Kedai Tok Awang
Saat-saat yang Bikin Berdebar
Di laga terakhir babak grup ini tentu semua tim yang masih memiliki peluang akan berjuang sampai "titik darah penghabisan"
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
"Tapi, Tok, apa enggak sudah lolos itu Belgia mainkan cadangan-cadangannya?" tanya Ane Selwa.
Pertanyaan ini dijawab Wak Razoki. "Ne, walau pun Belgia nanti mainkan cadangannya semua, tetap menang orang itu. Enggak imbang. Udah jago kali, lah, Finlandia kalok bisa seri aja."
Lek Tuman agaknya belum puas atas jawaban Wak Razoki. "Eh, Wak Razoki jangan lupa. Nanti mainnya bukan di Belgia, tapi di kandang Finlandia. Ingat uwak Perancis semalam? Enggak ada yang jagokan Hungaria. Besar kali pun dikasih voor. Kenyataannya, Perancis hampir kenak letup."
"Ah, Perancis itu terlalu percaya diri. Jadi sok! Merasa sudah di atas angin mentang-mentang favorit nomor satu. Pas nengok Hungaria main kayak gitu, dan penontonnya juga banyak kali, baru terkejut. Untung tak kalah. Nah, kalok Belgia lain, Pak Kep. Dari awal turnamen mereka justru diragukan. Pemain pun jadi ada motivasi untuk membuktikan diri. Termasuk cadangan-cadangannya," ujar Wak Razoki.
Katakanlah begitu. Berarti, angin mengarah ke Rusia dan Denmark. Persisnya, bertiup relatif kencang ke Rusia dan cenderung sepoi ke Denmark. Bagi Denmark, pukulan atas musibah yang dialami sang playmaker memang terlalu keras. Sebelum masuk ke arena pertarungan Euro 2020, sejumlah skenario dan kemungkinan telah dipikirkan dan disiapkan, dan mereka sama sekali tidak siap bermain tanpa Christian Erikksen. Cadangan bagi Erikksen pastinya ada. Namun persoalannya adalah cara Erikssen menepi. Bukan cedera, bukan strategi, tapi situasi antara hidup dan mati.
Laga kontra Belgia semestinya dapat menjadi momentum kebangkitan. Sayangnya, mereka tetap tertekan, dan akhirnya kalah lagi. Apakah sekarang mereka bisa memanfaatkan peluang yang lebih kecil –bahkan sangat-sangat kecil– ini?
"Rusia enggak akan kasih kendor," kata Jek Buntal. "Ini soal marwah. Setidaknya kalok pun nanti gugur enggak di babak awal. Enggak malu-malu kali."
Terlepas dari marwah atau alasan lain yang sifatnya mirip, di laga terakhir babak grup ini tentu semua tim yang masih memiliki peluang akan berjuang sampai "titik darah penghabisan". Spartan sampai wasit meniupkan pluit tanda laga berakhir. Di Grup C, Ukraina dan Austria betul-betul bersaing sangat keras. Nilai mereka sama, selisih gol pun sama. Jika Ukraina ditempatkan di atas Austria, maka ini dikarenakan agresivitas gol mereka kala berhadapan dengan pimpinan klasemen Belanda. Austria gagal mencetak gol dan kebobolan dua kali, sebaliknya Ukraina mampu menyerangkan dua gol meski di sisi lain tiga kali jala gawang mereka digetarkan. Alasan lain, fairplay. Ukraina mendapatkan kartu kuning lebih sedikit (dua berbanding tiga).
"Kalok secara teknis imbang-imbang, lah, orang ini. Pemain-pemainnya pun rata-rata air. Enggak ada bintang yang terlalu menonjol. Lebih mengandalkan permainan kolektif," ujar Lek Tuman.
"Iya, memang imbang kekuatan, tapi aku agak lebih soor ke Ukraina," kata Tok Awang yang akhirnya memenangkan pertarungan dengan Wak Razoki. "Bukan karena pelatihnya Shevchenko, ya. Tapi dibanding Austria, kulihat Ukraina ini lebih tajam dan cepat. Enggak gampang nyerah juga. Ingat kelen pada lawan Belanda? Udah ketinggalan dua kosong, masih bisa dikejar orang itu. Karena sial aja akhirnya jadi kalah. Padahal tinggal lima menit lagi kalok tak silap pertandingannya, eh, malah kebobolan. Cumak hasil itu kayaknya kemudian jadi pelajaran bagi Shevchenko. Waktu lawan Makedonia lebih hati-hati mereka main," ujarnya.
Sudung, Jek Buntal, Ane Selwa dan Wak Razoki, bergantian memberikan analisis dan perkiraan. Hanya Jontra Polta yang diam. Ocik Nensi yang sedang menonton sinetron lepas berjudul 'Penjual Jamu Tampan Masuk TV dan Jadi Artis tapi Kemudian Lupa Anak Bini', menegurnya.
"Cemana, Jon, udah kau pikirkan lagi tawaran Si Sela tadi? Jangan lama-lama kau, nanti disambar orang."
Jontra Polta menggeleng. "Sorry, lah, Cik. Awak tak minat. Kalok ditawari jadi calon lakiknya tadi baru awak mau."
"Teringatku, kan, Cik, udah lama juga tante itu menjanda, kan? Apa memang enggak ada rencana dia cari lakik baru?” tanya Sudung pula.
Ocik Nensi menggeleng. "Nantilah ocik tanyakan. Cumak dari sekarang ocik kasih tahu, kalau pun iya, siap-siap, lah, kelen bersaing sama Wak Razoki. Gitu, kan, orang tua?"
Wak Razoki yang sedang menyeruput kopi tersedak. Lalu batuk-batuk. "Eh, kok, aku pulak," katanya di sela-sela batuk. "Hati-hati bercakap, Cik. Jangan sebar fitnah. Dosa. Ini, lah, jadinya kalok keseringan nonton Ikatan Cinta." (t agus khaidir)
Pernah dimuat di Tribun Medan
Senin, 21 Juni 2021
Halaman 1
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/kombo-bola.jpg)