Breaking News:

Ngopi Sore

Akhirnya, Prabowo-Sandi Masuk Istana Juga

Perombakan kabinet yang digembar-gemborkan dalam sepekan belakangan betul-betul terjadi. Tidak tanggung-tanggung. Enam menteri sekaligus diganti.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
Dok.Jakarta Post
Sandiaga Uno memijat punggung Prabowo Subianto dalam satu momentum pada gelar debat dalam rangkaian Pemilu Presiden 2019. 

Maka begitulah, perombakan kabinet yang digembar-gemborkan dalam sepekan belakangan akhirnya memang betul-betul terjadi. Tidak tanggung-tanggung. Enam menteri sekaligus diganti. Menteri Sosial, Menteri Kelautan dan Perikanan, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Menteri Kesehatan, Menteri Perdagangan, dan Menteri Agama.

Dua pos menteri yang disebut pertama diganti pengampunya lantaran harus berhadapan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK); Juliari Batubara dan Edhy Prabowo. Empat pos menteri lain dirombak karena –disebut-sebut– berkinerja buruk: mendapat limpahan dana besar tetapi kurang mampu mengelola dengan baik hingga meleset jauh dari target.

Hal lain? Barangkali disebabkan kurang cakap secara politis. Langkah atau kebijakan yang diambil kerap menempatkan pemerintah pada posisi sulit.

Tentu menarik untuk menelisik pengampu pos-pos ini satu demi satu. Meski sekadar menggunakan ngelmu kira-kira. Anabel; analisis gembel, kata anak-anak muda sekarang.

Pos Menteri Agama, misalnya. Kenapa Jenderal (purn) Fachrur Razi diganti? Di mana letak kegagalan beliau sebagai Menteri Agama? Soal uang barangkali bukan. Setidaknya sampai sejauh ini, belum ada yang mengaitpautkan dia dengan kecurigaan adanya kongkalikong dana pengadaan cetak kitab suci atau dana haji, misalnya. Lalu apa yang paling mungkin menjadi alasan Presiden Joko Widodo memilih Yaqut Cholil Quoumas?

Satu garis merah yang mungkin bisa ditarik. Gus Yaqut, sapaan Yaqut Cholil Quoumas, merupakan Ketua Umum Gerakan Pemuda (GP) Anshor, organisasi kemasyarakatan pemuda bermassa besar yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama (NU).

Dalam banyak kesempatan, Gus Yaqut secara frontal menempatkan dirinya, dan organisasi yang dipimpinnya, untuk berhadap-hadapan dan bersinggungan dengan Front Pembela Islam (FPI), organisasi massa yang saat ini sedang dalam sorotan pascakepulangan pimpinan mereka, Muhammad Rizieq Shihab.

Pertanyaannya, apakah dengan keberadaan Gus Yaqut di pos Kementerian Agama menunjukkan “keseriusan” pemerintah untuk “mengendalikan” FPI? Apakah Fachrur Razi yang mantan Wakil KSAD dianggap tidak mampu melakukannya?

Mungkin saja. Mungkin juga tidak. Mungkin Presiden Jokowi baru sekarang menyadari bahwa keputusannya mengangkat Menteri Agama yang bukan berasal dari NU (atau Muhammadiyah) adalah sebuah kekeliruan yang hakiki.

Lalu Tri Rismaharini. Wali Kota Surabaya ini dipilih Jokowi menempati posisi yang ditinggalkan Juliardi Batubara. Selain bahwa Ibu Risma sangat populer, bahkan ada yang sudah berani menempatkan namanya sebagai satu di antara calon Presiden atau Wakil Presiden Indonesia pada Pemilu 2024, sesungguhnya nyaris tidak ada yang istimewa dari penunjukannya. Sejak jauh hari ia memang sudah terlanjur dianggap sebagai sosok yang paling pas menduduki posisi itu. Jauh lebih pas dibanding nama-nama bakal calon lain seperti Sukur Nababan, Komarudin Watubu, atau Djarot Saeful Hidayat.

Halaman
12
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved