TRIBUN-WIKI: 3 Museum di Medan yang Perlu Anda Kunjungi untuk Menelusuri Peradaban
Ada tiga museum yang bisa dikunjungi di Kota Medan. Tiga museum ini tidak jauh dari pusat Kota Medan sehingga mudah untuk dikunjungi.
Fungsi token perkebunan adalah untuk membayar upah para pekerja.
"Di luar area perkebuanan maka tidak berlaku dan tidak dapat dipergunakan lagi," ujarnya.
MUS memiliki Koin Perkebunaan Tembakau Hessa di Pantai Timur Sumatera Residence Simpang 4 Asahan, sekitar 49 Km dari Tanjung Balai. Token ini dikeluarkan antara 1888-1898.
Nah, untuk ikon ketiga, Ikhsan menjelaskan yaitu Oeang Republik Indonesia Daerah/Darurat (ORIDA). Uang ini untuk melawan penjajahan Belanda, karena pada tahun 1947 Belanda melakukan agresi militer pertama untuk kembali menjajah Indonesia.
Dalam hal ini Belanda ingin melakukan agresi militer dan memblokade perekonomian Indonesia. Satu di antaranya itu melalui uang, pada saat itu mereka langsung menghancurkan percetakan uang ORI, dan memusnahkan uang ORI yg sudah tercetak.
Setelah pemusnahan itu, percetakan terhenti dan otomatis pasokan uang ORI ke Sumatera terhenti dan mengakibatkan di daerah-daerah kekurangan alat bayar atau uang. Oleh karena itu kepala-kepala daerah menuntut kepada pemerintah pusat agar setiap daerah itu bisa mencetak uangnya di daerahnya masing-masing
"Jadi pada tahun 1947 di keluarkanlah peraturan pemerintah 19/1947 tanggal 26 agustus 1947 isinya mengatur wewenang pemerintah daerah untuk menerbitkan tanda pembayaran yang sah dan yang berlaku di daerah setempat," pungkasnya.
Kemudian, ada 88 daerah di seluruh Sumatera yang mencetak uang daerahnya masing-masing, yaitu meliputi, daerah kecamatan, kabupaten dan provinsi. ORIDA tak bertahan lama dan hanya berlaku 3 tahun yaitu dari tahun 1947 sampai 1949.
Ihksan menambahkan bahwa melihat dari uang daerah yang dicetak, ada pula uang daerah yang sangat unik dan sederhana, yaitu uang daerah Tigabinanga Karo, dicetak hanya dengan menggunakan kertas tulis biasa dan di ketik menggunakan mesin ketik. Sementara uang tersebut ini dicetak tanggal 20-11-1947, dengan nominal 1000 dan berakhir peredarannya pada tahun 1949
"Nah, ORIDA yang meliputi 88 daerah di daerah sumatera, jadi uang daerah ini ada di sumatera meliputi dari ujung lampung sampai aceh. Kemudian di jawa itu hanya ada satu itu pun di Banten. Uangnya juga berbeda beda dan motifnya juga berbeda beda. Contohnya ada uang siantar, nah uang siantar itu termasuk Orang Republik Indonesia Pulau Sumatera (ORIPS)," katanya.
Lalu, Ikhsan menjelaskan bahwa ORIDA itu berlaku di daerah tertentu, sementara kalau uang Siantar yang merupakan uang ORIPS berlaku di seluruh daerah-daerah yang ada di Pulau Sumatera.
Ikhsan menjelaskan bahwa ikon keempat merupakan Mesin Cetak Oeang Republik Indonesia Tapanoeli (ORITA). ORITA merupakan mesin cetak uang di daerah Tapanuli, tepatnya di Kota Sibolga. Namun, pada masa agresi Militer Belanda kedua yang dipimpin oleh Residen Dr. Ferdinand Lumban Tobing untuk mencetak uang bagi keperluan perekonomian di Tapanuli.
Saat ini mesin tersebut menjadi ikon utama Museum Uang Sumatera dan masih bisa dipergunakan. Kemudian hal yang harus diketahui ialah pemilik mesin cetak uang Tapanuli ini yaitu Arun (bukan Harun) Siregar.
"Jadi kedua Philemon Bin Harun dan Bistok merupakan generasi keempat. Pertama sebenarnya uang atau Oeang Republik Indonesia (ORI) dicetak di Yogyakarta namun tidak mencukupi di Sumut oleh sebab itu Gubernur Sumut mencetak khusu uang Sumatera yaitu ORIPS, tetapi itu pun belum memadai karena setiap daerah keresiden harus membiayai keperluannya sendiri," pungkas Ikhsan.
Rahmat International Wildlife Museum & Gallery
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/museum-negeri-sumatera-utara_1.jpg)