Breaking News:

Ngopi Sore

Mobil Esemka Itu Bukan Mitos, Saudara-saudara, Om Fitra Eri Membuktikannya

Esemka, pendek kata, dianggap tidak ada. Dianggap mitos saja. Seperti Kuntilanak, tuyul, Babi Ngepet, atau Rajawali raksasa tunggangan Brama Kumbara

YouTube
Tangkapan gambar Fitra Eri dalam review Esemka Bima 1.3 di YouTube 

Ada banyak misteri di Indonesia menyangkut pertanyaan-pertanyaan yang sampai sekarang belum terpecahkan. Misalnya, apakah mengantongi batu memang manjur untuk menahan berak, atau kenapa menabrak kucing akan selalu mendatangkan kesialan, atau benarkah Ningsih Tinampi sungguh dapat bercakap-cakap dengan dedemit, dan masih banyak lagi.

Di antara pertanyaan-pertanyaan ini, terselip satu pertanyaan lain, yang lantaran begitu misteriusnya hingga nyaris disetarakan dengan mitos. Apakah mobil Esemka benar-benar ada?

Bagi saudara-saudara sekalian yang tidak sekilas pintas mengikuti jungkir-balik politik nasional sejak orang Solo bernama Joko Widodo melejit namanya ke pentas nasional, tentu, nama Esemka ini akan segera terasa tidak asing. Iya, Esemka. Mestinya dibaca sebagai 'Es', 'Em', 'Ka'. Huruf-huruf yang dilafalkan lantaran pada dasarnya ia berasal dari singkatan 'S', 'M', 'K'; Sekolah Menengah Kejuruan.

Bingung? Saudara-saudara penggemar BTS yang kemarin merecoki akun-akun media sosial Ariana Grande karena kesal kalah di ajang Grammy Award, pastinya memang akan bingung. Pengetahuan mereka tidak sampai ke sana.

Mereka hapal luar kepala warna-warna celana dalam favorit Jungkook, atau merek eye linear atau  alas bedak atau pemulas bibir apa yang dipakai Jimin dan Suga, tetapi barangkali memang tidak tahu bahwa Joko Widodo, saat masih menjadi wali kota di Solo, pernah dengan gegap gempita mengumumkan keberhasilan anak-anak SMK jurusan otomotif di Trucuk, Klaten, Jawa Tengah, merakit mobil.

Anak-anak ini, sebagian kelas 2 sebagian lagi kelas tiga, tak memerlukan jenius setengah gila sebangsa Elon Musk, atau aristokrat ambisius macam Harald von Koenigsegg untuk melakukannya. Cukup Haji Sukiyat, pemilik sebuah bengkel nonpabrikan yang diberi nama sesuai namanya, Kiat.

Apakah mereka saat itu benar-benar membuat mobil? Tentu saja tidak. Fisiknya memang menyerupai mobil. Menyerupai SUV. Namun secara umum tidak lebih dari sekadar "makhluk jadi-jadian".

Seperti Frankenstein, ia hasil comotan sana-sini. Badan mobil yang sekilas mirip Toyota Prado atau bisa juga Ford Everest (atau bisa jadi kombinasi keduanya), dibentuk dari badan mobil berjenis sedan yang diketok sana-sini. Mesinnya sebagian berasal dari Toyota Kijang.

Sama sekali tidak ada maksud Haji Sukiyat untuk menyaingi Hendri Ford atau Enzo Ferrari. Walau mengakui sempat bercita-cita membuka pabrik mobil, tujuan awal Sukiyat hanya membantu anak-anak SMK Trucuk ini berpraktek. Namun Frankenstein rakitan mereka kemudian mendapatkan takdir yang tak disangka-sangka. Mendadak terkenal seantero Indonesia setelah keberadaannya sampai ke telinga Jokowi, yang lantas, setelah menyambangi Bengkel Kiat, langsung memesan dua unit untuk dipakai sebagai kendaraan dinas Wali Kota dan Wakil Wali Kota Solo.

Tak berhenti sampai di situ, Jokowi juga mengusulkan kepada pemerintah pusat untuk memulai kembali proyek mobil nasional. Premisnya, kalau siswa SMK saja bisa, berarti Indonesia pada dasarnya punya kemampuan untuk memproduksi mobil sendiri.

Halaman
12
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved