Breaking News:

Berita Sumut

Sidang Kerangkeng Manusia di Langkat, Saksi Akui Dipukul Pakai Selang dan Dipekerjakan Tanpa Dibayar

Saksi Budi Harta Sinulingga sebut selama menjalani rehabilitasi di kerangkeng pernah dipukul. Setelah itu dipekerjakan tanpa dibayar.

Tribun Medan/Muhammad Anil Rasyid
Saksi Budi Harta Sinulingga saat menunjukkan bekas pukulan selang di bagian belakang tubuhnya di ruang sidang Pengadilan Negeri Stabat, Rabu (7/9/2022). Pukulan diterima saat berada di dalam kerangkeng Bupati Langkat nonaktif, Terbit Rencana Perangin-Angin. 

TRIBUN-MEDAN.com, LANGKAT - Persidangan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) pada kasus kerangkeng manusia milik Bupati Langkat nonaktif Terbit Rencana Peranginangin kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Stabat, Kabupaten Langkat, Rabu (7/9/2022).

Adapun Keempat terdakwa yang menjalani persidangan TPPO ini adalah Terang Ukur Sembiring alias Terang, Junalista Surbakti, Suparman Peranginangin dan Rajisman Ginting alias Rajes Ginting.

Salah satu saksi yang dihadirkan dalam persidangan tersebut yakni Budi Harta Sinulingga. Sebelumnya saksi merupakan pecandu narkoba yang sempat dikurung di kerangkeng milik Terbit Rencana Peranginangin.

Baca juga: LPSK Hadirkan Saksi, Personel Brimob Bersenjata Bersiaga di Depan Ruang Sidang Kerangkeng Maut

"Satu tahun lebih saya di dalam kereng (kerangkeng) karena pecandu narkoba. Saya keluar karena sudah mencapai waktunya, dan saya sudah ada perubahan," saksi Budi Harta Sinulingga dihadapan ketua majelis hakim, Halida Rahardhini, Rabu.

Lanjut Budi, selain di kerangkeng, dirinya mengaku juga dipekerjakan di pabrik kelapa sawit milik Terbit Rencana Peranginangin.

Budi Harta Tunjukkan Sikap Tobat di PN Stabat
Saksi Budi Harta Sinulingga memperagakan sikap taubat di dalam ruang sidang Pengadilan Negeri (PN) Stabat, Rabu (7/9/2022).  

"Sekitar satu bulan di dalam kereng (kerangkeng) baru boleh kerja di pabrik. Kemauan pribadi saya sendiri mau kerja ke pabrik, kerja dari pukul 08.00 WIB hingga pukul 18.00 WIB. Saya kerja dibagian sortasi. Tidak ada shift malam," ujar Budi. 

Budi pun menuturkan, jika ia selama bekerja di pabrik tidak pernah menerima gaji. 

"Tidak pernah dikasih uang atau gaji, hanya dikasih puding dua butir telur seminggu sekali. Kami gak keberatan jika tidak digaji, karena di kerangkeng kami gak bayar uang makan," ujar Budi.

Ia pun mengetahui, jika pabrik tersebut milik Bupati Langkat nonaktif.

Namun, Budi menambahkan jika selain di pabrik, dirinya juga pernah kerja di rumah milik Bupati Langkat nonaktif.

"Pernah kerja di rumah Pak Terbit. Pada saat itu membuat parit dan mengecor. Berbulan juga waktu itu pengerjaannya. Membangun garasi mobil juga pernah, membangun teras rumah Pak Bupati. Tidak ada dikasih gaji," ujar Budi. 

Sedangkan itu, ketua majelis hakim bertanya bagaimana dirinya pergi ke pabrik. Budi menjelaskan, dirinya diantar oleh terdakwa Terang Ukur Sembiring.

"Ke pabrik kadang naik mobil Colt Diesel, dan double cabin, yang dibawa Bang Terang. Ada orang lain kerja di dalam pabrik, tidak tau dapat gaji atau tidak," ujar Budi. 

Baca juga: Sidang TPPO Kerangkeng Bupati Langkat Nonaktif Ditunda, Saksi Berhalang Hadir dan Trauma

"Saya enam bulan kerja, tiap hari kerja kecuali sakit. Liburnya saat Idul fitri, dan hari raya besar lainnya. Boleh menolak kerja jika ada alasan, kalau menolak bisa diselang bisa push up," sambungnya. 

Halaman
12
Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved