In Memoriam Nano Riantiarno
Kebahagiaan Itu akan Tetap Koma, Maestro, tak Berubah Jadi Titik
Tiap pementasan Teater Koma selalu diawasi aparat. Intel-intel tentara, intel polisi, juga para pegawai pemerintahan memelototi pertunjukan dari menit
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
Kemudian, dialog. Riantiarno menjadikan dialog-dialog dalam lakon Teater Koma lebih ringan dan mudah dipahami tanpa perlu berlama-lama menyergitkan kening. Ada selipan lelucon di sana-sini.
Awalnya, tentu saja, Teater Koma dicibir kalangan kritikus. Riantiarno disebut telah menafikan menghinakan teater dengan menurunkan derajatnya menjadi setara dengan pertunjukan sandiwara rakyat di pentas-pentas ala 17 Agustusan di pelosok kampung.
Sejumlah seniman muda membela Riantiarno. Satu di antaranya Putu Wijaya. Namun begitu, Putu tetap melontar kritik. Dalam tulisannya di Tempo, 27 April 1978, Putu Wijaya [analisis pertunjukan berjudul 'Maaf, Maaf, Maaf' yang dipentaskan 12-16 April 1978] menyebut apa yang dilakukan Riantiarno adalah "kesintingan yang tanggung".
Riantiarno tak peduli. Ia justru mengakui bahwa filosofi dasar Teater Koma memang berangkat dari pertunjukan rakyat; teater rakyat dan kesenian tradisi. Dua tahun sebelum mendidikan Teater Koma pada 1 Maret 1977, Riantiarno sempat berkeliling ke sejumlah daerah di Indonesia untuk menonton dan mempelajari pertunjukan-pertunjukan di panggung rakyat.
Bilangnya, "Setujukah Anda jika ada yang menghakimi seni jalanan kurang mutunya dibanding seni adiluhung di keraton atau seni modern? Setuju jika ada yang menyatakan Srimulat lebih rendah mutu seninya dibanding Rendra? Saya tidak. Lagi pula, saya berkesenian bukan untuk para kritikus. Saya berkesenian untuk kebahagiaan. Kebahagiaan saya, kebahagiaan anggota teater saya dan keluarganya, dan kebahagiaan orang-orang yang menonton pertunjukan kami."
Keinginan Riantiarno terwujud. Pertunjukan Teater Koma selalu jadi tontonan laris. Kursi-kursi di gedung-gedung di mana pertunjukan digelar, entah di gedung pertunjukan seni atau bahkan di ballroom hotel berbintang, tidak pernah kosong. Pengawasan dan pencekalan dari rezim Orde Baru malah menjadi promosi positif bagi mereka.

Lantas kenapa memilih nama Koma? Koma adalah tanda baca, dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu pemerincian atau pembilangan; dipakai sebelum kata penghubung; dipakai untuk memisahkan anak kalimat yang mendahului induk kalimatnya; dan tak kurang sepuluh pengertian dan mekanisme penempatan lainnya sebagaimana diatur dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI).
Di luar semuanya, satu pemahaman yang lebih umum adalah bahwa jika menemukan koma (,) maka itu menunjukkan kalimat belum berakhir.
Nama 'Koma' konon diusulkan Nano Riantiarno sendiri. Jim Barry Aditya, anggota awal Teater Koma, menyebut Riantiaro menginginkan kelompok mereka terus bergerak dan berkarya, tanpa henti, tak mengenal titik.
Hari ini, Jumat 20 Januari 2023, Nobertus Riantiarno, begitu nama lahirnya, meninggal dunia di Jakarta. Setahun terakhir kondisi kesehatannya memang terus memburuk. Berawal dari tumor yang bersarang di kakinya, cairan kemudian merembet ke paru-paru. Ia juga memiliki masalah pada jantung.
Apakah kepergian Nano Riantiarno membuat tanda koma itu berubah menjadi titik? Perihal Teater Koma, tentu, hanya mereka yang bisa menjawab. Namun perihal kebahagiaan rasa-rasanya bisa langsung dijawab. Tidak, kebahagiaan itu akan terus menjadi koma, akan terus terkenang-kenang sampai kapan pun.(t agus khaidir)
Nano Riantiarno
Norbertus Riantiarno
Nano Riantiarno meninggal dunia
Teater Koma
Pendiri Teater Koma
Murkanya Presiden Prabowo, Driver Ojol Affan Tewas Dilindas Baracuda Brimob, Umar Dipukuli Aparat |
![]() |
---|
Personel Satlantas Polres Sibolga Turun ke Jalan, Amankan Arus Lalu Lintas saat Salat Jumat |
![]() |
---|
Polwan Polda Sumut Gelar Ziarah ke Taman Makam Pahlawan dalam Rangka Hari Jadi ke-77 |
![]() |
---|
Sat Lantas Polres Simalungun Gencar Gelar Penyuluhan Keliling, Edukasi Tertib Lalu Lintas |
![]() |
---|
DEMO Ricuh, Anggota DPR WHF hingga Pakai Pelat Sipil, Ahmad Sahroni: Pulang Ribet,Ke Mana-Mana Susah |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.