News Analysist

Tembakau Deli Masih Favorit, Harus Mencari Pasar Baru

Tembakau dari Indonesia, terutama Sumut lebih khusus lagi Tembakau Deli, termasuk dalam kelompok tembakau unggulan.

Tribun Medan/Risky Cahyadi
Gudang tembakau milik PTPN II di Buluhcina, Deliserdang. 

Gunawan Benjamin, Pengamat Ekonomi Sumut

TRIBUN-MEDAN.com-Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatra Utara (Sumut) mencatat ekspor tembakau pada periode tahun 2019 mengalami kenaikan dibanding 2018 (Januari hingga Desember).

Kenaikannya terbilang lumayan, yakni sebesar 9,85 juta dolar Amerika Serikat atau 5,96 persen.

Jadi jika tolok ukurnya adalah tren ini, maka boleh dibilang kinerja ekspor tembakau Sumut tidak buruk. Namun perkembangan harga tembakau di pasar dunia, terutama bursa London, justru turun.

Booming harga tembakau terjadi selama tiga tahun pada 2015 sampai 2018. Namun pada 2019 trennya mulai turun.

Di Bursa London, tembakau saat ini dijual di kisaran harga 35320 poundsterling per-ton. Dengan kurs poundsterling saat ini, yakni Rp 17.800, berarti tiap ton tembakau bernilai Rp628 juta.

Ujung Senja Kala Tembakau Deli, Pernah Menghasilkan Triliunan Rupiah Kini Diangap Tak Menguntungkan

Sejarah Panjang Tembakau Deli, Lebih Tua Dibandingkan Pemerintahan Kolonialis

Tembakau dari Indonesia, terutama Sumut lebih khusus lagi Tembakau Deli, termasuk dalam kelompok tembakau unggulan. Oleh sebab itu, harganya tidak selalu mengacu pada harga tembakau umum di bursa-bursa internasional.

Sepengetahuan saya, harga tembakau deli pernah tembus sampai Rp1 milyar per-ton.

Sejauh ini pun, minat terhadap tembakau deli belum merosot-merosot amat. Harganya masih baik. Perlu digarisbawahi sekali lagi bahwa pangsa pasar tembakau dari Sumut adalah pangsa pasar premium seperti cerutu. Bukan rokok pada umumnya.

Maka dari itu yang terjadi sekarang boleh dibilang kontradiktif. Ekspor tembakau Sumut terus dilakukan, tapi di sisi lain tidak sepenuhnya diikuti upaya melestarikan tanaman tembakau di wilayah Sumut.

Pengamat Ekonomi Gunawan Benjamin
Pengamat Ekonomi Gunawan Benjamin (Tribun Medan / Ryan)

Saya menggunakan kata melestarikan. Padahal lebih idealnya tentu saja mengembangkan. Terutama bagaimana mengembangkan tanaman tembakau di hulu.

Alih-alih dikembangkan, upaya melestarikan, dalam hal ini mempertahankan produksi yang sudah ada justru tidak dilakukan. Lahan tanam untuk tembakau dari tahun ke tahun terus menciut.

Tembakau dari Sumut, tembakau deli, umumnya diekspor ke Jerman. Persisnya ke pelelangan di Bremen.

Pandangan saya, ini bukan satu mekanisme yang baik. Kita rugi. Kalau ekspor ke Jerman, sama saja artinya kita jual ke tengkulak. Kita jual ke mereka lalu mereka jual lagi ke negara lain dengan harga jauh lebih tinggi.

Akan jauh lebih baik apabila penjualan langsung dilakukan ke end user. Ke negara mana yang ada banyak produsen rokoknya. Misalnya ke Kamboja yang jadi salah satu negara tujuan ekspor tembakau Sumut. Jangan hanya bersandar ke Bremen. (sep)

Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved