Empat Kolonel Legendaris yang Lebih Disegani daripada Perwira Tinggi TNI
Kolonel yang namanya akan abadi: Kolonel Bambang Soepeno, Kolonel Zulkifli Lubis, Kolonel Inf (Purn) Alex Evert Kawilarang dan Kol Inf (Purn) Matrodji
Sementara Kol. Bambang Soepeno dikenal sebagai konseptor “Sapta Marga”, Doktrin TNI yang masih berkumandang hingga sekarang.
Di masa Perang Kemerdekaan (1946-1949), Bambang Soepeno namanya sempat terkenal, sebagai Panglima Divisi (front Jatim), dengan usia termuda, 22 tahun.
Bagi generasi sekarang, figur Bambang Soepeno bisa jadi adalah nama yang asing, karena setelah pensiun dini dari TNI AD, namanya langsung menghilang.
Baru pada tahun 1980-an, namanya disebut-sebut kembali, ketika janda beliau, secara mengejutkan menikah dengan mantan menteri luar negeri era Presiden Soekarno, yakni Soebandrio, ketika Soebandrio sendiri masih berstatus tahanan politik di Lembaga Pemasyarakatan Salemba.
Kandas di tengah jalan
Secemerlang apapun pemikiran Lubis dan Bambang Soepeno, pada akhirnya karir keduanya kandas, disebabkan perbedaan pandangan (baca: faksi) dengan KSAD AH Nasution.
Perjalanan karir Nasution sendiri terbilang unik, hal itu bisa menjelaskan mengapa Nasution terkesan kurang nyaman, bila ada perwira lain yang secara intelektual setara dengannya.
Pengalaman tempur Nasution sendiri boleh dibilang minim, karena dengan hanya berlatar status taruna senior pada Akademi Militer Bandung (cabang KMA Breda), Nasution langsung melejit menjadi Panglima Divisi Siliwangi di periode awal Perang Kemerdekaan.
Pengalaman lapangan yang minim itulah, yang turut andil membentuk jati diri Nasution sebagai perwira, yang lebih kuat aspek politisnya ketimbang teknis kemiliteran.
Dalam hal pengalaman tempur di lapangan, Nasution masih di bawah perwira segenerasinya, seperti Kolonel AE Kawilarang, Letkol Slamet Rijadi, Letkol Vence Sumual, Kolonel Joop Warouw, dan seterusnya.
Bahkan dibanding perwira yang pangkatnya lebih rendah sekalipun, seperti Mayor Dee Gerungan.
Petarung Sejati
Dibanding Zulkifli Lubis dan Bambang Soempeno, bisa jadi nasib Alex Evert Kawilarang (biasa disingkat AE Kawilarang) sedikit lebih “beruntung”. Setidaknya namanya akan disebut setahun sekali, saat peringatan hari jadi Korps Baret Merah (Kopassus).
Alex Kawilarang (bersama Brigjen Anumerta Ign Slamet Rijadi) dianggap sebagai pegagas pembentukan pasukan khusus TNI AD, yang kini dikenal sebagai Kopassus.
Gagasan itu lahir ketika Kawilarang dan Slamet Rijadi, memimpin operasi penumpasan Gerakan RMS di Maluku, keduanya terkesan dengan performa pasukan khusus eks KNIL, yang tergabung dalam gerakan RMS.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/kolonel-berprestasi.jpg)