Patoean Na Lobi Radja Goenoeng Tinggi

“Bangsa Yang Besar Adalah Bangsa Yang Menghargai Jasa Para Pahlawan,” hal itu ditegaskan oleh Kementrian Sosial Republik Indonesia (Kemensos RI).

Patoean Na Lobi Radja Goenoeng Tinggi
Tribun Medan/HO
Patuan Na Lobi Radja Goenoeng Tinggi. 

MEDAN.TRIBUNNEWS.com - “Bangsa Yang Besar Adalah Bangsa Yang Menghargai Jasa Para Pahlawan,” hal itu ditegaskan oleh Kementrian Sosial Republik Indonesia (Kemensos RI).

Dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-74 dan Hari Pahlawan Nasional yang dilaksanakan setiap tahunnya, kita harus mengenang para pejuang yang telah memperjuangkan kemerdekaan, menghalau, maupun mengusir penjajah dari bumi persada ini.

Meski ada yang sudah ditetapkan sebagai pahlawan nasional atau belum, namun mereka semua mempunyai kelebihan maupun wilayah operasi perjuangannya masing-masing, tidak terkecuali di Sumatera yaitu daerah Asahan, Labuhan Batu, dan Tapanuli Selatan.

Jauh sebelum Indonesia merdeka dan mengenal istilah keresidenan, tiga daerah tersebut adalah bagian dari wilayah Karesidenan Sumatera Timur, yang merupakan wilayah terluas di masa nya.

Sebelum Belanda masuk ke Indonesia, sejak abad ke-10 hingga abad ke-11, telah banyak berdiri kerajaan-kerajaan seperti Sei Kanan (Asahan), Bilah dan Panei (Labuhan Batu), Tambak-Dasopang, Portibi, Ujung Pandang, Parsominan, Si Langgae, Rokare, Tapu, Lobu Tayas, Purba Sinomba, Sirumatinggi, Gunung Tua, Batang Onang, Huta Godang, dll di Padang Lawas. Terakhir di hulu Sungai Bilah terdapat kerajaan Goenoeng Tinggi/Gunung Tinggi.

Kerajaan-kerajaan tersebut sebagiannya berada dibawah naungan Karesidenan Riau atau Karesidenan Siak dan juga pengawasan Padri.

Keresidenan Riau dan Siak, disebut-sebut merupakan perpanjangan tangan penjajah Belanda, dimana memerintah sampai ke kerajaan Bilah, Panei, Kota Pinang, dan lain-lain, sedangkan Tambak, Dasopang, Huta Godang, dll bekerjasama dengan Padri sebagai penentang Belanda.

Dari sekian banyak kerajaan tersebut, peperangan antar kerajaan jarang terjadi, meskipun tidak dipungkiri sewaktu-waktu ada invasi dari satu kerajaan ke kerajaan lain dengan maksud memperluas wilayah kekuasaan.

Sejak abad ke-16, selepas Belanda masuk ke Indonesia, mereka melakukan penjajahan di seluruh wilayah Indonesia (atau Hindia Belakang di masa nya). Kerajaan-kerajaan yang ada di Sumatera Timur, dimana sebelumnya tunduk kepada kerajaan Siak maupun dibawah pengaruh Padri, sebagain menjadi menjadi takluk, patuh, dan sangat pro kepada Belanda, seperti Asahan. Bilah, Panei, dan Kota Pinang di wilayah Labuhan Batu.

Hal itu terjadi karena adanya iming-iming dari pihak Belanda, antara lain akan memberikan keringanan kepada Raja setempat dan membantu dalam memperluas wilayah kekuasaan, sekaligus janji-janji perlindungan lainnya.

Halaman
1234
Editor: Ryan Nur Harahap
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved