TRIBUN-WIKI: 3 Museum di Medan yang Perlu Anda Kunjungi untuk Menelusuri Peradaban

Ada tiga museum yang bisa dikunjungi di Kota Medan. Tiga museum ini tidak jauh dari pusat Kota Medan sehingga mudah untuk dikunjungi.

Tayang:
Tribun Medan/Aqmarul Akhyar
Koleksi Museum Negeri Sumatera Utara. 

Museum kedua ialah Rahmat International Wildlife Museum & Gallery. Menurut Guide Rahmat International Wildlife Museum & Gallery, Aisi, museum ini berdiri pada 14 Mei 1999 dan diresmikan Menteri Pendidikan dan Kebudyaan, Juwono Sudarsono. Karena besarnya minat masyarakat dalam mengunjungi museum tersebut, maka dilakukan perluasan bangunan dan diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. 

Aisi juga mengatakan bahwa pendiri Rahmat International Wildlife Museum & Gallery ialah Rahmat Shah, merupakan putra Indonesia pertama yang menerima Internasional Convervation Award, Big Five "Grand Slam" Award. Dangerous Games of Africa Award, World Hunting Award dan penghargaan lingkungan hidup lainnya.

Rahmat International Wildlife Museum & Gallery
Rahmat International Wildlife Museum & Gallery (Tribun Medan/Aqmarul Akhyar)

"Melalui museum dan galerin ini Bapak Rahmat mengajak masyarakat luas untuk lebih mengenal keanekaragaman satwa liar yang ada di dunia. Baik itu kepada masyarakat dari berbagai kalangan agar turut peduli dan terpanggil untuk lebih menyayangi dan menjaga kelestarian lingkungan hidup dan satwa liar," ucapnya.

Aisi juga menjelaskan bahwa di Rahmat International Wildlife Museum & Gallery memiliki 2600 spesies satwa liar yang dikoleksi. Lokasi Rahmat International Wildlife Museum & Gallery terletak di Jalan S Parman, Nomor 309 Medan, Kota Medan. 

Setiap harinya museum ini mulai beroperasi pukul 09.00 WIB sampai pukul 17.00 WIB.

Rahmat International Wildlife Museum & Gallery
Rahmat International Wildlife Museum & Gallery (Tribun Medan/Aqmarul Akhyar)

Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

Museum Negeri Provinsi Sumut berdiri sejak 19 April 1982 di Kota Medan dan diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Dr. Daoed. K

Bagian Edukasi Museum Negeri Sumut, Agus menjelaskan bahwa ada lima spot yang wajib diketahui di Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara.

Pertama spot Arca Makara Agus menjelaskan bahwa sepasang Arca Makara merupakan koleksi pertama di Museum Negeri Provinsi Sumut. Sepasang Arca Makara ini berasal dari Situs Percandian Padang Lawas.

Makara merupakan hewan mitos berkepala gajah dan memiliki ekor ikan, yang dalam mitologi Hindu dianggap sebagai tunggangan Dwi Gangga. Pada bangunan Candi, Makara diletakan pada kedua ujung pipi tangga yang berfungsi sebagai penjaga.

Karena Arca Makara merupakan koleksi pertama di museum ini, maka gedung musem ini dimanakan Gedung Arca. Ia juga menjelaskan bahwa Arca Makara di daerah Tapunuli selatan Sumut dan Arca Makara merupakan peninggalan Hindu dan Budha yang berusia 3.000 tahun.

“Ini sepasang Arca Makara merupakan koleksi pertama kali di Museum ini, bahkan Gedung ini dinamakan Gedung Arca, karena orang-orang mengenalnya juga dari dahulu gedung Arca. Makara ini juga merupakan singgah sana, Makara ini sengaja diletak di depan karena sepasang Arca tersebut merupakan koleksi pertama” ucapnya.

Spot kedua, Ruang Koleksi Sumatera Utara Kuno. Agus menjelaskan bahwa ruangan ini menampilkan jejak peradaban awal masyarakat Sumatera Utara yang berhubungan dengan kepercayaan atau benda-benda religi. Antara lain, berupa peti mati kayu yang berasal dari daerah Nias, adu atau Arca kayu yang berasal dari Nias, Pangulubalang (Batak Toba) yang terbuat dari batu dan dianggap sebagai penjaga.

Koleksi Museum Negeri Sumatera Utara.
Koleksi Museum Negeri Sumatera Utara. (Tribun Medan/Aqmarul Akhyar)

Kemudian ada Tunggal Panaluan (Batak) yakni tongkat kayu yang dianggap mistis milik Datu, Ingan Tambar berasal dari karo sebagai wadah ramuan obat-obatan, Sahan (Batak Toba) dahulunya untuk sebagai wadah pupuk yang berfungsi sebagai pagar atau pelindung kampung.  Begitu juga dengan Pagar Jabu yang dahulunya bergfunsi sebagai wadah ramuan yang diyakini dapat menjaga rumah dari gangguan yang magis.

“Selain itu juga ada Patung Pohung dari Batak Toba, Mejan dari Pakpak, lalu Arca Batak bentuk manusia dalam posisi menunggang binatang seperti kuda yang berfungsi sebagai penjaga, setalah itu ada Pustaha Laklak dari Batak yaitu naskah kulit kayu yang ditulis dalam aksara dan bahasa Batak,” katanya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved