Stok Jagung di Sumut Melimpah, Pemprov Sumut Sebut Tak Perlu Lagi Impor

Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sumatera Utara optimis hingga akhir tahun target produksi jagung Sumatera Utara 2019 akan tercapai.

TRIBUN MEDAN
Panen jagung di Desa Purwobinangun Kecamatan Sei Bingai, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, Senin (1/4/2019).TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI 

TRIBUN-MEDAN.com,MEDAN - Hingga Juli 2019, produksi jagung di Sumatera Utara sudah mencapai 1.153.987 ton. Sedangkan target produksi jagung pada 2019 adalah 1.885.768 ton.

Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura ( TPH) Provinsi Sumatera Utara (Sumut) Dahler saat ditemui Tribun Medan, Selasa (3/9/2019)

Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sumatera Utara optimis hingga akhir tahun target produksi jagung Sumatera Utara 2019 akan tercapai.

Mengingat akan ada beberapa daerah sentra tanaman jagung yang akan panen hingga akhir tahun.

"Sentra jagung Sumatera Utara terbanyak di Karo, Dairi, dan Simalungun. Dalam waktu dekat ini kita juga masih akan ada banyak panen jagung. Wilayah panennya menyebar seperti di Karo, Dairi, Simalungun, Deliserdang, Serdang Bedagai, dan Langkat," ujar Dahler, Selasa (3/9/2019).

Pada tahun 2018, luas panen jagung di Sumut mencapai 296.080,50 hektare dengan produktivitas rata-rata 57,83 kwintal perhektar.

Baca: Sarjana Hukum Pilih Jualan Burung, Omsetnya Ngak Main-main, Setara Gaji Manajer

Baca: Eksepsinya Ditolak, Mucikari yang Jual Dua Gadis Seharga 1,5 Juta Lemas di PN Medan

Produksi jagung pada tahun yang sama mencapai 1.712.114,28 ton.

"Sedangkan hingga Juli 2019 saja, luas tanam jagung sudah mencapai 169.618,2 hektar. Untuk luas panen mencapai 199.548,2 hektar dengan produksi sudah mencapai 1.153.987 ton," jelasnya.

Ia mengatakan berdasarkan data Badan Ketahanan Pangan dan Peternakan, kebutuhan jagung Sumatera Utara sekitar 1,6 ton.

Hal ini berarti produksi jagung Sumut surplus dan tidak memerlukan impor jagung.

"Stok kita juga hingga saat ini masih mencukupi di Sumatera Utara. Jadi kita sepertinya tak perlu impor. Selain itu jagung impor juga kurang diminati pabrikan," ungkapnya.

Dahler mengatakan hal ini disebabkan kualitas jagung lokal jauh lebih bagus jika dibandingkan dengan jagung impor.

"Jagung impor ini seperti jagung manis yang sudah kering, tidak ada isinya. Sedangkan jagung kita kan bernas," katanya.

Saat masih impor jagung dulu, jagung didatangkan dari beberapa negara seperti Brazil dan India. Menurutnya sekarang pemerintah sudah mengurangi impor termasuk untuk menjaga harga jagung lokal.

Baca: Berita Foto: Proyek Galian Kabel PLN di Jalan Inti Kota Medan Memicu Kemacetan Lalu Lintas

Baca: Unjuk Rasa Lagi soal Arsyad Lubis dan Haris Lubis, Pelantang Suara Pengunjukrasa Dirusak Satpol PP

Kebutuhan jagung ini paling banyak untuk pakan ternak, penggunaan benih, dan kebutuhan industri. Kebutuhan industri ini biasanya untuk makanan-makanan yang bahan bakunya menggunakan jagung.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved