Patoean Na Lobi Radja Goenoeng Tinggi

“Bangsa Yang Besar Adalah Bangsa Yang Menghargai Jasa Para Pahlawan,” hal itu ditegaskan oleh Kementrian Sosial Republik Indonesia (Kemensos RI).

Tribun Medan/HO
Patuan Na Lobi Radja Goenoeng Tinggi. 

Sedangkan Istri Patuan Na Lobi, Zainab Boru Harahap adalah putri dari keluarga Raja Huta Godang di Padang Lawas, yang juga berhubungan erat dengan Raja Kekuriaan Batunadua Padangsidimpuan.

Meski kerajaannya membawahi tidak kurang dari 22 desa. Namun dapat mencakup wilayah Tapanuli Selatan (Tapsel), Tapanuli Utara (dihulu Sungai Bilah), Labuhan Batu, dan sebagian kecil wilayah Asahan.

Mendapat informasi rencana penyerangan dari Raja Kota Pinang, sebelum waktunya tiba, Patuan Na Lobi mempersiapkan segala sesuatunya seperti Ulubalang, serdadu, persenjataan, dan perbekalan untuk lebih dulu menyerang Kerajaan Kota Pinang.

Waktu yang ditetapkan telah tiba, Raja Patuan Na Lobi pun berangkat menuju ke Kerajaan Kota Pinang dengan berjalan kaki selama berhari-hari, di mana tujuan utamanya yakni Istana Raja Kota Pinang.

Singkat kisah nyata, sekitar pertengahan Juli 1871, Patuan Na Lobi memerintahkan Ulubalangnya untuk menurunkan Bendera (tiga warna) dengan memotong tiangnya serta menginjak-injak,

Kemudian bersama pasukannya langsung memborbardir Istana Raja Kota Pinang, sehingga menjatuhkan korban antara lain beberapa orang pengawal penjaga gerbang dan di dalam Istana, termasuk Tongku Mustafa, Raja Kota Pinang dan Permaisuri serta anaknya.

Tidak itu saja, karena Patuan Na Lobi melihat Foto Raja Willem II dan Ratu Emma terpampang di dinding Balairung Istana, ia juga memerintahkan agar diturunkan, namun karena Ulubalangnya tidak mampu, Patuan Na Lobi langsung menembak gambar tersebut hingga jatuh dan menghanguskannya.

Tentara Belanda yang saat itu berada di sekitar istana, mengetahui bahwa pasukan Patuan Na Lobi datang menyerang dan sudah terlebih dahul ada yang kabur menghindar, melarikan diri, maupun takut berhadapan dengan Patuan Na Lobi. Meski terdapat korban jiwa namun secara jelas tidak diketahui berapa jumlahnya.

Ini menjadi kebiasaan bagi pihak Belanda untuk merahasiakan jumlah korbannya pada saat insiden itu berlangsung. Terbukti dengan ketidakjelasan saat pencatatan, siapa dan berapa pasukan yang kembali.

Pada dasarnya penyerbuan yang dilakukan oleh Patuan Na Lobi adalah untuk menyerang dan mengusir Belanda dari bumi Sumatera Timur khususnya, namun dikarenakan Raja Kota Pinang diketahui sebagai antek-antek Belanda, sehingga dilakukan penyerangan dan pengusiran di kerajaannya tersebut, di mana telah banyak pasukan Belanda berkedudukan untuk menjalankan misinya ke seluruh daerah Sumatera Timur, kelak hingga ke Tapanuli.

Serangan dan Muslihat Pengangkapan Patuan Na Lobi

Gubernur/Governor General Hindia Belanda di Batavia (Jakarta) mendapat informasi kejadian di Kota Pinang, dari Asisten Keresidenan Siak kepada Keresidenan Riau. Akibat penyerangan yang dilakukan oleh Patuan Na Lobi, Gubernur menyusun persiapan pasukan untuk menyerbu Kerajaan Gunung Tinggi dan Kerajaan-Kerajaan koalisinya.

Kekuatan terdiri dari 6 kapal yakni Kapal Java, Kapal I’M Marnix, Kapal Banka, Kapal den Briel, Kapal Kapoeas I, Kapal Sophia, dan ditambah 3 Boat pengangkut peluru. Total personal dari Jakarta 281 orang ditambah para kuli. Kemudian setelah tiba di Keresidenan Riau dan Siak, akan bertambah lagi hingga 525 orang.

Akhir dari serangan balik, Patuan Na Lobi, Baginda Na Lobi serta para Ulubalangnya tidak ditemukan tim Belanda di Gunung Tinggi. Namun Patuan Na Lobi ditangkap dengan tipu muslihat, karena dirinya selaku pemangku Adat, menghargai undangan Moranya (keluarga orangtua istrinya) dari Kuria Batunadua (Padangsidimpuan) dan ada hubungannya dengan Raja-Raja Huta Godang.

Maksud memenuhi undangan, justru dimanfaatkan oleh pihak Belanda untuk menahannya. Strategi dan muslihat tersebut jugalah kiranya yang dialami oleh Pangeran Diponegoro.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved