Sejarah Istana Maimun dan Sultan Deli XIV, Sempat Ditempati 4 Sultan Melayu
Ia bekerja juga sebagai Konijnlijk Nederlands-Indische Leger (KNIL), atau tentara Kerajaan Hindia-Belanda.
Dirinya menyebutkan, awal mula meriam puntung ini bermula dari cerita Putri Hijau yang terlahir Desa Seberaya, dekat hulu Sungai Petani (Sungai Deli).
Dalam cerita itu disebutkan Sang Puteri memiliki dua saudara kembar, Mambang Yazid dan Mambang Khayali.
Mambang Yazid dapat menjelma menjadi seekor naga yang disebut Ular Simangombus.
Sedangkan Mambang Khayali bisa berubah menjadi meriam yang kemudian dikenal dengan sebutan Meriam Puntung.
"Jadi si putri ini mau dilamar sama anak raja, tapi si putri minta syarat sama anak raja harus memberi makan salah satu turangnya (saudaranya) hati lembu setiap hari. Tapi kan lama kelamaan jadi habis, karena itu dia pergi ke Hamparan Perak," ujar Maslela.
Dirinya mengungkapkan, setibanya di Hamparan Perak sang putripun dijemput oleh seorang pria kerajaan yang berasal dari Aceh.
Baca juga: Sibea-Bea, Tempat Wisata Hits dengan Pemandangan Danau Toba, Banyak Spot Foto Instragamable
Melihat sang kecantikan sang putri, pria tersebut langsung jatuh hati dan ingin mempersuntingnya.
Namun sayang, lamaran itu ditolak oleh sang putri, kemudian Sultan Aceh pun murka.
Ia merasa diri dan kerajaannya dihina, kemudian menurunkan bala tentara dan membombardir Kesultanan Deli.
"Sultan Aceh itu yang jemput putri, tapi enggak mau dia. Terus dibikinnya peluru dari emas sama perak, saudara si putri (Mambang Khayali) juga berubah menjadi meriam nembaki orang Aceh itu juga," ungkapnya.
Pada saat pertempuran keduanya, Mambang Khayali terus melontarkan mortar ke pasukan Aceh.
Lama kelamaan meriam itu menjadi panas, kemudian meledak dan terpecah.
Menurut informasi, sebagian besar meriam tersebut terlontar ke Labuhan Deli dan kini telah disimpan di Istana Maimoon.
Baca juga: Keluar Masuk Kabupaten Batubara Wajib Divaksin dan Menggunakan Aplikasi Peduli Lindungi
Sedangkan bagian lainnya yang berupa moncong meriam, tercampak ke Desa Sukanalu.
"Kalau cerita dari nenek-nenek kami katanya si meriam itu haus, tapi tunggu sebentar lagi karena sudah akan menang. Tapi karena terus dipaksa akhirnya pecah meriamnya," katanya.
Ada satu kebiasaan bagi pengunjung yang datang. Mereka biasanya diminta untuk mengangkat meriam itu.
Masyarakat percaya, hanya orang yang tulus saja yang bisa mengangkat meriam ini.
(mft/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/18032020_istana_maimun_ditutup_danil_siregar.jpg)