Ngopi Sore

Menteri Zainudin, Sebuah Tanda Tanya Lain

Presiden Jokowi memilih untuk tidak keluar dari pakem lama.faktor pemilihan menpora lebih condong ke poin 'pemuda' ketimbang 'olahraga'.

Menteri Zainudin, Sebuah Tanda Tanya Lain
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Politisi Partai Golkar Zainudin Amali tiba di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (22/10/2019). Zainudin dipilih menduduki jabatan Menteri Pemuda dan Olahraga. 

Presiden Jokowi telah memilih menteri-menterinya dan beberapa dari pilihannya mencuatkan tanda tanya. Dibanding yang dipilih kembali, jumlah menteri kabinet lama yang tidak terpilih kembali sebenarnya lebih besar. Dari 34 pos menteri, hanya 12 yang diisi menteri terdahulu. Ada yang tetap di posnya, ada yang digeser. Selebihnya orang-orang baru.

Tentu saja, dari sekian tanda tanya, satu di antara yang paling besar adalah tanda tanya mengenai Susi Pudjiastuti. Sebab apa yang membuatnya terdepak dari kabinet?

Susi, setelah rangkaian hantaman kenyinyiran yang tiada terkira pedasnya di awal-awal masa kerja pada periode pertama pemerintahan Jokowi, pelan-pelan menjelma kesayangan publik. Tak peduli pendukung Jokowi atau Prabowo, hampir semuanya menaruh respek. Menteri nyentrik dengan gaya serba ceplas-ceplos. Seruannya, "tenggelamkan (!)", menjelma pula jadi slogan. Simbolisme kedigdayaan pemerintah Indonesia atas para bandit yang telah bertahun-tahun mencuri kekayaan laut nusantara.

Namun saya tak bermaksud berlama-lama dengan Ibu Susi. Ketidakterpilihannya kembali, dugaan saya, sangat politis. Ada banyak kepentingan di baliknya. Kepentingan politis. Termasuk juga kepentingan para cukong yang selama lima tahun kepemimpinannya di Kementerian Kelautan dan Perikanan acap mengalami rugi besar. Maka dari itu, tanda tanya terkait Susi saya cukupkan sampai di sini.

Saya ke pertanyaan yang lain saja. Pertanyaan yang barangkali tidak terlalu diusik. Mungkin belum. Setidaknya sampai sejauh ini. Yaitu pertanyaan seputar Zainudin Amali, Menteri Pemuda dan Olahraga.

Sebagai wartawan, mungkin separuh lebih karier saya "tercecer" di arena-arena olahraga. Sepak bola, bulu tangkis, basket, voli, tenis, tinju, balap mobil dan motor. Juga atletik, catur, renang, biliar, plus satu cabang yang sungguh mati saya rasakan amatlah membosankan tatkala meliputnya, golf.

Sepanjang itu pula, komandan olahraga Indonesia berganti-ganti. Dari Mahadi Sinambela ke Adhyaksa Dault, sampai tahun-tahun awal Andi Mallarangeng. Saya tidak lagi intens ke lapangan pada era kedua Agung Laksono sebagai pelaksana tugas (sebelumnya Agung pernah jadi pelaksana tugas pada bulan-bulan menjelang reformasi) yang kemudian dilanjutkan Roy Suryo dan Imam Nahrawi. Lebih sering memantau dari depan layar komputer.

Satu benang merah bisa ditarik dari sini. Bahwa sejak orde reformasi bergulir, dari sekian menteri, tak satu orang pun yang punya latar belakang sebagai olahragawan. Tak ada yang pernah jadi atlet. Dalam hal ini atlet "betulan", bukan atlet sekadar yang turun bertanding setahun sekali pada pertandingan-pertandingan 17 Agustusan.

Seluruh menteri terpilih adalah politisi tulen. Orang-orang partai. Apakah sebelum reformasi ada? Ada, yakni Raden Maladi, menteri pertama, dan memang jadi satu-satunya.

Maladi mantan kiper PSIM Jogjakarta. Maladi juga pernah dua kali bermain untuk "tim nasional" --tim dadakan yang dibentuk pemerintah Hindia Belanda; tahun 1936 melawan Wiener Sport Club (sekarang berada di Divisi Tiga Liga Austria) dan setahun berselang kontra Hwa Nan (kini bernama South China AA dan berkompetisi di Divisi Satu Liga Hong Kong).

Halaman
123
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved