Breaking News:

Ngopi Sore

Menteri Zainudin, Sebuah Tanda Tanya Lain

Presiden Jokowi memilih untuk tidak keluar dari pakem lama.faktor pemilihan menpora lebih condong ke poin 'pemuda' ketimbang 'olahraga'.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Politisi Partai Golkar Zainudin Amali tiba di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (22/10/2019). Zainudin dipilih menduduki jabatan Menteri Pemuda dan Olahraga. 

Bagaimana pengalamannya di organisasi kepemudaan? Zainuddin pernah masuk dalam jajaran elite Gema Kosgoro dan AMPI.

Jadi sekali lagi, pakemnya tidak berubah. Seperti para pendahulunya, Jokowi condong ke pemuda ketimbang olahraga. Sampai di sini mengemuka lelucon. Dari warganet, tentunya. Menurut mereka, Pak Menteri Zainudin adalah menteri pemuda yang bukan pemuda. Beliau terlalu tua untuk jadi menterinya orang muda. Benarkah demikian?

Berdasarkan UU RI Nomor 40/2009 tentang Pemuda, kategori pemuda adalah tiap orang yang berusia 16 sampai 30 tahun. Zainudin, September lalu, genap berusia 57. Lewat tengah baya jelang masuk kelompok larut senja. Ia bahkan merupakan yang tertua dibanding menteri-menteri terdahulu.

Abdul Gafur, pada hari pertama menjabat masih berusia 44. Akbar Tanjung lebih muda setahun dari Gafur. Haryono Isman lebih muda lagi, 38 tahun. Mahadi Sinambela? 52. Sama dengan usia Maladi saat ditunjuk Sukarno. Termuda adalah Adhyaksa Dault dan Imam Nachrowi, 41 tahun. Sedangkan Andi Mallarangeng dan Roy Suryo masing-masing 46 dan 45 tahun.

Usia Zainuddin dua kali lipat + 5 tahun dari Syed Saddiq Syed Abdul Rahman, Menteri Belia dan Sukan Malaysia. Di media sosial, sempat pula ada yang membanding-banding. Pembandingan yang kocak: selain tua kalah tampan juga.

Namun memang faktor keberhasilan bukan usia apalagi ketampanan. Melainkan kecakapan dalam bekerja. Dalam konteks sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga, mampukah Zainudin mencapai target-target yang dibebankan?

Jokowi secara langsung telah menegaskan satu target. Di hadapan wartawan yang menyiarkan momentum perkenalan menteri kabinet baru ke seluruh penjuru Tanah Air, Jokowi bilang," sepak bolanya, Pak."

Ada satu anekdot terkait sepak bola dan kekalahan dan hubungannya dengan Indonesia. Berasal dari satu adegan ikonik sinetron Si Doel Anak Sekolahan, saat keluarga Betawi ini berziarah ke makam leluhur yang ternyata sudah berubah jadi Stadion Gelora Bung Karno.

Tatkala "ritual" mereka dipaksa berhenti dan mereka dihalau lantaran lapangan hendak digunakan tim nasional Indonesia berlatih, Babe Sabeni, ayah Si Doel yang diperankan Benyamin Sueb, mengucapkan kalimat yang kedengaran lucu tapi sesungguhnya sangat nyelekit: "latihan melulu menangnya kagak!"

Kekecewaan pemain Timnas Indonesia usai dikalahkan Timnas Malaysia pada ajang kualifikasi Piala Dunia Qatar 2022 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Kamis (5/9/2019). Timnas Indonesia dikalahkan Malaysia dengan skor 2-3.
Kekecewaan pemain Timnas Indonesia usai dikalahkan Timnas Malaysia pada ajang kualifikasi Piala Dunia Qatar 2022 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Kamis (5/9/2019). Timnas Indonesia dikalahkan Malaysia dengan skor 2-3. (TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN)

Begitulah kalah seperti bukan lagi hal yang luar biasa bagi sepak bola Indonesia. Terutama dalam persaingan di ruang lingkup internasional. Kalah sudah menjadi perkara yang biasa-biasa saja. Malah ada yang sudah sampai pada tingkat kepasrahan ekstrim, menganggap ketidakberdayaan sepak bola Indonesia adalah semacam takdir.

Seturut ilmu hakekat, takdir diturunkan Tuhan, dan Indonesia ditakdirkan untuk tidak berharap pada sepak bola. Siapa berani menggugat? Atau siapa berani membelokkan takdir Tuhan? Tidak ada, dan oleh sebab itu, Indonesia mesti menerima takdirnya.

Kepasrahan seperti ini tentu hanya milik kelompok-kelompok yang sudah terlanjur sangat pesimistis. Di luar mereka masih banyak yang mengusung asa. Masih banyak yang berharap suatu ketika kelak sepakbola Indonesia akan berjaya. Masih banyak yang yakin lantaran pada dasarnya Indonesia menyimpan banyak bakat.

Iya, benar, Indonesia berbakat. Bahkan bisa dibilang penuh bakat. Anak-anak Indonesia sangat bisa bersaing di level internasional. Jangankan sekadar Asia Tenggara, mereka mampu berbicara di tingkat dunia.

Lalu pertanyaannya, kenapa setelah sampai ke jenjang senior, pesepak bola-pesepak bola berbakat tadi berubah melempem? Saat masih sama-sama berusia 18, Hansamu Yama Pranata bertarung dengan Hwang Hee-chan. Pada 12 Oktober 2013, Hansamu, palang pintu Tim Nasional U-19 Indonesia, membuat striker Korea Selatan ini mati kutu. Indonesia menang 3-2.

Halaman
123
Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved