Breaking News:

Ngopi Sore

Kenapa Bangga Melihat Anak STM Duel dengan Polisi?

Ada perbedaan mencolok antara jalan para bapak bangsa dan anak-anak STM ini. Sukarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, melawan dengan cara terpelajar.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
Tribunnews/Jeprima
Bentrok massa dengan aparat keamanan di kawasan Slipi, Jakarta Barat, Rabu (25/9). Massa belakangan diketahui merupakan siswa sejumlah STM di Jakarta. 

Pertanyaannya, apakah saat ini memang tidak ada lagi cara selain berunjuk rasa?

Semestinya ada.

Kecuali RUU KPK, bukanlah seluruh RUU yang diusulkan DPR RI telah diputuskan untuk ditunda pengesahannya dan akan dibahas kembali oleh anggota parlemen periode berikutnya?

Lalu kenapa aksi terus berjalan?

Apakah lantaran RUU KPK tetap digolkan?

Rasa-rasanya, kok, tidak.

Sebab di lapangan, para demonstran, para mahasiswa berbagai perguruan tinggi di Tanah Air, mengusung aneka spanduk dan poster yang nota bene tak melulu menyinggung RUU KPK.

Kebanyakan justru menyasar RUU KUHP, khusus pada bagian yang berkait paut dengan seks dan seksualitas.

Argumentasinya sungguh aduhai: urusan seks, termasuk berhubungan intim dengan bukan pasangan sah (istri orang atau suami orang), dengan sesama jenis, dan hubungan tanpa pernikahan, merupakan ranah privat yang tak boleh dicampuri negara. Biarkan kuurus sendiri selangkanganku. Kurang lebih begitu.

Segelintir kecil mencuatkan isu agraria. Juga isu kebakaran hutan dan lahan.

Mendesak pemerintah menindak bandit-bandit yang tega menciptakan siklus jerebu.

Dan segelintir yang lebih kecil, walau sayup-sayup, menyuarakan isu khilafah --sembari menceracau, Yahudi laknatullah!

Saya tidak tahu persis kenapa penundaan tidak lantas menghentikan gelombang unjuk rasa.

Barangkali para mahasiswa memang punya pertimbangan sendiri.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved