Empat Kolonel Legendaris yang Lebih Disegani daripada Perwira Tinggi TNI

Kolonel yang namanya akan abadi: Kolonel Bambang Soepeno, Kolonel Zulkifli Lubis, Kolonel Inf (Purn) Alex Evert Kawilarang dan Kol Inf (Purn) Matrodji

Empat Kolonel Legendaris yang Lebih Disegani daripada Perwira Tinggi TNI
Wikipedia
Kolonel Bambang Soepeno, Kolonel Zulkifli Lubis, Kolonel Inf (Purn) Alex Evert Kawilarang 

Usai memimpin operasi penumpasan RMS, Kawilarang diangkat sebagai Pangdam Siliwangi di Bandung.

Saat menjadi Pangdam Siliwangi inilah, gagasan pembentukan pasukan khusus benar-benar diwujudkan, pada 16 April 1952.

Dimana untuk membentuk embrio satuan tersebut, Kawilarang banyak dibantu oleh Mayor Ijon Janbi, seorang pensiunan pasukan khusus Belanda.

Selepas menjabat Pangdam Siliwangi, sebagaimana kita tahu, Kawilarang terlibat dalam gerakan PRRI/Permesta (1958-1960).

Karena keterlibatan itu pula, dia terpaksa diberhentikan dari TNI, kemudian menjadi tapol dan secara perlahan namanya menghilang.

Namanya baru muncul kembali pada pertengahan 1990-an, saat dirinya diakui secara resmi selaku pendiri Kopassus, dari Danjen Kopassus (saat itu) Mayjen TNI Prabowo Subianto.

Kolonel keempat adalah Kol Inf Matroji. Saat masih menjabat Komandan Brigif Linud 18/Trisula Kostrad (Malang), Kol Inf Matrodji beserta anggotanya, termasuk pasukan yang paling awal diterjunkan di Dili dalam rangkaian Operasi Seroja (Desember 1975).

Pamen (perwira menengah) lain yang ikut diterjunkan, berbarengan dengan Kol Matrodji, adalah Kol Inf Sugito (Komandan Grup 1 Kopassus), Kol Inf Soegiarto (Komandan Brigif Linud 17/Kujang I Kostrad), dan Letkol Inf Feisal Tanjung (Kas Brigif Linud 17/Kujang I).

Pada titik ini kita kembali melihat, tentang asumsi “garis tangan” dalam karir perwira.

Dari perjalanan waktu kita kemudian mengetahui, bahwa hingga di penghujung karirnya, Kol Inf Matrodji tidak sempat menjadi jenderal, beda jauh dengan “nasib” pamen yang lain.

Bahkan Letkol Inf Feisal Tanjung sempat menjabat Panglima ABRI (1993-1998). Walau tetap berpangkat Kolonel, kiranya nama Kol. Matrodji akan tetap abadi, sebagaimana kolonel lainnya tersebut di atas.

Pilkada 2017

Figur kuat identik dengan kharisma. Tidak setiap jenderal memiliki kharisma. Setiap perwira bisa mencapai derajat pati, namun bukan berarti kharisma bisa didapat secara otomatis.

Begitu banyak jenderal di negeri ini, yang namanya hilang begitu saja setelah pensiun, karena tidak ada karya atau produk yang dihasilkan semasa masih aktif dulu.

Pelajaran atau nilai (hidup) yang bisa petik dari pengalaman keempat kolonel tersebut adalah, bahwa kita tidak mungkin memperoleh semuanya dalam hidup ini.

Seperti keempat kolonel tersebut, mereka memang tidak mencapai derajat pati, namun mereka memperoleh capaian lain yang lebih tinggi nilainya, yaitu kharisma dan keabadian.

Tahun depan (2017) kebetulan akan diselenggarakan pilkada serentak untuk posisi gubernur, bupati dan walikota, kiranya tulisan ini menemukan konteksnya.

Bahwa, pemimpin tanpa kharisma adalah kesia-siaan, yang nantinya hanya jadi bahan tertawaan masyarakat. Gejala itu acapkali terlihat pada elit politik, yang hanya berbaik-baik pada rakyat, saat musim kampanye tiba.

Bila kekuasaan telah diraih, yang muncul kemudian adalah megalomania, seperti pengawalan berlebihan dengan sirene meraung-raung.(*)

Penulis:

Aris Santoso, sejak lama dikenal sebagai pengamat militer (khususnya TNI AD). Kini bekerja sebagai staf administrasi di lembaga HAM (KontraS). Tulisan ini adalah pendapat pribadi.

*Setiap tulisan yang dimuat dalam #DWnesia menjadi tanggung jawab penulis.

Artikel ini sudah tayang di DW Indonesia dengan judul Kolonel Legendaris TNI

Editor: Royandi Hutasoit
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved