In Memoriam Nano Riantiarno

Kebahagiaan Itu akan Tetap Koma, Maestro, tak Berubah Jadi Titik

Tiap pementasan Teater Koma selalu diawasi aparat. Intel-intel tentara, intel polisi, juga para pegawai pemerintahan memelototi pertunjukan dari menit

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
Instagram Teater Koma
Nano Riantiarno (depan) saat tampil dalam satu lakon pertunjukan di Jakarta beberapa waktu lalu. Pendiri Teater Koma ini meninggal dunia dalam usia 73 tahun. 

Kemudian, dialog. Riantiarno menjadikan dialog-dialog dalam lakon Teater Koma lebih ringan dan mudah dipahami tanpa perlu berlama-lama menyergitkan kening. Ada selipan lelucon di sana-sini.

Awalnya, tentu saja, Teater Koma dicibir kalangan kritikus. Riantiarno disebut telah menafikan menghinakan teater dengan menurunkan derajatnya menjadi setara dengan pertunjukan sandiwara rakyat di pentas-pentas ala 17 Agustusan di pelosok kampung.

Sejumlah seniman muda membela Riantiarno. Satu di antaranya Putu Wijaya. Namun begitu, Putu tetap melontar kritik. Dalam tulisannya di Tempo, 27 April 1978, Putu Wijaya [analisis pertunjukan berjudul 'Maaf, Maaf, Maaf' yang dipentaskan 12-16 April 1978] menyebut apa yang dilakukan Riantiarno adalah "kesintingan yang tanggung".

Riantiarno tak peduli. Ia justru mengakui bahwa filosofi dasar Teater Koma memang berangkat dari pertunjukan rakyat; teater rakyat dan kesenian tradisi. Dua tahun sebelum mendidikan Teater Koma pada 1 Maret 1977, Riantiarno sempat berkeliling ke sejumlah daerah di Indonesia untuk menonton dan mempelajari pertunjukan-pertunjukan di panggung rakyat.

Bilangnya, "Setujukah Anda jika ada yang menghakimi seni jalanan kurang mutunya dibanding seni adiluhung di keraton atau seni modern? Setuju jika ada yang menyatakan Srimulat lebih rendah mutu seninya dibanding Rendra? Saya tidak. Lagi pula, saya berkesenian bukan untuk para kritikus. Saya berkesenian untuk kebahagiaan. Kebahagiaan saya, kebahagiaan anggota teater saya dan keluarganya, dan kebahagiaan orang-orang yang menonton pertunjukan kami."

Keinginan Riantiarno terwujud. Pertunjukan Teater Koma selalu jadi tontonan laris. Kursi-kursi di gedung-gedung di mana pertunjukan digelar, entah di gedung pertunjukan seni atau bahkan di ballroom hotel berbintang, tidak pernah kosong. Pengawasan dan pencekalan dari rezim Orde Baru malah menjadi promosi positif bagi mereka.

Para pelakon Teater Koma berpose untuk satu lakon pertunjukan yang digelar di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Para pelakon Teater Koma berpose untuk satu lakon pertunjukan yang digelar di Jakarta, beberapa waktu lalu. (Instagram Teater Koma)


Lantas kenapa memilih nama Koma? Koma adalah tanda baca, dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu pemerincian atau pembilangan; dipakai sebelum kata penghubung; dipakai untuk memisahkan anak kalimat yang mendahului induk kalimatnya; dan tak kurang sepuluh pengertian dan mekanisme penempatan lainnya sebagaimana diatur dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI).

Di luar semuanya, satu pemahaman yang lebih umum adalah bahwa jika menemukan koma (,) maka itu menunjukkan kalimat belum berakhir.

Nama 'Koma' konon diusulkan Nano Riantiarno sendiri. Jim Barry Aditya, anggota awal Teater Koma, menyebut Riantiaro menginginkan kelompok mereka terus bergerak dan berkarya, tanpa henti, tak mengenal titik.

Hari ini, Jumat 20 Januari 2023, Nobertus Riantiarno, begitu nama lahirnya, meninggal dunia di Jakarta. Setahun terakhir kondisi kesehatannya memang terus memburuk. Berawal dari tumor yang bersarang di kakinya, cairan kemudian merembet ke paru-paru. Ia juga memiliki masalah pada jantung.

Apakah kepergian Nano Riantiarno membuat tanda koma itu berubah menjadi titik? Perihal Teater Koma, tentu, hanya mereka yang bisa menjawab. Namun perihal kebahagiaan rasa-rasanya bisa langsung dijawab. Tidak, kebahagiaan itu akan terus menjadi koma, akan terus terkenang-kenang sampai kapan pun.(t agus khaidir)

Sumber: Tribun Medan
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved