TRIBUN-WIKI: 3 Museum di Medan yang Perlu Anda Kunjungi untuk Menelusuri Peradaban
Ada tiga museum yang bisa dikunjungi di Kota Medan. Tiga museum ini tidak jauh dari pusat Kota Medan sehingga mudah untuk dikunjungi.
Dalam hal ini juga Agus menambahkan bahawa umumnya naskah ini berisi tentang mantra, ramalan, dan buruk serta cara membuat ramuan unutuk keselamatan dan menjaga kampung. Ia juga mengatakan pada saat zaman itu, masyarakat belum memiliki sebuah agama melainkan sebuah kepercayaan.
Spot ketiga adalah Ruang Koleksi Islam. Dalam hal ini Agus menjelaskan bahwasanya ruangan ini merupakan tempat edukasi untuk mengenal jejak fisik sebagai bukti adanya perkembangan buadaya Islam di Sumut dalam abad ke 9 hingga 11. Salah satunya ialah ditemukannya sejumlah artefak berupa tembikar dan kaca dari Timur tengah di Barus, sebuah kota di pesisir pantai Barat Sumatera.
Bukti kuat lainnya adalah keberadaan nisan-nisan kuna di sejumlah kawasan Barus yang berasal dari kurun waktu abad 13 hingga ke 15 M. Selain itu, bukti lain juga ditemukan di pantai Timur yakni berupa nisa-nisan kuna di situs Kota Rentang, Medan Labuhan dan Klumpang.
“Dapat dilihat dari kaligrafinya ada kemungkinan benda ini setipe dengan nisan-nisan Aceh yang bertarikh awal-awal abad ke 15 M, Perkembangan Islam di Sumut ini ditandai oleh berdirinya kerajaan Kesultanan Melayu di Pesisir Timur Sumatera, dapat dilihat dengan bangunan Istana beserta komponen perlengkapan dan bangunan yang megah,”katanya.
Agus menambahkan, koleksi yang ditampilkan dalam ruang Islam antara lain berupa nisan-nisan yang ditemukan di Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, nisan dari Kelumpang, naskah-naskah tua yang ditulis tangan, Nisan dari Klumpang, naskah Islam tua yang ditulis tangan, serta replika Masjid Azizi yang berada di Kabupaten Langkat.
Nah untuk Spot keempat yaitu tempat Alat-alat Tradisional Sumut. Agus menjelaskan bahwa tempat tersebut terdapat koleksi yang ditampilkan merupakan berbagai alat musik tradisional. Seperti, alat musik pukul berupa Gordang Sembilan dari Angkola/Mandialing, Genderang Sembilan 9 (Pakpak, Gerantung (Pakpak), Gondrang Sidua-dua (Simalungun).
Kemudian, koleksi Fondrahi (Nias), Gendang (Melayu), Gong Besar (Angkola/Mandailing dan Karo) Tutu Hao (Nias), Ogung dari ( Batak Toba), alat musik petik Hasapi (Batak Toba), dan keteng-keteng (Karo).
“Selain itu pengunjung dapat melihat alat-alat musik tiup berupa arbab dari Melayu, sarune dari Batak Toba, sigu dari Nias, dan sordam dari Simalungun, serta alat musik gesek kecapi dari Melayu, lagia dari Nias, ,” pungkasnya.
Titik kelima adalah tempat Tarian Topeng. Agus menjelaskan bahwa zaman dahulu masyarakat tradisional di Sumatera Utara acap kali menggunakan topeng-topeng sebagai kelengkapan seni pertunjukkan. Misalnya, tari Gundala-gundala dari Karo, tari Makhuda-hudai dari Simalungun, tari Makkoda-hodai dari Pakpak, dan Toba, serta Tari Makyong dari Melayu.
Agus menabahkan juga bahwa diruangan ini ditampilkan topeng yang berhubungan dengan tari Makhuda-hudai dari Simalungun yang dahulunya ditampilkan dalam upacara kematian di kalangan bangsawan.
“Nah, kalau Tari Gundala-gundala dari karo yang ditampilkan dalam upacara meminta hujan dan Hoda-hoda dari Batak Toba yang dimainkan dalam upacara untuk mengusir roh jahat,” katanya.
Dalam hal ini juga Kepala Museum Negeri Provinsi Sumut, Martina, mengajak kaum-kaum muda atau generasi bangsa agar selalu mencintai sejarahnya. Baik dalam hal untuk mengunjungi museum sejarah yaitu Museum Negeri Provinsi Sumut, Jalan HM Joni No. 51, Teladan Barat, Medan Kota, Kota Medan, untuk mengenal sejarah perdaban Sumut. (cr22/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/museum-negeri-sumatera-utara_1.jpg)