea.
"Tahunya untuk racikan obat. Obat apa? Saya juga tidak tahu. Saya hanya dibilang demikian," terangnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/dika_pemburu_kelabang.jpg)