Breaking News:

Kisah Para Reksa Bahasa, Agar Aksara Batak Toba Tak Lekang Ditelan Zaman

Sebagai warisan budaya, Aksara Batak Toba diperkenalkan kepada generasi muda (khususnya pelajar) sebagai pelajaran Muatan Lokal.

TRIBUN MEDAN/TRULY OKTO PURBA
SEORANG siswa SMA HKBP Sidorame Medan sedang mengerjakan tugas Aksara Batak Toba di buku pelajarannya. Sebagai warisan budaya, Aksara Batak Toba diperkenalkan kepada generasi muda (khususnya pelajar) sebagai pelajaran Muatan Lokal. 

Etnis Batak Toba adalah salah satu suku bangsa besar di Indonesia. Etnis ini mendiami sebagian besar wilayah Sumatra Utara. Sebagai suku bangsa besar, Batak Toba mewariskan budaya yang kaya dan agung, satu diantaranya adalah aksara. Sebagai warisan budaya, Aksara Batak Toba diperkenalkan kepada generasi muda (khususnya pelajar) sebagai pelajaran Muatan Lokal (Mulok). Lewat pelajaran ini, institusi pendidikan diharapkan tampil sebagai reksa (penjaga) warisan budaya agar Aksara Batak Toba tetap lestari. Bagaimana institusi pendidikan di Sumatra Utara, khususnya Medan menjalankan peran ini? Berikut kisahnya.

***

JEREMIA Sihotang (16) membuka aplikasi WhatsApp ketika suara kecil yang menandakan ada pesan masuk berbunyi di ponselnya. Sebuah pesan dari Tiar Simanjuntak, guru mata pelajaran Aksara Batak Toba di sekolahnya terkirim ke grup mata pelajaran. Pesan tersebut adalah tugas mulok Aksara Batak Toba yang harus dikerjakan siswa pagi itu, Senin (15/2/2021).

Pandemi Covid-19 yang belum tuntas membuat Jeremia dan ratusan temannya harus melaksanakan belajar secara daring (online) dari rumah. Kombinasi Google Class Room (GCR) dan WhatsApp (WA) pun menjadi pilihan guru-gurunya di sekolah ketika memberikan pembelajaran daring.

Jeremia tak sendiri, di sebelahnya ada Gunawan Gaurifa (16), teman sekolahnya. Bukan sekali dua kali Gunawan belajar Aksara Batak Toba bersama Jeremia di rumah Jeremia. Latar belakang kesukuannya yang merupakan etnis Nias menjadi alasan baginya untuk sering belajar bersama.

“Jeremia fasih menulis dan membaca Aksara Batak Toba, orang Batak pula. Sedangkan saya orang Nias, tidak secepat Jeremia belajarnya,” kata Gunawan.

Keduanya mengambil buku tulis dan pulpen dari dalam tas. Mereka menyalin lima soal yang dikirimkan guru. Ke-5 soal tersebut berbentuk kalimat dalam bahasa Batak Toba. Sesuai instruksi guru, mereka diminta mengubah kalimat Bahasa Batak tersebut ke aksara Batak Toba.

Jeremia tampak tidak kesulitan mengerjakan tugas. Tangan kanannya begitu cekatan mengombinasikan induk surat dan enam anak surat hingga menjadi aksara Batak Toba yang sempurna. Tak sampai 30 menit, Jeremia tuntas menyelesaikannya. Di sebelahnya, Gunawan baru menyelesaikan setengah. Sesekali Jeremia mengoreksi jawaban Gunawan yang salah dan memperbaikinya dengan jawaban yang benar. Sepuluh menit kemudian, Gunawan tuntas mengerjakan tugas tersebut.

Jeremia dan Gunawan adalah siswa kelas XII SMA HKBP Sidorame kecamatan Medan Perjuangan, kota Medan. Di sekolah yang berada dalam naungan gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) tersebut, Aksara Batak Toba menjadi mata pelajaran yang masuk dalam Muatan Lokal (Mulok) dan diajarkan ke seluruh siswa.

Dibandingkan Gunawan yang baru belajar aksara Batak Toba setelah bersekolah di SMA HKBP Sidorame, Medan, Jeremia sudah belajar lebih lama. Bersekolah di SD Negeri 173477 Desa Tukka Dolok, kecamatan Pakkat, kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara, Jeremia sudah belajar aksara Batak Toba mulai dari kelas IV. Namun, saat itu, aksara Batak Toba hanya dikenalkan dalam bentuk nyanyian dan percakapan saja.

Halaman
1234
Penulis: Truly Okto Hasudungan Purba
Editor: Juang Naibaho
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved