Dampak Erupsi, Lahan Pertanian Rusak Terpapar Abu, Petani : Sudah Enggak Ada Yang Mau Beli
Dirinya mengatakan, saat tiba di ladang dirinya sudah lemas melihat tanaman cabai dan kentang miliknya sudah rusak.
Penulis: Muhammad Nasrul | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN-MEDAN.com, NAMANTERAN - Akibat perasaan erupsi dan awan panas dari Gunung Sinabung yang terjadi pada Minggu (6/6/2021) kemarin, sejumlah wilayah di Kecamatan Namanteran terpapar abu vulkanik dan kerikil.
Selain pemukiman warga, dampak ini juga terjadi di sejumlah lahan pertanian milik masyarakat di Kecamatan Namanteran.
Amatan www.tribun-medan.com, di perladangan yang ada di kawasan perladangan yang terlihat cukup parah terdampak berada di Desa Kutarayat, Kecamatan Namanteran. Di sini, tampak tanaman seperti cabai, tomat, dan kentang hampir sebagian besar tertutupi oleh abu vulkanik.
Bahkan, di bagian bawahnya tampak masih ada sisa bebatuan berukuran kecil yang mengendap hingga menutupi tanah yang ada di sela-sela tanaman ini.
Baca juga: Penyakit Autoimun Ashanty Belum Sembuh, Istri Anang Malah Didiagnosa Idap Penyakit Lain
Tanaman yang biasa terlihat segar, kini sudah tampak tertutupi oleh debu sisa dari aktivitas erupsi.

Seorang petani di kawasan ini Nur Liana bru Ginting, mengungkapkan pascaerupsi yang terjadi kemarin lahan pertaniannya sudah seluruhnya tertutupi oleh abu vulkanik.
Dirinya mengatakan, saat tiba di ladang dirinya sudah lemas melihat tanaman cabai dan kentang miliknya sudah rusak.
"Keadaannya seperti ini lah sekarang, tanaman kita sudah semuanya rusak. Sudah semuanya habis tertutup abu," ujar Nur Liana, Selasa (8/6/2021).
Nur Liana menjelaskan, tanaman cabai miliknya ini masih beberapa persen yang sudah bisa dipanen. Namun, karena kondisinya sudah tertutup abu seperti ini maka hanya kemungkinan kecil bisa dipanen.
"Gimana lagi mau dipanen sudah rusak, yang ada enggak mau orang beli," katanya.
Ketika ditanya perihal dampak akibat abu ini, Dirinya mengatakan jika biasanya dari lahan miliknya bisa menghasilkan 300 kilogram cabai, maka kini diperkirakan hanya bisa 20 kilogram saja yang bisa dipanen.
Baca juga: Digugat Warga, Pemkab Karo Siapkan Pembuatan Sistem Komunikasi Informasi Bencana
Dengan hal ini, tentunya dirinya sudah dapat dipastikan akan mengalami kerugian karena modal yang sudah dikeluarkan tentunya akan tidak bisa dikembalikan lagi.
"Aku enggak tau lagi lah, ini sudah bisa dibilang rusak semua," ucapnya.
Lebih lanjut, dirinya mengatakan jika untuk modal melakukan penanaman tanaman ini dirinya sudah berhutang.
Untuk itu, dengan kerugian ini tentunya akan membawa dampak ke depan apakah masih bisa menanam modal kembali dan mengembalikan hutang sebelumnya.
(cr4/tribun-medan.com)