Ngopi Sore

Manis-Pahit Industri Pop: Lyodra Ginting Dicap Sombong

Sindrom popularitas membuat pesohor-pesohor baru merasa diri sebagai bintang dari segala bintang, atau menggiring pada perasaan tertekan.

tribunnews
LYODRA Ginting saat tampil di babak Grand Final Indonesian Idol musim kesepuluh 

Tak sampai sepekan setelah memenangkan ajang pencarian bakat Indonesian Idol, Lyodra Margaretha Ginting telah dihadapkan pada kenyataan bahwa dunia hiburan populer; dunia keartisan, tidak sekadar gemerlap panggung. Tidak sekadar tepuk tangan penonton, puja dan puji, atau potensi kekayaan dan ketenaran.

Ada kenyataan lain yang berkebalikan dari semua yang manis-manis tadi. Ada yang kelam di balik gemerlap itu. Ada kemunafikan di balik segala riuh tepuk tangan dan puja-puji. Bahwa kekayaan juga bisa sekaligus berarti kemiskinan, dan ketenaran, seberapa pun tingginya, bisa sewaktu-waktu ambruk jadi remah-remah.

Lyodra, dengan label pemenang Indonesian Idol musim sepuluh, beranjak sejenak dari panggung. Dia kembali ke Medan, "pulang kampung", dan langsung diadang oleh kepahitan pertama. Ia dicap sombong oleh sejumlah wartawan.

Pasalnya sederhana. Lyodra enggan diwawancara --secara doorstop; wawancara terbuka yang dilakukan dengan cegatan-- saat datang berkunjung ke Balai Kota Medan. Di lain sisi, jumlah wartawan yang diberi izin melakukan wawancara tertutup sangat terbatas. Hanya wartawan dari media elektronik. Khususnya televisi.

Benarkah Lyodra sombong? Benarkah kemenangan di Indonesian Idol dan gelar juara yang disandangnya membuatnya jadi sombong? Rasa-rasanya, kok, tidak. Mungkin belum. Mungkin saja ke depan dia bisa sombong. Mungkin saja tidak. Pastinya, cap sombong yang dialamatkan pada Lyodra karena dia menolak wawancara doorstop, sekali lagi, tidak tepat.

Mari menguliknya satu per-satu. Pertama, Lyodra baru berusia 16. Masih remaja dan dia adalah selebritas baru. Memang, panggung bukan hal baru baginya. Dia sudah menyanyi sejak bocah. Dia pernah juara menyanyi di Italia. Namun panggung Indonesian Idol yang membuatnya dikenal secara masif.

Tentu ada perubahan yang signifikan dalam hidupnya. Kini dia tidak bisa lagi beraktivitas seperti remaja 16 tahun kebanyakan. Tidak bisa lagi sesuka hati keluyuran di mal, misalnya. Orang-orang akan mengenalnya dan dengan segera mengerubunginya; meminta tanda tangan dan mengajak berfoto bersama.

Perubahan yang serba mendadak seperti ini bisa berbahaya, yang jika tak hati-hati bisa memunculkan apa yang disebut Star Syndrome atau Sindrom Popularitas. Sindrom ini membuat siapa pun yang dijangkitinya sampai pada dua kondisi yang bertolak belakang tetapi sama-sama berimbas negatif.

Pertama, lupa diri. Sindrom popularitas membuat pesohor-pesohor baru merasa diri sebagai mega star. Bintang dari segala bintang. Kesombongan yang memunculkan sikap selalu meremehkan.

Sebaliknya yang kedua. Sindrom popularitas menggiring pesohor baru pada perasaan tertekan. Resah, gelisah, ketakutan. Resah tidak dapat memuaskan publik. Gelisah tidak dapat lagi membuat karya-karya baru yang lebih bagus. Takut dianggap habis.

Halaman
12
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved