Patoean Na Lobi Radja Goenoeng Tinggi

“Bangsa Yang Besar Adalah Bangsa Yang Menghargai Jasa Para Pahlawan,” hal itu ditegaskan oleh Kementrian Sosial Republik Indonesia (Kemensos RI).

Tribun Medan/HO
Patuan Na Lobi Radja Goenoeng Tinggi. 

Selanjutnya, melalui keputusan Gubernur Jenderal, Patuan Na Lobi akan dibawa ke Ternate. Sementara Baginda Na diperintahkan untuk turun dari kapal karena tidak di inginkan Belanda ikut sang raja.

Karena Baginda Na Lobi sedih tidak mau berpisah dengan abangnya, Patuan Na Lobi melihatnya menangis di dermaga Pelabuhan Sibolga, melalui kekuatan ‘mana’ yang dimilikinya dengan cara menghentakkan tubuhnya ke lantai kapal, kapal yang akan membawanya tidak bisa bergerak berlayar.

Pada saat itu juga Patuan Na Lobi turun untuk menemui adiknya Baginda Na Lobi untuk membersarkan hati adiknya, dengan pesan suatu saat mereka akan bertemu kembali di Gunung Tinggi.

Penghargaan Pahlawan Nasional

Pada Masa 1995-1998, Keluarga Besar Parsadaan Ritonga Dohot Boruna telah berupaya menginventarisir kisahnya lewat sebuah “Catatan Berharga” tentang Patuan Na Lobi, yang mana data dan faktanya didapatkan dari Gunung Tinggi, Labuhan Batu dan sekitarnya (termasuklah Kota Pinang), Arsip Nasional di Jakarta, dan bahan dari Museum Pemerintah Negeri Belanda di Den Haag.

Tidak sedikit pula dijumpai peninggalan fisik seperti tanda perkuburan Raja Patuan Na Lobi dan Keluarga di Gunung Tinggi juga bukti-bukti lainnya di Labuhan Batu sekitarnya, Tuturan Sejarah oleh Tokoh Masyarakat, maupun Pengetua Adat.

Bahan dan data-data tersebut diseminarkan dalam lingkup Nasional pada tanggal 8 November 1997, bertempat di Gedung Nasional Rantau Prapat, dimana dihadiri oleh yang mewakili Kementerian Sosial, Gubernur Sumatera Utara (Gubsu), Dewan Harian Daerah (DHD) 1945, Instansi Pemerintahan, Organisasi Kemasyarakatan dan Kepemudaan serta Unsur-Unsur lainnya.

Arsip riwayat hidup Patuan Na Lobi Radja Goenoeng Tinggi
Arsip riwayat hidup Patuan Na Lobi Radja Goenoeng Tinggi. (Tribun Medan/HO)
Arsip silsilah keluarga Patuan Na Lobi Radja Goenoeng Tinggi.
Arsip silsilah keluarga Patuan Na Lobi Radja Goenoeng Tinggi. (Tribun Medan/HO)

Selanjutnya, dari hasil seminar yang direkomendasikan oleh Gubsu Raja Inal Siregar kepada Presiden RI dan Menteri Sosial yang membidangi pengangkatan, penetapan, juga pemberian tanda jasa kepada putra bangsa, dalam hal ini agar Patuan Na Lobi ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.

Agak kurang memuaskan sebenarnya jika ternyata diterima hanya sekadar “Bintang Jasa Utama”, bukan Pahlawan Nasional. Jika ditilik dan diselidiki lebih lanjut, mengapa ada juga yang telah ditetapkan menjadi Pahlawan Nasional, padahal mengenang maupun melihat perjuangan Patuan Na Lobi sangat lebih patut dijadikan sebagai Pahlawan Nasional.

Bayangkan, betapa takutnya pasukan Belanda kepadanya, hingga berapa kapal lengkap dengan personil, persenjataan maupun perlengkapan kekuatan, dikerahkan hanya untuk menangkap “si kecil” Patuan Na Lobi.

Bayangkan juga, setelah ditangkap, ia diasingkan ke Ternate hingga 25 (dua puluh lima tahun) lamanya. Orang mungkin berkata, kalau dia hebat kenapa bisa ditangkap? Tertangkap hanya karena rasa hormat kepada Moranya. Pada akhir masa penawanannya di Ternate, karena kelakukannya terus baik, ia diberikan remisi 8 tahun.

Tapi juga karena kebosanan pihak musuh, mereka berniat membunuh Patuan Na Lobi bersama 23 orang tawanan lainnya dengan memberikan racun. Alhasil, ia tidak mati namun sebagian giginya yang merupakan tanda dari insiden tersebut.

Memang, dia (Patuan Na Lobi) mau ditangkap dan dibuang tidak lain karena demi keluarga, daerah, bangsa dan tanah air. Sebab dari kecilnya (ketika Ayahnya Patuan Humala Pandjang sebagai Raja) beliau memang sudah tidak suka dengan koloni Belanda.

Setelah bebas pada tahun 1879, Patuan Na Lobi berumah tangga dengan putri Ternate bernama Siti Mariasjam, dan memperoleh 4 (empat) orang anak yaitu Radja Amas Moeda, Radja Djohan, Radja Matdjen, dan Radja Samsoedin. Sekitar tahun 1885, ia bersama keluarganya kembali ke Gunung Tinggi.

Selama meninggalkan Gunung Tinggi, bukan berarti Kerajaan Gunung Tinggi lenyap, tetapi kepemimpinannya dilanjutkan oleh salah seorang anaknya yaitu Soetan Hoemala Pandjang Djoehoer, adik dari Baginda Soeman. Kemudian diteruskan oleh Radja Soetan Sapala Radja, dan terakhir kepada Patoean Moeda Perkasa Alamsjah (anak dari Soetan Hoemala Pandjang Djoehoer).

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved